Sudah Ada 8 Vaksin Covid-19 di Dunia yang Sedang Diujicoba - JuaraNews Inspirasi Semangat Muda
Pos Indonesia

Hot News


Inspirasi


  • Dirgahayu Sat Linmas ke-58
    Dirgahayu Sat Linmas ke-58

    NEGARA Republik Indonesia lahir melalui perjuangan bangsa dan pahlawannya yang melepaskan diri dari penjajahan dan sejajar dengan bangsa di dunia.

    Sudah Ada 8 Vaksin Covid-19 di Dunia yang Sedang Diujicoba

    Sudah Ada 8 Vaksin Covid-19 di Dunia yang Sedang Diujicoba

    JuaraNews, Bandung – Di tengah Pandemi Covid-19 yang masih menyerang Indonesia, salah satu hal yang begitu dinanti seluruh warga dunia adalah tersedianya vaksin Covid-19. Vaksin di tengah situasi pandemi seperti saat ini adalah garis pertahanan terakhir bagi keselamatan seluruh warga dunia yang bisa memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menewaskan lebih dari sembilan ratus orang di Indonesia.

     

    Penantian masyarakat tersebut direspon oleh Entalpi Institute yang bekerja sama dengan Institut Pembangunan Jawa Barat Universitas Padjadjaran (INJABAR UNPAD), Majalah Farmasetika, dan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) mengadakan acara Webinar yang bertajuk “Tantangan Vaksin Covid-19 di Indonesia.” Sabtu, 9 Mei 2020. Acara seminar ini dilakukan secara online.

     

    Hadir sebagai narasumber webinar adalah Dicky Mahardika Taryono M. Biomed (peneliti vaksin dari Departemen Riset PT. Biofarma Indonesia) dan Apt. Iman Silanas, S.Farm.,M.Kes. (praktisi farmasi di RS Hasan Sadikin Bandung) dengan moderator Apt. Dr. Sriwidodo, M. Si (Fakultas Farmasi, Unpad).

     

    Pengembangan vaksin sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Ada beberapa tahap yang harus dilalui dalam pembuatan vaksin dari sebuah virus. Secara singkat digambarkan,  ada dua tahapan besar dalam pembuatan vaksin, yaitu Tahap Pra-klinis dan Tahap Klinis. Uji coba Pra-klinis dilakukan kepada hewan di laboratorium sedangkan uji coba klinis mulai dicoba pada manusia secara bertahap.

     

    “Dalam prosedurnya, uji coba ke manusia di tahap klinis itu ada tahapannya juga. Ada tiga fase. Fase pertama, uji coba ke sekelompok populasi tertentu; fase kedua, uji coba  ke wilayah yang lebih luas lagi; lalu Fase ketiga, disebarkan ke seluruh negara. Jika semua prosedur itu diikuti, maka memerlukan proses cukup panjang dana waktu yang cukup lama agar vaksin bisa digunakan secara masal. “Untuk mengembakan seed-nya saja, butuh waktu tiga tahun,” jelas Iman Silamas.

     

    Dalam situasi pandemi seperti ini, WHO mempunya skema regulasi khusus. Vaksin yang sudah lulus pada fase pertama bisa langsung diproduksi untuk disebarluaskan. Hal ini untuk menekan jumlah penderita dan juga korban jiwa akibat sebuah wabah. Hal tersebut disampaikan oleh Dicky Mahardhika.

     

    “Tentu korban tidak bisa menunggu hasil riset yang begitu panjang di tengah situasi seperti ini. Maka dari itu WHO mempunya protokol khusus dalam situasi seperti ini. Vaksin bisa langsung digunakan segera setelah fase 1 clinical trial selesai,” jelas Dicky.

     

    Sejauh ini, Dicky menjelaskan, di dunia sudah ada delapan jenis vaksin dari berbagai insitusi yang sedang diujikan. Vaksinnya di tahap satu atau dua dan siap untuk diproduksi secara massal. Penelitian vaksin tersebut bisa dilakukan dengan cepat karena rata-rata insitusi tersebut sudah memiliki template riset tentang vaksin Covid-19 dari riset vaksin yang dibuat sebelumnya.

