Hot News


Opini


  • Kang Hariyawan
    Kang Hariyawan

    KANG Hariyawan sosok wartawan dan penulis yang kalem, tenang, sedikit bicara, dan banyak bekerja.

    West Java Food and Agriculture Summit 2020, Jadikan Pertanian Ekonomi Masa Depan Jabar

    • Kamis, 10 Desember 2020 | 21:04:00 WIB
    • 0 Komentar


    West Java Food and Agriculture Summit 2020, Jadikan Pertanian Ekonomi Masa Depan Jabar
    Gubernur Jabar Ridwan Kamil bersama Kepala Kantor Perwakilan BI Jabar Herawanto saat membuka West Java Food and Agriculture Summit 2020 di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Kamis (10/12/2020). (istimewa/humas pemprov jabar)

    JuaraNews, Bandung - Pertanian merupakan salah satu mesin ampuh yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi Jabar yang terpuruk karena pandemi Covid-19. Bahkan pertanian bisa menjadi ekonomi masa depan Provinsi Jabar.

     

    Pemprov Jabar pun berkomitmen menguatkan pertanian dengan melibatkan generasi milenial, mengembangkan teknologi pertanian, dan memperluas pasar komoditas pertanian, baik domestik maupun global.

     

    Demikian dikatakan Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat membuka West Java Food and Agriculture (WJFA) Summit 2020 di Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika Kota Bandung, Kamis (10/12/2020).

     

    WJFA Summit 2020 merupakan forum yang digagas oleh Pemprov Jabar dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jabar untuk menjawab tantangan pertanian dan ketahanan pangan.

     

    "Pertanian menjadi ekonomi utama karena terbukti tahan terhadap disrupsi. Saat sektor lain minus, pertanian justru mengalami pertumbuhan positif di tengah pandemi Covid-19," kata Emil.

     

    Akan tetapi, persoalannya, sektor pertanian belum menjadi magnet pekerjaan bagi generasi milenial di Jabar. Padahal, generasi milenial diharapkan membawa perubahan pada sektor pertanian masa depan.

     

    Berdasarkan hasil survei pertanian antar sensus (sutas) 2018 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani di Jabar mencapai 3.250.825 orang.

     

    Dari jumlah tersebut, petani yang berusia 25-44 tahun hanya 945.574 orang atau 29 persen. Kondisi tersebut tentu memberikan efek domino bagi sektor pertanian di Jabar.

     

    Melalui program Petani Milenial, pihaknya berupaya mengubah wajah pertanian menjadi segar dengan memanfaatkan teknologi agar generasi milenial tertarik menjadi petani.

     

    "Saya titip perbaiki edukasi kepada anak muda. Itulah mengapa kami ingin di awal tahun depan kita melaunching secara resmi program Petani Milenial," ucapnya.

     

    Nantinya, lahan milik Pemprov Jabar yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan petani muda dengan sistem pinjam pakai atau bentuk kerja sama lainnya.

     

    Komoditas yang ditanam pun disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan kondisi lahan. Hal itu dilakukan agar komoditas hasil petani muda dapat terserap pasar atau bahkan masuk pasar global.

     

    Pemprov Jabar, kata Emil, akan mencari off taker. Dengan begitu, petani muda dapat berkolaborasi dengan off taker mengenai komoditas apa yang mesti dihasilkan.

     

    "Nanti kita pinjamkan lahan, ada yang 1.000 meter, 5.000 meter, 1 hektare untuk ditanami sesuatu. Sesuatu itu kita yang menentukan. Kemudian kita wajib membeli, jadi mereka yang menanam tidak perlu berpikir menanam apa dan menjual ke siapa. Itu urusan pemerintah," tandas Emil.

     

    "Kalau ini terjadi, keresahan melihat tanah nganggur hilang, keresahan kita melihat impor hilang, keresahan kita melihat petani muda tidak hadir juga akan hilang," imbuhnya.

     

    Dalam WJFA Summit 2020, Emil menyerahkan penghargaan kepada kelompok tani yang mampu menembus pasar global. Selain itu, dia menyaksikan penandatangan MoU antara offtaker dengan kelompok tani maupun kelompok ternak.

     

    Emil juga menyaksikan penyerahan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari sejumlah bank kepada kelompok tani maupun kelompok ternak.

     

    "Terakhir dari saya adalah saya titip Himpunan Bank Milik Negara dan bank bjb dukung penuh revolusi pangan ini. Caranya jangan tunggu bola, melainkan jemput bola," kata Emil.

     

    Sementar itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Jabar Herawanto mengatakan, sektor pertanian merupakan salah sektor ekonomi yang diprioritaskan untuk segera dipulihkan. Sebab, sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar ketiga ekonomi di Jabar setelah industri pengolahan dan perdagangan.

     

    "Kami cermati dalam 3 tahun terakhir, sektor tersebut (pertanian)menunjukkan tren pertumbuhan meningkat. Di masa pandemi, sektor ini menjadi salah satu sektor yang masih mampu tumbuh positif," kata Herawanto.

     

    Menurut Herawanto, regenerasi petani perlu dilakukan. Salah satu langkah strategis untuk menggalang partisipasi generasi muda, khususnya milenial, adalah pemanfaatan teknologi baik dari sisi mekanisasi dan digitalisasi.

     

    "Dalam memitigasi risiko krisis pangan global yang berdampak kepada Indonesia dan Jabar, maka kita harus mengambil langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan," ucapnya. (*)

    Oleh: JuaraNews / bar

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Upayakan Penghasilan Tambahan di Masa Pandemi, DWP Jabar Gelar Pelatihan Budi Daya Tanaman Hias
    Pecahkan Masalah, Petani dan Pemerintah Harus Duduk Sama-sama
    Yod Mintaraga: Tantangan Dunia Pertanian adalah Permodalan
    Yod: Lahan Semakin Sempit, Dunia Pertanian Punya Tantantangan Baru
    Gubernur Ridwan Kamil Usulkan Rebana Metropolitan jadi Proyek Strategis Nasional
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Pos Indonesia kanan
      iklan qposaja

      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads