web stats service from statcounter

Hot News


  • Mahasiswa Bandung Demo Menolak Revisi UU KPK
    Mahasiswa Bandung Demo Menolak Revisi UU KPK
    • 17 September 2019 | 17:33:00 WIB

    PULUHAN mahasiswa yang tergabung dalam Poros Revolusi Mahasiswa Bandung melakukan unjukrasa menolak Revisi UU KPK di depan Gedung DPRD Jawa Barat.

Inspirasi


    Indahnya Sepak Bola
    net

    Indahnya Sepak Bola

    • Senin, 19 Oktober 2015 | 23:00:00 WIB
    • 0 Komentar

    PERSIB Bandung akhirnya tampil sebagai juara turnamen Piala Presiden 2015 setelah dalam final mengalahkan Sriwijaya FC yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan Jakarta, Minggu (18/10/2015) malam.

    Sungguh pertandingan yang sangat menarik. Kedua tim menyuguhkan permainan terbaiknya untuk mencapai prestasi tertinggi, dengan penuh sportivitas. Laga yang berakhir dengan skor 2-0 tersebut pun disambut antusiasnya masyarakat Indonesia. Laga pamungkas dalam turnamen yang digelar di tengah-tengah vakumnya kompetisi sepak bola nasional tersebut menyedot begitu besar perhatian stakeholder sepak bola nasional.

    Bukan hanya promotor turnamen, Mahaka Sportainments dan kedua tim finalis. laga ini membuat sibuk aparat keamanan dan pemerintah. Sampai-sampai Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian memberlakukan Jakarta Siaga 1 pada hari itu. Kapolda menerjunkan kekuatan penuh sebanyak 30 ribu personelnya, ditambah bantuan dari pasukan TNI, Kodam Jaya, dan Satpol PP Pemprov DKI Jakarta. Belum lagi, Polda Metro mendapat bantuan dari Polda asal kedua finalis, yakni Polda Jabar dan Polda Sumsel yang mengawal keberangkatan dan kepulangan suporter kedua tim.

    Pengamanan Ibu Kota yang super ketat layaknya keadaan darurat perang tersebut tak lepas dari kedatangan sekitar 50 ribu bobotoh ke stadion kebanggaan Indonesia berkapasitas 80 ribu penonton tersebut. Kedatangan bobotoh ke wilayah seteru mereka, The Jakmania dikhawatirkan memicu kerusuhan. Maklum perseteruan antara kelompok pendukung terbesar Persib, Viking dengan pendukung Persija Jakarta, The Jakmania, hingga saat ini belum berujung. Setiap kedua kelompok suporter ini bertemu pasti terjadi insiden. Begitu pula pada laga final kali ini, kendati bukan Persija yang dihadapi Persib di lapangan hijau.

    Pengamanan pun semakin ditingkatkan, dengan kehadiran Presiden RI, Joko Widodo di tribune kehormat untuk menyaksikan laga sekaligus memberikan trofi Piala Presiden kepada sang juara kali ini, Persib.

    Jokowi pun tidak datang sendirian, sederet pejabat hadir mendampinginya, seperti Menpora Imam Nahrawi. Keduanya duduk di tribune VVIP bersama 3 gubernur, yakni Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok sebagai tuan rumah, serta 2 gubernur asal kedua finalis yakni Gubernur Ahmad Heryawan dari Jabar asal klub Persib dan Gubernur Alex Noerdin dari Sumsel asal Sriwijaya FC. Selain itu ada 2 wali kota dari 2 kota asal finalis, yakni Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Wali Kota Palembang Harnojoyo.

    Heryawan dan Ridwan Kamil datang dengan bobotoh berwarna baju biru kebesaran Persib, sedangkan Alex bersama Harnojoyo mengenakan kaus khas SFC, sementara Ahok berkostum Persija. Tentu ini jadi pemandangan indah, sebagai simbol perdamaian di antara ketiga tim elite Tanah Air. Perdamaian ini pun sudah seharusnya dianut oleh semua stakeholder, khususnya para supporter.

