Teladani Semangat Pahlawan - JuaraNews Inspirasi Semangat Muda

Hot News


JN-TAM

Inspirasi


  • Dirgahayu Sat Linmas ke-58
    Dirgahayu Sat Linmas ke-58

    NEGARA Republik Indonesia lahir melalui perjuangan bangsa dan pahlawannya yang melepaskan diri dari penjajahan dan sejajar dengan bangsa di dunia.

    Teladani Semangat Pahlawan
    net

    Teladani Semangat Pahlawan

    • Minggu, 10 November 2019 | 14:03:00 WIB
    • 0 Komentar

    HARI Minggu (10/11/2019) ini bangsa Indonesia memeringati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November mencatat peristiwa besar.

     

    Untuk pertama kalinya sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 milisi nasionalis Indonesia melancarkan perlawanan bersenjata dalam skala besar untuk menghalau pasukan Belanda, yang mendompleng pasukan Sekutu, dari Surabaya.

     

    Pada 10 November 1945 terjadi peristiwa hebat dimana berlangsung satu konfrontasi di Surabaya pada arek-arek Suroboyo (anak anak Surabaya) melawan serdadu NICA. Sumarsono selaku mantan dari gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) juga turut andil dalam peristiwa itu. Sumarsono lah yang memberi usul pada Presiden Soekarno untuk mewujudkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

     

    Peristiwa peperangan yang berlangsung di Kota Pahlawan itu jadi legitimasi peran prajurit dalam usaha memerdekakan Indonesia. Menjadikan nilai kepahlawanan tercanang pada sebuah perjuangan untuk menghadapi agresi militer, dan guna memobilisasi kepahlawanan dengan militeristik.

     

    Latar belakang insiden ini terjadi ialah terdapat peristiwa Hotel Yamato Surabaya. Saat itu, masyarakat Belanda yang dipimpin oleh Mr Ploegman mengibarkan bendera Belanda di puncak Hotel Yamato. Hal tesebutlah yang membuat amarah warga di Surabaya pun naik. Hal itu dinilai sudah menghina kedaulatan bangsa Indonesia serta kemerdekaan Idonesia yang sudah diploklamirkan pada 17 Agustus 1945.

     

    Kemudian terjadilah peperangan antara warga Indonesia dengan para tentara Inggris pada 27 Oktober 1945. Beberapa serangan kecil kemudian menjadi besar yang hampir saja membuat tentara Inggris lumpuh, sebelum pada kelanjutannya Jenderal DC Hwthorn pun mengharapkan bantuan dari Ir Soekarno.

     

    Keadaan hari demi hari mulai reda seusai menandatangani gencatan senjata pada 29 Oktober 1945. Akan tetapi, bentrokan senjata masih saja terjadi. Bentrokan tersebut mencapai puncaknya saat pimpinan tentara Inggris untuk daerah Jawa Timur, Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh. Mobil yang dinaiki Mallaby berpapasan dengan kelompok milisi Indonesia. Karena sebuah kesalahpahaman, akhirnya terjadilah baku tembak yang kemudian membuat Mallaby tewas.

     

    Pada 10 November 1945 pagi hari, tentara Inggris melakukan aksi yang disebutnya sebagai Ricklef pada pojok-pojok kota Surabaya. Pertempuran yang mengerikan pun dibalas dengan pertahanan dari ribuah penduduk kota. Pasukan Inggris telah berhasil merebut kota dalam waktu 3 hari. Namun pertempuran benar-benar redam setelah 3 pekan.

     

    Memang tidak ada data akurat tentang jumlah pejuang kita yang gugur dalam peristiwa yang heroik itu. Namun diperkirakan lebih dari 6.000 rakyat gugur serta ribuan penduduk meninggalkan kota. Jumlah yang banyak sekali. Dan itu kata yang paling pas untuk menghitungnya. Karena nilai-nilai kepahlawanan memang tidak mengenal angka.

     

    Peringatan Hari Pahlawan ini kerap disikapi beragam oleh berbagai kalangan. Ada yang mengikuti upacara bendera yang dilakukan Presiden Joko Widodo yang memimpin peringatan Hari Pahlawan tingkat nasional tahun 2019 di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta, Minggu (10/11/2019). Ada pula yang menabur bunga di makam pahlawan, menggelar lilin renungan, atau sekadar memanjatkan doa, hingga sejumlah seremonial lainnya.

     

    Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pahlawan didefinisikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau sebagai pejuang yang gagah berani. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia sendiri diberikan kepada mereka yang berjasa kepada negara, dan mereka yang berjuang dalam proses untuk kemerdekaan.

     

    Jumlah Pahlawan Nasional ini tidak terlalu banyak, cuma -atau baru- 185 orang yang terdiri atas 170 pria dan 15 wanita. Terakhir gelar pahlawan nasional dianugerahkan pada 2019 ini kepada 6 tokoh. Penganugerahan gelar pahlawan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 120 TK Tahun 2019 tanggal 7 November 2019 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasioal.

     

    Keenam tokoh tersebut, yakni Abdoel Kahar Moezakir (anggota BPUPKI/PPKI), Alexander Andries (AA) Maramis (anggota BPUPKI/PPKI), KH Masykur (anggota BPUPKI/PPKI), Prof M Sardjito (dokter dan eks Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada), Ruhana Kudus (wartawan dan pendiri Sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang), Sultan Himayatuddin (Sultan Buton)

     

    Faktanya memang negeri ini tidak pernah kekurangan pahlawan. Begitu banyak saudara kita yang gugur dalam peperangan: lahir dan batin. Setelah penjajah hengkang, mereka berperang melawan kemiskinan, kebodohan, kemasabodohan dan keserakahan kekuasaan. 

     

    Kini, 74 tahun sejak 10 November 1945, semestinya  kita sudah memasuki tahap tinggal menikmati manisnya hasil perjuangan mereka yang rela berkorban dalam peristiwa bersejarah dan berdarah-darah itu. Tapi, apa lacur. Pengorbanan mereka nyaris sia-sia. Kita masih terjajah kalau 60% dari apa yang kita makan masih impor. Kita masih terbelenggu jika sebagian besar kekayaan negara dikuasai orang asing.

     

    Kita juga belum bisa bilang merdeka jika dalam beberapa hari menjelang peringatan Hari Pahlawan ini banyak saudara kita sedang yang harus berjuang mati-matian untuk menyambung hidup. Dan banyak anak-anak Indonesia yang tidak bisa mengenyam pendidikan layak karena tidak adanya biaya.

     

    “Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai dan menghormati jasa pahlawannya”. Setidaknya semangat para pahlawan ini bisa menginspirasi para generasi muda bangsa dalam membangun negeri ini.  

     

    Memang saat ini masyarakat Indonesia tidak lagi harus melawan penjajah seperti halnya para pahlawan zaman kemerdekaan dulu. Karena itu, sekarang tugas untuk para penerus bangsa ini adalah memberikan arti baru mengenai kepahlawanan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia. (*)

    Oleh: deni mulyana sasmita / den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Terkait
    Berita Lainnya
    Berdamai atau Hidup Tanpa Corona
    Jadi Pribadi yang Lebih Baik di Tahun Baru 2020
    Teloransi, Kebersamaan dalam Perbedaan
    Teladani Semangat Pahlawan
    Tahun Baru Hijriah, Pererat Silaturahmi Toleransi
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Liverpool 12 34
      2. Leicester City 12 26
      3. Chelsea 12 26
      4. Manchester City 12 25
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Persib Bandung 3 9
      2 Bali United 3 7
      3 PSIS Semarang 3 6