web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


    Habibie, Presiden Pertama yang Dimakamkan di TMP
    net Jenazah BJ Habibie dimakamkan di TMP Kalibata

    Habibie, Presiden Pertama yang Dimakamkan di TMP

    • Kamis, 12 September 2019 | 15:58:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Jakarta - Almarhum Presiden ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (12/9/2019) siang.

    Posesi pemakaman Habibie yang meninggal dalam usia 83 tahun tersebut dilakukan dalam upacara militer yang dipimpin langsung Presiden Joko Widodo.

    Habibie dikebumikan tepat di samping makam istrinya, Hasri Ainun Besari. Pusara keduanya menempati slot nomor 120-121, blok M. Habibie sendiri menjadi presiden pertama Indonesia yang dimakamkan di TMP Kalibata. Tiga presiden sebelumnya telah wafat diketahui tidak dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka dimakamkan tempat pemakaman keluarga masing-masing di daerah kelahirannya.

    Presiden pertama Soekarno yang meninggal pada 21 Juni 1971 dimakamkan di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanawetan, Blitar, Jawa Timur. Kemudian Presiden kedua Soeharto dimakamkan di Astana Giribangun tepatnya di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. Soeharto yang tutup usia pada 27 Januari 2008 dimakamkan disamping makam istrinya, Siti Hartinah atau Tien Soeharto serta kedua orang tua Tien.

    Lalu Presiden keempat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang meninggal dunia pada 30 Desember 2009 dikebumikan di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

    Sementara untuk jajaran Wakil Presiden, ada 3 orang yang dimakankan di TMP Kalibata. Ketiganya, yakni Wakil Presiden ketiga, Adam Malik; Wakil Presiden keempat, Umar Wirahadikusuma, dan Wakil Presiden kelima, Soedharmono. Sedangkan untuk Ibu Negara, ada 2 yang dimakamkan di sana, yakni Ibu Ainun Habibie; dan Ibu Ani Yudhoyono, istri dari Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono.

    Dimakamkan dalam Upacara Militer

    Jenazah Habibie sendiri diberangkatkan dari rumah duka di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan menuju TMP Kalibata pada Kamis (12/9/201) sekitar pukul 12.00 WIB. Sesampai di pemakaman, jenazah diangkut oleh 8 personel TNI/Polri yang diiringi langsung oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan 3 kepala staf angkatan TNI, yakni KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa, KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, serta KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna, yang menerima jenazah Habibie untuk dimakamkan secara militer.

    "Saya Presiden RI atas nama negara bangsa dan TNI dengan ini mempersembahkan ke persada Ibu Pertiwi, jiwa raga dan jasa jasa almarhum, nama Prof Dr Ing H BJ Habibie. Jabatan Presiden ke-3 RI, putra dari Bapak Awi Abdul Jalil Habibie almarhum, yang telah meninggal dunia demi kepentingan serta keluruhan negara dan bangsa pada Rabu (11/9/2019) pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Soebroto karena sakit. Semoga jalan darma bakti yang ditempuhnya dapat menjadi suri teladan bagi kita semua dan mendapat tempat yang semestinya di alam baka," ujar Presiden Jokowi dalam sambutannya sebagai inspekstur upacara.

    Presiden Jokowi menilai jasa BJ Habibie ketika menjadi Presiden begitu berdampak pada kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Jokowi mengatakan iklim demokrasi saat ini tak terlepas dari peran Habibie.

    "Kita juga tidak akan pernah lupa jasa beliau ketika menjadi Presiden Republik Indonesia yang saat itu beliau dengan cepat meletakkan serta menguatkan fondasi demokrasi Indonesia yang kita semua turut nikmati hingga saat ini," kata Jokowi.

    Habibie diangkat menjadi Presiden ketiga setelah Soeharto menyatakan mundur pada 1998. Saat itu, Habibie harus menghadapi tantangan di masa transisi dari Orde Baru ke Reformasi.

    Jokowi mengatakan Habibie adalah negarawan yang terus memikirkan kebaikan bangsa Indonesia. Jokowi melihat Habibie memberi kontribusi terhadap Indonesia lewat visi riset dan teknologi.