    Sejauh ini, kendati sebelum laga digelar, terjadi sejumlah insiden pelemparan dan pengrusakan kendaraan oleh oknum yang mengatasnamakan suporter sepak bola, laga final berlangsung lancar, baik di dalam maupun di luar stadion. Dan para pendukung kedua tim bisa menonton pertandingan dengan tenang serta pulang ke daerahnya masing-masing dengan aman.

    Sepak bola di Indonesia nyatanya bukan hanya jadi urusan PSSI sebagai otoritas tertinggi sepak bola nasional atau Kemenpora yang membidangi urusan olahraga. Tapi menjadi konsern seluruh lapisan masyarakat, mulai dari Presiden sebagai institusi tertinggi, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat luas.

    Besarnya animo masyarakat, baik yang menyaksikan langsung di stadion maupun menonton siaran langsung di televisi atau dalam acara nonton bareng, membuktikan negeri ini butuh kompetisi sepak bola. Para pecinta olahraga sepak bola sudah sangat rindu menyaksikan permainan si kulit bundar di lapangan hijau. Hal itu pun terbukti dengan selalu penuhnya stadion yang mengelar laga dalam turnamen yang menggelar 58 laga dalam rentang waktu 50 hari tersebut.

    Rating televisi yang menyiarkan langsung pertandingan pun melambung tinggi, bahkan disebut-sebut laga final Persib versus Sriwijaya FC ini mencatat rekor rating tertinggi siaran televisi di Indonesia. Sebelumya partai Persib kontra Mitra Kukar di semifinal yang digelar di Stadion si Jalak Harupat, Soreang Kabupaten Bandung juga mencatat rekor rating sebesar 5,3 dengan share mencapai 25%.

    Selain menjadi hiburan murah meriah bagi masyarakat, kehadiran kompetisi sepak bola juga bisa menumbuhkan perekonomian Indonesia. Sudah sangat jelas, para pemain, staf dan ofisial mendapatkan penghasilan dari bergulirnya kompetisi. Seperti pada gelaran turnamen kali ini, sang juara Persib Bandung diguyur hadiah sebesar Rp3 miliar, sedangkan Sriwijaya sebagai runner-up sebesar Rp2 miliar. Sementara Arema Cronus yang tampil sebagai juara 3 setelah mengalahkan Mitra Kukar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar Bali kebagian Rp1 miliar dan Mitra Kukar Rp500 juta.

    Belum lagi modal awal di babak penyisihan serta match fee dan hak siar, yang total mencapai Rp1,2 miliar untuk masing-masing finalis. Bagi pemain berprestasi pun disediakan hadiah, yakni Rp200 juta untuk top skorer dan Rp100 juta untuk pemain terbaik, yang kali ini kedua gelar tersebut disabet Zulham Zamrun dari Persib, serta Rp300 untuk tim paling fair play untuk Sriwijaya FC.

    Tentunya ini sangat berarti bagi tim dan para pemain yang lebih kurang 2 bulan menganggur sejak kompetisi di Tanah Air dihentikan sebagai buntut perseteruan PSSI dan Kemenpora. Roda ekonomi masyarakat kecil pun berputar, seperti para pedagang makanan-minuman, merchandise di kota asal klub juga di stadion yang menjadi venue pertandingan.  Bahkan belanja iklan, baik di media massa maupun media luar ruang, pun meningkat.

    Di luar itu semua, sepak bola juga bisa menjadi media pemersatu bangsa. Para pendukung Persib yang notabene berasal dari Kota Bandung, misalnya, tidak hanya didukung oleh masyarakat Bandung dan sekitar, dari seluruh pelosok Jabar. Bahkan bukan hanya Jabar, pendukung menyebar di sejumlah kota di Tanah Air, termasuk di luar negeri. Begitu pula pendukung Sriwijaya FC yang tidak hanya datang dari Palembang tapi dari sejumlah kota/kabupaten di Sumsel.

