Kepala BPBD: Ubah Mindset Bupati/Wali Kota

  • Minggu, 8 Desember 2019 | 11:24:00 WIB
  • 0 Komentar


Kepala BPBD: Ubah Mindset Bupati/Wali Kota
Kepala BPBD Jabar Supriyatno Abdul Basir

JuaraNews, Bandung-Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Supriyatno menyerukan bupati dan wali kota mengubah mindset manajemen kebencanaan agar lebih berorientasi pencegahan dibandingkan penanganan pascabencana.

 

“Dimulai dari memperbesar anggaran buat pencegahan bencana,” ujar Supriyatno, Minggu (8/12/19).

 

Pencegahan bencana meliputi anggaran untuk penghijauan, diklat taruna siaga bencana (tagana), serta edukasi masyarakat melalui berbagi kampanye.

 

“Anggaran buat logistik sangat penting, tapi tidak kalah penting buat pencegahan bencana. Logikanya, kalau bencana dapat dicegah, otomatis biaya penanganan bencana tidak akan keluar alias dapat dihemat,” kata Supriyatno.

 

Supriyatno melihat tren di pemerintah kabupaten/pemerintah kota anggaran pencegahan gapnya terlalu lebar dengan anggaran pascabencana. “Harus sudah mulai diseimbangkan. Mindset kita tentang bencana harus diubah,” imbuhnya.

Seruan Kepala BPBD berkaca dari banjir bandang di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jumat (6/12/19) sore. Diketahui Kertasari merupakan dataran tinggi sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut dengan suhu minimum 12 derajat celcius.

 

Menurut Supriyatno, banjir di dataran tinggi biasanya bersifat bandang yang lebih berbahaya dibandingkan banjir dataran rendah. Arusnya yang deras dapat membawa material apa saja dari pegunungan seperti kayu dan sampah.

 

“Di Kertasari, selain ada satu SD terendam, dilaporkan dua sepeda motor dan empat unit mobil terbawa arus. Ini membahayakan,” sebut Supriyatno.

 

Banjir bandang di Kertasari menandakan kondisi lingkungan di daerah sekitarnya telah rusak. Kertasari berbatasan di sebelah utara dan selatan dengan Kabupaten Garut, sebelah timur dengan Kecamatan Pacet, sementara sebelah barat dengan Kecamatan Pangalengan.

 

“Kita lihat bencana di dataran tinggi seperti Kertasari dan Pangalengan mulai sering terjadi akhir- akhir ini. Kita tidak boleh menutup mata bahwa alam semakin dirusak yang namanya pembangunan. Jangan sampai benteng terakhir Jabar ini akhirnya jebol juga,” kata Supriyatno.

 

Kolaborasi pun harus dilakukan. Supriyatno mencontohkan upaya pencegahan bencana yang dapat jadi contoh adalah pemulihan DAS Citarum wilayah Kawasan Bandung Utara (KBU), Caringin Tilu di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung yang akan digelar, Senin (9/12/19).

 

Acara ini melibatkan BNPB, Pemdaprov Jabar, bupati/wali kota Bandung Raya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang dikemas dengan pendekatan budaya melibatkan seniman dan budayawan Jawa Barat. Rencananya akan ada penanaman bibit pohon produktif dan launching e-Tanam.

 

“Pencegahan bencana yang seperti ini yang harus direplikasi di kabupaten/kota lainnya,” kata Supriyatno. (*)

bas

0 Komentar
Tinggalkan Komentar
Cancel reply
0 Komentar
Tidak ada komentar
Berita Lainnya
Kampung Tangguh Jaya Dinilai Mampu Tekan Laju Penularan Covid-19 di Bodebek
Tinjau Lokasi Pengungsian di Subang, PPLIPI Jabar Serahkan 100 Paket Sembako
Duit Pajak Digondol Koruptor di Kemenkeu, Anggota DPR Ini Geram
Kembangkan Teknologi Biogro, Balai Mektan Berhasil Tingkatkan Produksi Padi Hampir 100 %
Cukai Rokok Dinaikkan, Komisi XI: Pemerintah Juga Harus Beri Insentif Bagi Petani Tembakau
Berita Terdahulu

Editorial


    Pos Indonesia kanan

    Data Statik Covid-19


    DATA COVID-19 INDONESIA

    😷 Positif:

    😊 Sembuh:

    😭 Meninggal:

    (Data: kawalcorona.com)

    Ads