Hot News


Inspirasi


    Polda Selidiki Keterlibatan KAMI dalam Kasus Penganiayaan Polisi saat Demo UU Cipta Kerja Kombes Pol Erdi Adrimulan Chaniago (net)

    Polda Selidiki Keterlibatan KAMI dalam Kasus Penganiayaan Polisi saat Demo UU Cipta Kerja

    • Selasa, 13 Oktober 2020 | 23:35:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Bandung - Ditreskrimum Polda Jabar mendalami keterlibatan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dalam aksi penyekapan disertai penganiayaan terhadap anggota Polri saat unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja di Kota Bandung, Kamis (8/10/2020) lalu.

     

    Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Erdi Adrimulan Chaniago menjelaskan, jumlah pendemo di sebuah rumah di Jalan Sultan Agung No12, Kota Bandung, begitu banyak. Diduga, aksi penganiayaan dan penyekapan terhadap anggota polisi dilakukan di sana. Awalnya, polisi berpakaian preman berpangkat Brigadir tersebut mencari pendemo di sana tapi ketika hendak keluar pintu ditutup lalu dilakukan aksi penganiayaan.

     

    "75 orang diamankan dan setelah dilakukan pengembangan ditetapkan 7 tersangka. 68 orang lainnya masih didalami. Ke 68 orang itu, yang diamankan pada saat itu ya jumlah besar para pendemo ada di situ gitu," jelas Erdi, Selasa (13/10/2020).

     

    "Nah, mengenai keterlibatannya (KAMI) ini lagi didalami sama penyidik Krimum Polda Jabar," tandasnya.

     

    Akibat perbuatan tersebut, para tersangka dijerat Pasal 170 dan 351 dengan ancaman di atas dari 5 tahun.

     

    3 Tersangka Penganiaya Polisi Simpatisan KAMI Jabar
    Aksi demo menolak UU Cipta Kerja yang digelar di Kota Bandung diketahui berujung ricuh. Massa aksi mulanya mendesak masuk ke Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, dan melempari gedung dengan batu dan botol air mineral.

     

    Polisi kemudian membubarkan massa dan sebagian pendemo melarikan diri hingga ke Jalan Sultan Angung hingga masuk ke rumah nomor 12. Akhirnya terjadilah insiden penyekapan dan penganiayaan terhadap anggota Polri. Dari 7 tersangka yang ditangkap, 3 di antaranya yang diidentifikasi sebagai anggota KAMI langsung ditahap di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta.

     

    KAMI Jabar sendiri mengakui 3 orang yang ditetapkan tersangka merupakan bagiannya. Ketiganya merupakan simpatisan KAMI Jabar.

     

    "Simpatisan, anggota KAMI ini bisa dalam bentuk organisasi atau perorangan yang bersimpati terhadap KAMI dalam rangka kegiatan penyelamatan bangsa dan kemanusiaan," ujar Robby Win Kadir, Koordinator Lapangan Posko Kesehatan KAMI Jabar, Selasa (13/10/2020).

     

    Robby menjelaskan, peristiwa bermula ketika KAMI membuat semacam posko kesehatan dan logistik bagi pendemo omnibus law di rumah yang terletak di Jalan Sultan Agung Nomor 12. Lalu, ketika terjadi keramaian, ada seseorang tiba-tiba mendobrak masuk ke halaman rumah.

     

    "Satu orang berusaha mendobrak pintu dan masuk. Anggota kan jadi dikira rusuh, terjadi dorong-dorongan," kata dia ketika dikonfirmasi, Selasa (13/10).

     

    Ketika itu, kata Robby, petugas medis menduga orang yang masuk itu perusuh karena mengenakan pakaian warna hitam. Mereka tidak tahu jika orang itu ialah polisi yang sedang mencari pendemo anarkis. "Sempat terjadi adu mulut terlebih dahulu di antara petugas medis dan Brigadir A," jelasnya.

     

    Dia menegaskan, bahwa gerbang rumah tersebut memang ditutup. "Gerbang memang kami tutup, Brigadir A ini nerobos gitu, bawa pentungan, bajunya baju hitam, kita gak tau kalau itu polisi. Kirain perusuh. Otomatis kami melakukan perlawanan," ujar dia.