    Karena itu tak elok rasanya jika sepak bola menjadi ajang permusuhan, seperti perseteruan antara Viking, pendukung fanatik Maung Bandung dengan The Jakmania, fans berat Persija Jakarta. Keberanian Mahaka dan pihak Kepolisian yang tetap berkeras menggelar laga grandfinal di SUGBK, patut diacungi jempol. Ini sebagai pembuktian bahwa pertandingan sepak bola di Indonesia, khususnya di Jakarta bisa berlangsung aman dan damai.

    Kekisruhan sepak bola nasional yang berujung sanksi FIFA ditambah dengan perseteruan suporter yang seakan tanpa ujung, tentu bakal semakin membuat sulit bangkitnya sepak bola Indonesia. Ujung-ujungnya tentu prestasi sepak bola Indonesia yang menjadi taruhan. Cita-cita sepak bola Indonesia menuju pentas dunia, terancam sirna. Kerinduan bangsa Indonesia untuk merasakan rumput lapangan Piala Dunia bisa jadi sebatas khayalan selama kita tak mampu dengan baik mengelola sepak bola di negeri sendiri.

    Semoga dengan berakhirnya turnamen Piala Presiden 2015, menjadi awal kebangkitan sepak bola nasional. Lancar dan damainya perhelatan turnamen yang diikuti 14 tim ISL dan 2 tim Divisi Utama Liga Indonesia tersebut, diharapkan menjadi embrio bagi bergulirnya kembali kompetisi, yang tentunya akan bisa kembali menumbuhkan prestasi sepak bola Tanah Air di kancah internasional.

    Sepak bola juga diharapkan kembali jadi media pemersatu bangsa. Seperti tujuan yang dicita-citakan para founding father persepakbolaan Tanah Air, kompetisi sepak bola ini diadakan, salah satunya untuk mempersatuan bangsa Indonesia yang beragam ini. Seperti juga saat pertama kali dimainkan 2.400 tahun silam di Cina, sepak bola bukan untuk menebar kebencian dan permusuhan, tapi untuk berolahraga sekaligus hiburan. Begitu juga di Indonesia. Bahkan PSSI yang dibentuk pada 1930 lalu, menjadikan sepak bola sebagai media perjuangan dan pemersatu bangsa yang saat itu masih dijajah Belanda.

    Perseteruan tim-tim sepak bola di Tanah Air cukup hanya terjadi di lapangan hijau. Semua tim bisa bersaing secara sehat untuk mencapai prestasi tertinggi di kancah sepak bola nasional. Persaingan tim tidak perlu merembet ke para pendukung setia mereka yang berlanjut dengan permusuhan abadi di luar lapangan pertandingan.

    Seperti semangat olahraga yang menjunjung tinggi fair play dan sportivitas, perdamaian di dalam dan luar lapangan harus menjadi acuan setiap elemen sepak bola Tanah Air, termasuk para suporter. Fanatisme dan perseteruan para suporter seperti Viking dan The Jakmania, biarkan menjadi warna tersendiri bagi sepak bola Indonesia. Tapi jangan sampai permusuhan tersebut merusak indahnya sepak bola yang menjunjung tinggi sportivitas. Karena dengan damai tanpa adanya permusuhan, sepak bola akan lebih indah. (*)

    Oleh: deni mulyana sasmita / den

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Tahun Baru Hijriah, Pererat Silaturahmi Toleransi
    Dirgahayu Republik Indonesia ke-74 Tahun
    Mari Kita Berkurban
    • Mari Kita Berkurban

      SEKITAR 2,1 miliar umat muslim di seluruh dunia serentak memeringati Hari Raya Idul Adha yang pada 2019 ini jatuh pada hari Minggu Selengkapnya..

      • 11 Agustus 2019
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah
    Marhaban Ya Ramadan

    Editorial



      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Manchester City 38 98
      2. Liverpool 38 97
      3. Chelsea 38 72
      4. Tottenham Hotspur 38 71
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Bali United 17 41
      2 PS Tira Persikabo 18 34
      3 Madura United 18 31