blog counter

Pemprov Gelar Pelatihan Smart Disaster Management

  • Kamis, 12 September 2019 | 16:17:00 WIB
  • 0 Komentar


Pemprov Gelar Pelatihan Smart Disaster Management
Pelatihan manajemen kebencanaan secara pintar istimewa/humas pemprov jabar

JuaraNews, Bandung - Sebanyak 30 orang mengikuti pelatihan Smart Disaster Management atau pelatihan manajemen kebencanaan secara pintar, yang digelar Pemprov Jabar bersama East West Center (EWC).

Para peserta, yang terbagi dalam 5 kelompok, memaparkan ide atau konsep penanganan kebencanaan di Jabar sampai tahun 2040 kepada Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Pemaparan itu dilakukan dalam acara penyerahan sertifikat sekaligus evaluasi pelatihan Smart Disaster Management di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandardinata Kota Bandung, Kamis (12/9/2019).

Melalui pelatihan tersebut, Emil meminta agar ada cetak biru Buku Ketangguhan Budaya Jawa Barat atau Resilience Culture Province, yang menjadi bagian dari komitmen Pemprov Jabar saat ini. Dia pun memberikan tenggat waktu 3 bulan kepada BPBD Jabar untuk membuat buku tersebut.

"Ini salah satu komitmen politik tentang Jabar Resilience Culture Province (Budaya Ketangguhan Jawa Barat)," ucap Emil.

Pemateri dalam pelatihan ini merupakan ilmuwan-ilmuwan kebencanaan dari Hawaii melalui EWC. Dengan pelatihan tersebut, para peserta diminta untuk memberikan kontribusi atau pemikirannya terkait kesiapan Jabar dalam penanganan kebencanaan hingga 2040.

"Supaya hasilnya konkret saya kasih waktu tiga bulan sampai akhir 2019 untuk segera menerbitkan buku Jabar Resilience Culture Province versi pelatihan ini," kata Emil.

Pada kesempatan ini, Emil juga menginstruksikan Diskominfo Jabar untuk membuat aplikasi kebencanaan Jabar yang bisa diakses oleh semua warga Jabar. "Sehingga, pada saat terjadi bencana, bisa lebih dekat dan melakukan tindakan emergency yang lebih relevan," katanya.

"Termasuk konten-konten edukasi (kebencanaan) bisa di situ (aplikasi) dilihat, bisa dalam bentuk video, dan lain-lain," lanjutnya.

Selain itu, kata Emil, Pemprov Jabar akan membuat maskot fauna yang menjadi representasi ketangguhan Jabar dalam menangani kebencanaan. Maskot tersebut akan diberi nama ‘Resi’ yang berasal dari kata 'Resilience'.

"Supaya nanti ketika kita mengedukasi anak TK, anak SD yang masih awam, kita menggunakan cara-cara yang sifatnya hiburan sambil melatih mereka untuk menjadi generasi yang lebih siap (terhadap kebencanaan) dari kita-kita orang tuanya di hari ini," ucapnya.

Jabar sendiri menjadi provinsi dengan jumlah kebencaan tertinggi di Indonesia. Setiap tahun ada 1.200-1.500 laporan kebencanaan di Jabar. Mayoritas adalah bencana hidrologis seperti longsor, luapan air sungai yang mengakibatkan banjir, dan lainnya.

"Kita harus jadi masyarakat yang adaptif, masyarakat yang hari esok lebih baik dari hari ini. Caranya dimulai dari niat. Saya apresiasi orang-orang hebat ini (peserta seminar) yang mewakili unitnya," katanya.

Kepala Pelatih dan Fasilitator EWC Scheirman Cruz menjelaskan, dalam pelatihan, para peserta diajak untuk memikirkan rencana strategis penanganan kebencanaan di Jabar hingga 2040. "Bagaimana penanganan bencana untuk masa depan bisa direncanakan dari sekarang," ucap Shceirman.

"Dan di sini para pesera akan memamparkan bagaimana model atau strategi penanganan bencana Jawa Barat di masa depan tepatnya di tahun 2040, yang akan bisa menjadi peta jalan bagi Jawa Barat," tambahnya.

Pelatihan berlangsung selama 5 hari, mulai tanggal 8 hingga 12 September 2019. Para peserta berasal dari pemangku kepentingan kebencanaan dari 27 kabupaten/kota, serta beberapa pegawai BPSDM Jabar.

Ada berbagai konsep gagasan yang disajikan para peserta. Berbagai konsep ide yang muncul dari para peserta pun mendapat apresiasi dari Emil sebagai pemikiran yang sangat baik. Seperti konsep Jabar Tangguh Bencana 2040. Konsep ini menggunakan pendekatan ide, natural, sosial, budaya, ekonomi, dan politik dengan dukungan teknologi.

Sementara konsep lain yakni menekankan pendekatan sinergi program dengan aturan yang logis. Artinya, pembangunan konsep penanganan kebencanaan harus berbasis ilmiah atau kajian.

Ada pula konsep penanganan bencana berbasis pada regulasi atau aturan yang menjadi kebijakan pemerintah. Konsep ini mengharuskan adanya penguatan kelembagaan, di mana kolaborasi antara pemerintah dengan akademisi, serta dunia pariwisata terintegrasi dengan baik. Konsep ini berbasis aplikasi yang menyajikan data center seputar kebencanaan hingga peringatan kebencanaan yang mudak diakses oleh masyarakat. (*)

Oleh: JuaraNews / den

0 Komentar
Tinggalkan Komentar
Cancel reply
0 Komentar
Tidak ada komentar
Berita Lainnya
Bangun Optimalisasi Komunikasi DPRD Jabar Gelar Kegiatan Saba Desa
Jelang Muscab, Aceng Roni Syahbana Daftar Calon Ketua DPC Partai Demokrat Garut
Gubernur Ridwan Kamil Dukung Daud Ahmad Jadi Ketua Umum KONI Jabar
Konflik di Hutan Sudah Terjadi Sejak Terbit SK Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup
DPRD Jabar Siap Sampaikan Aspirasi Serikat Buruh Terkait Kesejahteraan Pekerja
Berita Terdahulu

Editorial


    Lebaran Fraksi PKB Jawa Barat
    Iklan Lebaran Pemkot Bandung

    Data Statik Covid-19


    DATA COVID-19 INDONESIA

    😷 Positif:

    😊 Sembuh:

    😭 Meninggal:

    (Data: kawalcorona.com)

    Ads