     

    “Misalnya Universitas Oxford di Inggris. Mereka sudah pernah bikin vaksin dari virus lain sebelumnya. Jadi tinggal mereka ambil templatenya lalu mereka langsung terapkan pada Virus Covid-19 ini,” jelas Dicky.

     

    Masalah yang kemudian dihadapi berikutnya adalah distribusi produksi vaksin tersebut secara massal ke seluruh dunia. Hal tersebut menjadi hambatan karena tidak semua negara di dunia ini memiliki perusahaan produsen vaksin, layaknya Biofarma di Indonesia. Hal ini juga yang membuat vaksin dari Oxford University kemudian belum bisa secara langsung diproduksi massal karena ketiadaan pabrik vaksin di negara tersebut sehingga mereka berkolaborasi dengan manufaktur vaksin dari India dan Swedia dalam produksi massalnya.

     

    Biofarma sendiri sudah mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk melakukan riset terkait penciptaan vaksin Covid-19 ini. Biofarma sudah bekerja sama dengan Eijkman Institute dan juga Kementerian Riset dan Teknologi untuk melakukan penelitian dalam pengembangan vaksin tersebut. Apalagi Biofarma selama ini sudah punya rekam jejak yang baik dalam bidang pengembangan vaksin.

     

    “Kami juga melalui Kementerian Luar Negeri diajak berkolaborasi dengan negara-negara lain, juga melakukan kontak aktif berkomunikasi dengan forum-forum internasional terkait peluang kerja sama pengembangan vaksin. Insha Allah, kami terus berusaha untuk berkontribusi nyata kepada Indonesia di tengah wabah Covid-19 ini,” tambah Dicky.

     

     

    Peran Akademisi Farmasi di Era Pandemi.

    Ilman Silanas selaku Apoteker di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, kemudian memberikan penjelasan mengenai peran apoteker di tengah masa pandemi saat ini terkait dengan vaksin. Salah satu peran besar yang dapat diambil adalah melakukan edukasi terhadap masyarakat Indonesia yang masih menolak keberadaan vaksin tersebut.

     

    “Kita bisa turun langsung untuk melakukan edukasi kepada masyarakat yang memang masih berpikiran negatif terhadap keberadaan vaksin. Ada yang takut misalnya ada kandungan Tripsin yang diambil dari babi atau efek timerosal dalam vaksin yang bisa menimbulkan autis. Semuanya itu ada datanya. Itu yang harus kita bisa edukaasi kepada masyarakat,” tambah Iman.

     

    Berkaitan dengan masyarakat yang menolak vaksin, hal tersebut berpotensi membahayakan masyarakat lainnya. Menurut Dicky, golongan ini bisa menularkan penyakit kepada orang-orang di sekitarnya jika tidak menerima vaksin.

     

    “Harus ada yang mengedukasi orang-orang seperti ini. Semuanya kan sudah sesuai dengan riset yang dapat dipertanggungjawabkan,” tambah Dicky.

     

    Selain itu, apoteker juga dapat membantu mempertimbangkan keamanaan dari vaksin yang nantinya akan disebarluaskan kepada masyarakat. Riset-riset akademis dari para apoteker kemudian akan membantu para praktisi untuk membuat vaksin dan melakukan pemeriksaan terhadap efektivitas vaksin tersebut. (*)

    ude

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Usai Libur Lebaran, ASN Pemprov Jabar Mulai Kembali Bekerja
    Jokowi Menerjunkan TNI-Polri di 4 Provinsi untuk Disiplinkan Masyarakat Selama Pandemi Covid19
    Pemudik Mau Balik Lagi ke Jakarta, Harus Tunjukan SIKM
    Update Covid19 (25/05) : 22.750 Positif, 5.642 Orang Dinyatakan Sembuh
    Idulfitri 1441 Hijriah, KBRI Dar es Salaam Bagikan Paket Sembako untuk WNI di Tanzania
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Imani Center

      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads