web stats service from statcounter

Hot News


  • Jaga Asa Menembus Posisi Runner-up
    Jaga Asa Menembus Posisi Runner-up
    • 16 Desember 2019 | 11:41:00 WIB

    TIM Persib Bandung menjamu Perseru Badak Lampung pada Pekan 33 Liga 1 2019 di Stadion si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Senin (16/12/2019) malam.

Inspirasi


    Bartholomeus Toto Muncul di Youtube, Berbicara Panjang Lebar soal Kasus Meikarta
    Bartholomeus Toto

    Bartholomeus Toto Muncul di Youtube, Berbicara Panjang Lebar soal Kasus Meikarta

    • Sabtu, 30 November 2019 | 19:50:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Bandung - Kasus suap mega proyek Meikarta terus berlanjut. Setelah mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Bartholomeus Toto dijadikan tersangka dan ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),  kini muncul video sebuah akun vlog Youtube dan berbicara panjang lebar soal kasus suap Meikarta dan penahanan dirinya.

     

    Akun Youtube atas nama Toto Bartholomeus Toto yang menampilkan 3 video tersebut diunggah Sabtu (29/11/2019).    

     

    Bartholomeus Toto, yang saat berbicara di video akun Vlog Youtube menggunakan kemeja lengan panjang wara biru. Terdapat 3 video, yang pertama berjudul Toto dan Meikarta, video kedua Babak Baru Kasus Meikarta episode Rekayasa, dan video ketiga Bedah Kasus Kenapa Saya Ditersangkakan.

     

    Dalam video pertama, Toto berbicara bahwa KPK telah menuduh dirinya memberikan uang suap sebesar Rp10,5 miliar kepada mantan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, utuk memuluskan proyek perizinan Meikarta, yaitu Izin Pengunaan Pemanfaatan Tanah (IPPT).

     

    “Tujuan dan alasan membuat Vlog, agar anak-anak saya, keluarga besar, kerabat dan teman-teman supaya mengetahui fakta sebenarnya yang terjadi dan prinsip-prinsip yang saya yakini,” ujar Toto dalam video tersebut.

     

    Begitu juga, teman-teman sesama profesional, khususnya para eksekutif dan komunitas Jepang dan siapapun yang bekerja dan melakukan investasi di Indonesia supaya mengetahui risiko-risiko yang bisa terjadi.

     

    “Selain itu, video juga untuk menjaga nama baik almarhum orang tua saya, yang sudah mendidik saya untuk selalu jujur, terus berjuang tanpa kompromi, menjunjung kebenaran, dan senantiasa berserah kepada Tuhan,” tuturnya lagi.

     

    Toto mengatakan, sebelum mengundurkan diri dari PT Lippo Cikarang, dia bekerja di lingkungan Lippo Grup sudah hampir 30 tahun. Sejak lulus kuliah kariernya diawali dengan bekerja di Lippo Bank sebagai seorang account officer. Lalu setelah menjabat berbagai macam posisi, sampai akhirnya Toto menjabat salah satu direksi di Lippo Bank.

     

    Dalam video itu juga Toto menjelaskan, selama 26 tahun hampir 90% karier dirinya di bidang perbankan khususnya di bidang teknologi operasional di cabang-cabang. Kontribusi terakhir di perbankan Lippo Grup mendirikan Ovo Bank yang izin emoney-nya digunakan Ovo. Pada 2016, melalui RUPS Luar Biasa (LB), dirinya diangkat menjadi Presiden Direktur PT Lippo Cikarang.

     

    Reaksi pertama, sejak diangkat menjadi Presiden Direktur PT Lippo Cikarang merasa keberatan, karena properti bukan bidang keahliannya. Tapi, dirinya bukan tidak mau belajar. “Saya tidak memiliki pengalaman sama sekali dibidang proprty, sementara tanggung jawab yang diemban begitu besar, “ jelas Toto.

     

    Dituduh Edy Suap Rp10,5 Miliar
    Berangkat dari properti yang bukan bidangnya, kini dirinya ditetapkan jadi tersangka dan ditahan KPK. Dia dianggap menyerahkan uang Rp10,5 miliar pada Neneng Hasanah Yasin via Kepala Divisi Land Ackuisition Permit PT Lippo Cikarang, Edy Dwi Soesianto. Neneng sudah divonis bersalah dalam kasus suap tersebut pada megaproyek Meikarta.