     

    Terhadap ketiga tersangka tersebut, kata Robby, pihaknya akan melakukan pendampingan hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) KAMI Jabar. "Ada dari LBH untuk bantuan hukum," ucap dia.

     

    Diduga Terjadi Penyekapan Polisi di Rumah Jalan Sultan Agung...

    Rumah milik Fadly yang menjadi lokasi kejadian penyekapan dan penganiayaan anggota polisi saat berlangsung unjuk rasa menolak pengesahan UU Cipta Kerja, Kamis (9/10/2020). (foto: sindonews.com)

     

    Rumah di Jalan Sultan Agung Bukan Markas KAMI
    Pada kesempatan tersebut, Robby pun membantah rumah di Jalan Sultan Agung tersebut merupakan markas KAMI Jabar. "Bukan posko KAMI Jabar, tapi itu kegiatan kemanusiaan berupa evakuasi dan membantu logistik orang yang kehausan, kelaparan (saat unjuk rasa). Saat itu disiagakan dua dokter dan kendaraan ambulans," tandasnya.

     

    Pemilik rumah di Jalan Sultan Agung, Fadly pun menegaskan, tempat tinggalnya bukan posko dan tak pernah menjadi tempat kegiatan KAMI. "Bukan, ini bukan markas KAMI. Saya juga enggak tahu KAMI itu apa,"‎ tegas Fadly, Selasa (13/10/2020).

     

    Dia menjelaskan, awalnya ada relawan medis yang datang dengan maksud meminjam halaman rumah dan garasi. Dia memberikan izin dengan niat menolong. Belakangan, diketahui relawan itu dikoordinir oleh KAMI Jabar.

     

    "Jadi saya kedatangan beberapa orang, minta ke saya, halamannya untuk jadi lokasi medis, Peristiwa itu terjadi tanggal 8 Oktober lalu," jelas Fadli yang tinggal di rumah tersebut bersama orang tuanya.

     

    Memasuki waktu magrib, Fadly yang sedang menonton televisi, tiba-tiba mendengar adanya suara gerbang dipukul. Dia pun mengecek ke gerbang dan mendapati relawan itu sudah berbaris.

     

    "Polisi udah menjejerkan relawan itu. Nah terus pada waktu itu saya tanya, ada apa nih persoalannya," terangnya.

     

    Menurut keterangan yang diperolehnya dari polisi, kata Fadly, mulanya polisi sedang mengejar mahasiswa yang sempat mendapat perawatan dari relawan itu. Ketika polisi masuk, pintu tiba-tiba dikunci dan diduga terjadi aksi penyekapan dan penganiayaan itu.

     

    "Katanya polisi lagi ngejar mahasiswa, mahasiswanya itu sempat dirawat lah sama relawan itu di halaman. Nah terus polisi masuk ke rumah, terus sama relawan itu dikunci," papar Fadly.

     

    Setelah kejadian tersebut, Fadly pun memberikan keterangan pada polisi dan sempat berbincang dengan sejumlah relawan. "Lalu saya klarifikasi ke kantor polisi. Katanya sih ada polisi masuk rumah, terus digebukin, katanya mah bukan sama relawan. Sesudah itu pelakunya diamankan dan relawan dibebaskan," kata Fadly.

     

    "Saya ngobrol juga, tanya dia (relawan) aktif di mana? Aktifnya di KAMI. Mereka itu sebenarnya lebih aktif di pengajian, cuma yang mengkoordinirnya itu orang-orang KAMI. Saya tahu itu pas sudah kejadian, pas ada di Polda," sambungnya. (*)

    Oleh: JuaraNews / jar

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Didominasi Pemuda, Alumni Muda Padjadjaran: Pemuda Punya Potensi Besar
    Ridwan Kamil Imbau Kepala Daerah Tingkatkan Pengaman Protokol Kesehatan saat Libur Panjang
    IKA Unpad Rangkul Mahasiswa Peringati Hari Sumpah Pemuda
    Pemprov Jabar Salurkan Bansos Tahap 3 ke 27 Kota/Kabupaten
    Istri Berjuang Lawan Virus Berhari-hari, Setelah Suami Meninggal Akibat Covid-19
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Pos Indonesia kanan

      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads