web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


    Mike Ayam Ajaib Tanpa Kepala dari Colorado
    Kartu pos bergambar Mike si Ayam Tanpa Kepala.

    Mike Ayam Ajaib Tanpa Kepala dari Colorado

    • Jumat, 18 September 2015 | 14:46:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews – Pernakah Anda menyembelih ayam? Jika ya, pasti Anda pernah mendapati ayam yang Anda sembelih tak langsung mati. Kendati lehernya telah terluka dan darah mengucur deras, ayam masih bisa berontak, menggelepar, bahkan lari.

    Di Amerika Serikat, tepatnya di desa pertanian Fruita, Colorado, 70 tahun lalu, pernah hidup seekor ayam ajaib. Ayam yang diberi nama Mike itu masih hidup selama 18 bulan atau 1 tahun 6 bulan, sejak kepalanya terpenggal. Jadi, selama 18 bulan itu, Mike hidup tanpa kepala. Aneh bukan?

    Kisah nyata nan unik ini berawal saat seorang petani, Lloyd Olsen dan istrinya Clara memotong ayam untuk dijual ke pasar pada 10 September 1945. Olsen yang memenggal kepala ayam, dan Clara yang membersihkan bulunya.

    Namun satu dari 50 ekor ayam yang disembelih Olsen pada hari itu, berperilaku aneh. Meski kepalanya telah terpenggal, si ayam masih berdiri tegak dan tak merasakan kesakitan. "Satu ayam masih hidup, bangun, dan berjalan-jalan. Bahkan ayam itu menendang dan berlari, tidak mau diam," kata Troy Waters, cicit dari Olsen dan Clara.

    Oleh Olsen, ayam ajaib tadi ditempatkan di sebuah kotak tua. Keesokan paginya, Olsen bangun dan melihat, ayam itu masih hidup. "Ini cerita aneh dalam keluarga kami," ujar Christa Waters, istri Troy.

    Olsen lalu membawa si ayam ajaib ke pasar. Dia menunjukkan keanehan ayam hidup tanpa kepala itu kepada semua orang. Tentu saja kabar tentang ayam ajaib tanpa kepala itu dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut di sekitar Fruita. Bahkan cerita tentang ayam ajaib dimuat oleh koran lokal.

    Dua pekan kemudian, Hope Wade, seorang promoter pertunjukkan dari Salt Lake City, Utah yang berjarak sekitar 300 mil atau sekitar 482 km dari Colorado berkunjung ke pertanian Olsen. Wade menawarkan kerja sama kepada Olsen untuk membawa ayam ajaib dalam sebuah pertunjukkan. Penawaran itu diterima Olsen.

    Maka sejak itu, Olsen, Clara dan si ayam ajaib yang kemudian diberi nama Mike, pergi meninggal Fruita menuju Salt Lake City. Fenomena Mike, si ayam tanpa kepala, menghebohkan Utah. Para pakar di Universitas Utah pun penasaran dengan ayam itu lalu melakukan penelitian.

    Life Magazine juga menulis tentang Mike. Sejak masuk Life Magazine, Lloyd, Clara dan Mike makin terkenal. Mereka berkeliling AS. Selama sisa hidupnya yang tanpa kepala, Mike diberi pakan cair dan air yang dimasukkan melalui tenggorokannya.

    Setelah tur keliling AS, Olsens membawa Mike ke Phoenix, Arizona, ketika bencana menerjang Fruita, Colorado pada musim semi 1947. Petualangan si Mike didokumentasikan dalam bentuk foto dan keliping koran dalam sebuah buku yang disimpan baik oleh Waters hingga kini. "Di sanalah Mike mati di pangkuan kakek buyut kami Lloyd Olsen," tutur Waters.

    Lalu apa penyebab ayam yang kepalanya terpenggal masih bisa hidup? Menurut Dr Tom Smulders, seorang ahli ayam di Pusat Perilaku dan Evolusi, Universitas Newcastle, penyebabnya adalah, si ayam tak mengalami pendarahan.

    Bagi seorang manusia, ujar Smulder, kehilangan kepala juga kehilangan otak. Namun bagi ayam, itu berbeda. Ayam tak memiliki otak yang mengontrol seluruh aktivitasnya. Jadi, ketika kepala ayam terpenggal, sementara  80% organ yang mengontrol tubuh ayam masih ada, seperti jantung, paru-paru dan pencernaan masih ada, dia akan tetap hidup. Artinya, Mike bisa bertahan hidup karena seluruh sistem saraf di tubuhnya masih berfungsi.

     

     

    bar

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    5 Fakta Imlek yang Belum Banyak Diketahui Orang
    Susi: Saya Senang, Berarti Dianggap Pintar Dong
    Putusan Presiden Tunisia soal Poligami Bikin Heboh
    Ini Masjid Tempat Salat Jumat setelah Proklamasi
    Bukan Sekadar Hotel, Savoy Homann Juga Jadi Museum

    Editorial