blog counter

Hot News


Opini


  • Jadilah Pemuda Muslim Pejuang Islam
    Jadilah Pemuda Muslim Pejuang Islam

    KEMENAG mengajak generasi milenial pegiat fesyen untuk ambil bagian menghidupkan Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2023 pada 20–22 Oktober 2022 mendatang.

    Cegah Radikalisme di Kampus, Universitas Widyatama Gandeng BNPT

    • Senin, 9 Desember 2019 | 21:38:00 WIB
    • 0 Komentar


    Cegah Radikalisme di Kampus, Universitas Widyatama Gandeng BNPT

    JuaraNews, Bandung- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan berbagai upaya pencegahan paparan radikalisme di kalangan kampus, pasalnya mahasiswa atau kalangan milenial rekan di susupi paham radikaliseme.

     

    Untuk itu, Universitas Widyatama menggandeng BNPT, Kepolisian dan Kemenhunkam menggelar seminar Tangkal Radikalisme ala Milenial di kampus Widyatama Senin (9/12/2019)

     

    Kasubdit Kontra Propaganda Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kolonel Pas Sujatmiko menyebut, BNPT gencar melakukan diskusi, stadium generale, dan berbagai langkah edukasi lainya untuk menekan persebaran benih radikalisme yang berujung aksi-aksi teror.

     

    Sujatmiko meminta agar mahasiswa, masayarakat umum, juga pemerintah terus meningkatkan pencegahan dan kewaspadaan untuk menanggulangi ancaman terorisme. 


    "Generasi muda, khusunya mahasiswa perlu tahu akar masalah mengapa terjadi radikalisme, kemudian ketahui dulu bener nggak nih radikalesme sedang menyerang generasi milenial, fahami lingkungan sekitar bagaiamana menghadapi bila ada yang mencurigakan, negara perlu memperkuat startegi nasioanal penanggulangan terorisme,"katanya. 

     

    Sementara itu Rektor Universitas Widyatama obsatar Sinaga mengatakan masih banyak mahasiswa yang belum mengetahui makna dari radikalisme itu sendiri. Dia mengutip salah satu penelitian yang dilakukan terhadap  56 ribu mahasiswa se Jawa Barat namun yang baru mengetahui hanya 1.500 responden saja. 


    "Pemahaman ini perlu ditingkatkan, karena akab bahaya. Bisa jadi seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sedang diberikan materi-materi yang sebenarnya itu radikalisme. Namun karena tidak tahu apa itu radikalisme jadi dia merasa nyaman-nyaman saja, pada akhirnya tiba tiba  melakukan aksi kekerasan," kata Obi, sapaan akrabnya. 


    Obi juga menyoroti saat ini pemerintah Republik Indonesia masih belum menentukan siapa yang sebetulnya punya kewenangan khusus untuk menanggulangi terorisme apakah kepolisian atau pihak keamanan lain. 


    "Selain keterbatasan anggaran, negara juga masih belum menentukan siapa yang sebetulnya berhak fokus menanggulangi terorisme. Apakah polisi tapi dia pun juga punya tugas mengatur lalu lintas ketertiban umum dan jadi belum terfokus," kata Obi. (*)

    bas

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    31 Parpol Daftar Pemilu 2024, Baru 21 yang Melengkapi Dokumen ke KPU
    Terkait Kasus Pembunuhan Brigadir J, Penyidik Polres Jaksel dan Polda Metro Diperiksa Irsus Polri
    Penyidikan Kasus Dengan Terlapor Brigadir J Dihetikan. Polri: Tidak Ditemukan Peristiwa Pidana
    Wagub Uu Tanggapi Tingginya Angka Perceraian di Jabar
    Tebing 40 Meter Longsor Tutup Total Jalur Tasikmalaya-Pangandaran
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads