Hot News


Inspirasi


    Dikukuhkan Jadi Profesor, Keri Lestari: Inovasi Farmasi Klinik Lahirkan Interaksi Kesehatan

    • Sabtu, 7 Desember 2019 | 07:20:00 WIB
    • 0 Komentar


    Dikukuhkan Jadi Profesor, Keri Lestari: Inovasi Farmasi Klinik Lahirkan Interaksi Kesehatan

     

    JuaraNews, Bandung – Di era disruptif  pelayanan kesehatan Indonesia, dibutuhkan inovasi farmasi klinik untuk meningkatkan kualitas terapi obat dalam pelayanan kesehatan. Selain penerapan teknologi, dibutuhkan penguatan sumber daya manusia profesi apoteker mengingat profesi ini merupakan garda terdepan dalam mengawal terapi obat yang efektif dan efisien.

     

    Prof. Dr. Keri Lestari, S.Si., M.Si., Apt. mengatakan hal itu dalam Prosesi Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besarnya  dalam bidang Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik, yang diselanggarakan di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur Nomor 35 Bandung, Jumat (6/12/2019).

     

    Pada kesempatan tersebut Keri membacakan orasi ilmiah berjudul “Inovasi Farmasi Klinik untuk  Meningkatkan Kualitas Terapi Obat di Tengah Era Disruptif Pelayanan Kesehatan di Indonesia”.

     

    Menurut Wakil Rektor III Unpad ini,  hingga sekarang pemenuhan tenaga apoteker di semua fasilitas kesehatan, terutama puskesmas, masih menjadi tantangan tersendiri bagi peningkatan kualitas pelayananan kesehatan.

     

    &ldquo Inovasi Farmasi Klinik menginisiasi lahirnya model interaksi baru tim kesehatan yang lebih inovatif dan massif, yaitu penguatan kapasitas apoteker sebagai bagian penting tim pelayanan kesehatan dalam meningkatkan keamanan pasien (patient safety) dan kualitas pelayanan kesehatan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Prof Keri.

     

    Dikatakannya pula,  dunia kesehatan di tanah air tak luput dihadapkan pada persoalan dan tantangan menghadapi era revolusi industri 4.0 dan 5.0. Selain pemanfaatan IoT, interaksi baru dalam bentuk kolaborasi antar profesi tenaga kesehatan (interprofessional collaboration) menjadi inovasi untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik.

     

    “Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan adanya penguatan profesi apoteker sehingga eksistensinya tidak lagi diragukan bahkan dipertanyakan,” ujarnya.

     

    Keri menjelaskan, keilmuan bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik mendasari kompetensi apoteker dalam pelayanan kesehatan dan penemuan obat baru. Melalui kajian Farmakologi, apoteker  mengetahui bagaimana suatu bahan kimia/obat berinteraksi dengan sistem biologis, khususnya mempelajari aksi obat di dalam tubuh.

     

    Sedangkan kajian Farmasi Klinis mendasari interaksi apoteker dan pasien untuk mengoptimalkan terapi obat, meningkatkan standar kesehatan & kualitas hidup, kebugaran (wellnes) dan pencegahan penyakit, sesuai filosofi asuhan kefarmasian atau pharmaceutical care.

     

    Berdasarkan pengalaman riset pengembangan obat baru dan pelayanan praktek kefarmasian, Prof. Keri mengungkapkan bahwa keilmuan farmasi yang berorientasi pasien (patient oriented) dan berorientasi produk (product oriented) saling melengkapi dalam praktek profesi Apoteker. (*)

    ude

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Akibat Wabah Covid-19, Pemprov Jabar Ubah arah RPJMD
    Disparbud Jabar akan Lakukan Tes Covid-19 Bagi Pelaku Industri Pariwisata
    PSBB Proporsional Bodebek Diperpanjang Hingga 23 Desember 2020
    Wagub Jabar Apresiasi Ekspor di Tengah Pandemi
    Rebana Metropolitan Masuk RPJMD Perubahan
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Pos Indonesia kanan

      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads