blog counter

Hot News


Opini


    Rupiah Dibuka Menguat Rp14.628 per Dolar AS



    Rupiah Dibuka Menguat Rp14.628 per Dolar AS

    JuaraNews – Nilai tukar rupiah hari ini Kamis (1/10/2015) dibuka menguat 24 poin di level Rp14.628 per dolar AS. Penguatan ini dinilai sebagai imbas dari kebijakan intervensi Bank Indonesia dan paket kebijakan ekonomi jilid II yang diluncurkan pemerintah. Pelaku pasar merespons dua kebijakan itu.

    Seperti diketahui, paket Kebijakan Ekonomi Jilid II telah diluncurkan pemerintah pada Selasa (29/9/2015) sekitar 16.30 WIB di Istana Kepresidenan, Jakarta. Paket tersebut fokus pada sektor industri, keuangan, dan ekspor. Sedangkan Bank Indonesia (BI) mengeluarkan paket kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah pada 30 September.

    Bloomberg melansir, pada penutupan Rabu 30 September 2015, rupiah berada di level Rp14.652 per dolar AS. Namun pada Kamis (1/10), menjadi Rp14.628 per dolar AS pada pembukaan pasar valuta asing.

    Nilai tukar rupiah masih fluktuatif. Sekitar pukul 10.24 WIB, rupiah berada di level Rp14.668 per dolar AS. Hingga siang, rupiah terus bergerak bergerak pada kisaran Rp14.626-Rp14.678 per dolar AS.

    Sedangkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mencatat kurs tengah atau kurs referensi nilai tukar rupiah menguat menjadi Rp14.654 per dolar AS pada Kamis (1/10) pagi dibanding penutupan perdagangan Rabu (30/9) di level Rp14.657 per dolar AS.

    Liputan6.com melansir, Analis Pasar Uang PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh beberapa aspek di antaranya, bangkitnya harga minyak dunia, sentiment positif atas kebijakan ekonomi jilid II pemerintah, dan kebijakan moneter BI.

    Kondisi dan kebijakan itu diharapkan oleh para pelaku pasar bisa menarik para investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. "Globalnya kita lihat, adanya kenaikan harga minyak dunia sehinga mendorong prospek ekonomi menjadi lebih cerah," kata Josua.

    Sedangkan harga minyak dunia menguat, tutur Josua, disebabkan oleh kekhawatiran atas badai Hoaquin yang berpotensi mengancam Pelabuhan New York sehingga dapat menganggu distribusi bahan bakar minyak (BBM) di AS. Krisis politik di Suriah yang melibatkan Rusia juga berpengaruh terhadap penguatan harga minyak dunia.

    Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) Mirza Adityaswara mengemukakan, untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, BI menyandarkan kepada tiga pilar yaitu menjaga nilai tukar rupiah, memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah, dan memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan valuta asing (valas).

    "Sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah melalui paket kebijakan jilid II ini diharapkan dapat memperkuat stabilitas makro ekonomi dan struktur perekonomian Indonesia termasuk sektor keuangan, sehingga semakin berdaya tahan," ungkap Mirza. (*)

    bar

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Dalami Dugaan Korupsi BPR Balongan, Kejari Indramayu Telah Periksa 17 Saksi
    Perluas Distribusi Beras Pemerintah, Bulog Gandeng Ritel Modern
    Transaksi BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Dilakukan di Outlet Pegadaian
    Meski Pertumbuhan Ekonomi RI Tinggi, Banyak Sektor Usaha Lakukan PHK, Kenapa?
    PT Pamapersada Nusantara dan PPSDM Geominerba Cetak Juru Ledak Kompeten
    Berita Terdahulu

    Editorial


      iklan qposaja

      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads