web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Mari Kita Berkurban

    Mari Kita Berkurban

    • Jumat, 1 September 2017 | 03:47:00 WIB
    • 0 Komentar

    SEKITAR 2,1 miliar umat muslim di seluruh dunia serentak memeringati Hari Raya Idul Adha yang pada 2017 ini jatuh pada hari Jumat (1/9/2017) atau dalam penanggalan Islam, tepat pada 10 Zulhijah 1438 Hijriah.

    Di saat bersamaan, jutaan umat Islam lainnya tengah menunaikan rukun Islam yang kelima, yakni Ibadah Haji di Tanah Suci Makkah.

    Selain menunaikan Salat Idul Adha, kaum Muslim pun dianjurkan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk pengorbanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Tentunya banyak manfaat dan makna yang bisa kita peroleh dari ibadah kurban ini.

    Anjuran berkurban sendiri bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim AS kepada putra terkasihnya, Nabi Ismail AS. Kisah ini begitu menyentuh. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun diuji Allah SWT untuk menyembelih putranya sendiri.

    Nabi Ibrahim dituntut memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati, dalam arti tidak mengindahkan perintah-Nya. Sebuah pilihan yang dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Allah SWT dilaksanakan. Nabi Ismail pun rela mengorbankan dirinya, tak lain demi menaati perintah-Nya. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba.

    Kisah tersebut merupakan puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah SWT melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya itu tidak menghalangi ketaatannya kepada Allah SWT. Tentunya model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk diteladani kaum muslim yang hidup di zaman ini.

    Banyak makna yang bisa dipetik dalam setiap peringatan hari raya yang biasa disebut Hari Raya Kurban tersebut. Bagi yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, umat Islam yang termasuk kategori mampu diwajibkan menyembelih hewan kurban, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS.

    Penyembelihan hewan kurban sendiri pada dasarnya mengandung 2 nilai ibadah, yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Allah. Dalam berkurban ini, yang diterima Allah SWT itu bukan daging atau darah hewan kurbannya, tapi ketulusan hati orang yang memberikannya.

    Sedangkan kurban sebagai kesalehan sosial, karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan. Bentuk kemanusiaan ini diimplementasikan dalam bentuk pembagian daging kurban kepada sesama manusia. Dengan berkurban, kaum Muslimin dilatih mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama makhluk Tuhan.

    Di balik pahala yang dijanjikan Allah SWT dalam ibadah kurban ini, banyak nilai-nilai mulia yang sangat relevan dengan kehidupan saat ini, khususnya di Indonesia. Satu pelajaran berharga dalam ibadah kurban ini, yakni bahwa umat Islam diajarkan untuk menjunjung tinggi kesetiakawanan sosial. Umat muslim diwajibkan untuk saling peduli terhadap sesama, terutama orang kaya terhadap kaum dhuafa. Mereka yang dalam keseharian sangat jarang mengonsumsi daging, di hari Idul Adha inilah berkesempatan memakan daging.

    Pada saat itu pula, orang miskin dan kaya pun secara bersama-sama mengolah daging kurban di masjid-masjid hingga menghidangkan dan memakannya. Dengan demikian, kebahagiaan Idul Adha bisa dinikmati oleh seluruh umat tanpa membeda-bedakan derajat sosial.

    Secara ekonomi, perayaan Lebaran Haji yang diikuti dengan penyembelihan hewan kurban selama tiga hari pada tanggal 10, 11, dan 12 Zulhijah, tentu mendatangkan manfaat yang berlipat. Berdasarkan data Dinas Peternakan Jabar, pemotongan hewan kurban di Jabar, setiap tahunnya hampir 300 ribuan hewan kurban yang disembelih pada Hari Raya Kurban yang terdiri atas sapi, kerbau, domba, dan kambing.

    Dengan jumlah hewan sebanyak itu, dipastikan pendapatan peternak bertambah. Sedangkan kaum dhuafa, fakir miskin, dan para anak yatim piatu bisa menikmati daging yang jarang mereka temukan pada hari-hari biasanya.

    Rasa setia kawan ini, semestinya tidak hanya terjadi setahun sekali saat peringatan Hari Raya Idul Adha. Rasa Kesetiakawanan Sosial, harus menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia, di dalam semua bidang kehidupan.

    Semangat Idul Kurban ini selalu relevan untuk diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam bermasyarakat, maupun berbangsa dan bernegara. Karena hingga kini, masih banyak masalah yang dihadapi bangsa ini, terutama masalah kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat. Dan semua masalah tersebut, insya Allah bisa terselesaikan seandainya di antara kita selalu bersedia berkurban untuk sesama.

    Karena itu, semangat untuk “berkurban” harus senantiasa dipelihara seiring berlalunya Hari Raya Idul Adha. Berkurban untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan negara ini. Selamat Idul Adha. Mari kita berkurban. (*)

    Oleh: deni mulyana sasmita / den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Meneladani Sikap Nabi Muhammad Saw
    Teladani Semangat Pahlawan
    Tahun Baru Hijriah, Pererat Silaturahmi Toleransi
    Mari Kita Berkurban
    • Mari Kita Berkurban

      SEKITAR 2,1 miliar umat muslim di seluruh dunia serentak memeringati Hari Raya Idul Adha yang pada 2017 ini jatuh pada hari Jumat Selengkapnya..

      • 1 September 2017
    Selamat Hari Raya Idul Fitri
    Berita Terdahulu

    Editorial

      Advertisement On Google

      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Manchester City 16 46
      2. Chelsea 17 35
      3. Manchester United 16 35
      4. Burnley 17 31
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Bhayangkara FC 34 69
      2 Bali United 34 68
      3 PSM Makassar 34 65