     

    Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung pada 14 Januari 2019, Edy menyebutkan dirinya menerima uang dari Melda Peni Lestari selaku sekretaris direksi PT Lippo Cikarang senilai Rp10,5 miliar sepengetahuan Toto. Uang itu setelah sebelumnya diminta ajudan Neneng sebagai imbalan atas pengurusan IPPT.

     

    "Saya ditanya apakah pernah saya sebagai presdir keluarkan uang tidak resmi Rp10,5 miliar. Saya jawab tidak pernah. Lagian, sebagai perusahaan publik yang keuangannya diaudit dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mana mungkin saya keluarkan uang tidak resmi sebesar itu. Saya juga tidak punya otoritas untuk menganggarkan uang di luar yang sudah dianggarkan," papar Toto.

     

    Melda Peni Lestari sempat dihadirkan sebagai saksi di persidangan. Melda dikonfirmasi soal penyerahan yang Rp10,5 mlliar di helipad PT Lippo Cikarang. Melda juga membantah semua pertanyaan jaksa KPK dan hakim soal pemberian uang itu. Dan konsekuensinya, dia sempat diancam jaksa karena memberi keterangan palsu.

     

    "Saat itu, Melda diperiksa sebagai saksi di sidang. Dia tidak mengetahui soal pemberian uang. Di sidang dia tertekan, dia yang hamil muda, kemudian Melda keguguran," ujarnya.

     

    Selama berbicara di video, Toto lebih banyak berbicara tidak terima dengan penahanannya. Pasalnya, dia menganggap jadi tersangka karena keterangan saksi Edy Dwi Soesianto di persidangan, tanpa didukung bukti lain. Selain itu, Toto juga menyinggung soal KPK hingga James Riyadi 

     

    Atas penahanan Toto, pengacaranya Supriyadi diketahu sudah mengajukan gugatan dan mepraperadilankan KPK ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Alasan melakukan gugatan praperadilan, yakni Bartholomeus Toto ditetapkan tersangka hanya berdasar satu alat bukti.

     

    Dalam kasus dugaan pemberian suap untuk memuluskan perizinan Meikarta ini, Pengadilan Tipikor Bandung sudah memvonis bersalah sejumlah pihak, yaitu Billy Sindoro, Fitradjaja Purnama. Henry Jasmen, dan Taryudi 

     

    Dalam kasus Meikarta ini juga, telah banyak menyeret para pejabat di Pemkab Bekasi, dan dinyatakan bersalah karena telah menerima suap. Yakni, Neneng Hasanah Yasin, Jamaludin, Sahat Banjarnahor, Dewi Tisnawati, dan Neneng Rahmi Nurlaili. KPK mengembangkan kasus ini dengan menetapkan Bartholomeus Toto dan mantan Sekda Jabar Iwa Karniwa sebagai tersangka 

     

    Atas divonisnya Billy Sindoro dalam kasus Meikarta, Toto menganggapnya sudah selesai. Atau tidak ada kelanjutan dan tidak ada lagi yang dijadikan tersangka. Namun, Toto juga menepis semua kekhawatiran itu. Bahkan, menganggap masalah hukum harus ada pembuktian, tidak bisa semena-mena menuduh sembarangan orang menjadi tersangka, apalagi menyangkut KPK 

     

    Namun, tidak disangka pada narasi persidangan Edy Dwi Soesianto memfitnah Toto telah menyuap Rp10,5 miliar. Padahal, tidak ada sutu pun saksi lain yang menunjukkan keterlibatan dirinya dalam kasus suap Meikarta. (*) 

    ude

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Ridwan Kamil Tawarkan Proyek Startegis Jabar ke UAE
    Atalia Raih Penghargaan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan dari KKP
    Pemprov Jabar Pastikan Persiapan Natal dan Tahun Baru 2020 di Semua Sektor
    Bahas Revitalisasi Situ Bagendit & Kalimalang, Emil Gelar Pertemuan dengan Kementerian PUPR
    DPRD Jabar Dukung Penuh Situs Gunung Padang  Jadi Destinasi Wisata Unggulan Kelas Dunia

    Editorial


    • Teladani Semangat Pahlawan
      Teladani Semangat Pahlawan

      HARI Minggu (10/11/2019) ini bangsa Indonesia memeringati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November mencatat peristiwa besar.