    "Almarhum tidak hanya berpikir diri sendiri namun berpikir apa saja yang terjadi bukan saja tentang apa yang terjadi saat ini, bukan juga hanya untuk 1-2 tahun mendatang. Beliau berpikir untuk 50 tahun ke depan, 100 tahun ke depan, hingga Indonesia bisa tinggal landas," ujar dia.

    Saat jenazah Habibie diturunkan ke liang lahad, bendera Merah Putih dibentangkan setinggi dada. Dua putra Habibie, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie, ikut membantu penurunan jenazah sang ayah ke liang lahad. Penghormatan terakhir pun ditandai dengan tembakan salvo.

    Sebelum liang lahad ditutup, keluarga Habibie melakukan tabur bunga. Alunan musik lagu 'Gugur Bunga' menambah haru prosesi pemakaman.

    Sepanjang upacara, para keluarga, kerabat, personel TNI, para tokoh dan warga mendampingi prosesi dikebumikannya sang bapak teknologi Indonesia itu. Tampak beberapa di antaranya Wapres Jusuf Kalla (JK), Presiden kelima Megawati Soekarnoputri, dan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

    Sementara putra BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie, mengajak bangsa ini untuk meneladani sifat ayahnya semasa hidup. Ilham mengatakan banyak yang bisa dipelajari dari BJ Habibie sang guru bangsa.

    Ilham awalnya berbicara soal perjuangan Habibie di teknologi, seperti yang juga disampaikan Presiden Jokowi. Ilham lalu mengenang kisah cinta sang ayah dengan ibunda, Hasri Ainun Besari.

    "Begitu setia Bapak dengan Ibu sampai dengan wafat dan sekarang pun dikuburkan di sebelah Ibu. Insya Allah, mudah-mudahan mereka untuk selamanya bersama berdua di sisi Allah SWT di surga, di akhirat, di alam baka. Marilah kita belajar dari seorang guru bangsa, bagaimana beliau punya sikap," kata Ilham.

    Ilham lantas mengingat momen 9 tahun silam saat pemakaman ibundanya, Hasri Ainun Besari. Sejak ibundanya meninggal, kata Ilham, Habibie selalu datang ke makamnya setiap hari Jumat.

    "Mereka sekarang bisa bersatu, bersatu dalam akhirat, sesuatu hal yang didamba-dambakan bapak semenjak ibu wafat. Bayangkan bapak itu tiap hari tahlilan, setiap hari Jumat atau lebih, ke makam untuk berdoa," ujar dia.

    "Dan yang terakhir dari kacamata kami adalah memberikan contoh mengenai cinta. Cinta itu adalah cinta tentunya suami istri, cinta kepada sanak saudara, kepada pekerjaan, negara dan bangsa, cinta kepada dunia ini, cinta seluas-luasnya. Itulah bapak, Pak Habibie. Namanya adalah Habibie, yang mencintai yang dicintai," paparnya.

    Ilham mengatakan, BJ Habibie selalu mau terus belajar semasa hidupnya. Sampai jelang akhir hayat pun Habibie tetap menitipkan pesan-pesan untuk keluarganya.

    "Biarpun bapak sudah mau wafat, Bapak panggil keluarga untuk minta kita bagaimanapun dalam situasi apapun bersatu dan persatuan ini saya kira bisa kita terapkan kepada kita di Indonesia, keluarga Indonesia, itu penting. Kita adalah keluarga semuanya," ucap Ilham.

    "Semangat ini diterapkan untuk mewujudkan cita cita bangsa, negara, umat dan dunia. Sampai jumpa di akhirat, Bapak yang tercinta. Selamat jalan dan kita mencintai Papa dan Eyang semuanya," tutur Ilham. (*)

    Oleh: JuaraNews / den

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Mahasiswa Bandung Demo Menolak Revisi UU KPK
    Pemprov Jabar Dorong Percepatan Tol Cisumdawu
    DPRD Jabar Usulkan Penambahan Pimpinan
    DPRD Jabar Umumkan Calon Pimpinan Dewan 2014-2024
    Emil Setuju Nama BIJB jadi Bandara Habibe

    Editorial