web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


    Jabar–WWF Kerja Sama Konservasi Lingkungan Hidup
    istimewa/humas pemprov jabar Ridwan Kamil dan Rizal Malik usai penandatanganan

    Jabar–WWF Kerja Sama Konservasi Lingkungan Hidup

    • Jumat, 6 September 2019 | 19:28:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Bandung – Pemprov Jabar menandatangani nota kesepakatan dengan World Wildlife Fund of Nature (WWF) Indonesia terkait optimalisasi konservasi lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan di Tanah Pasundan.

    Kesepakatan ditandatangani Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan CEO WWF Indonesia Rizal Malik di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandardinata Kota Bandung, Jumat (6/9/2019).

    Emil mengatakan, kerja sama dengan WWF Indonesia tersebut berjangka panjang dan menjadikan Jabar ebagai mitra utama dalam program pelestarian lingkungan. Dia menyebut kerja sama ini menyangkut program edukasi, rehabilitasi, konservasi, termasuk penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

    “Kita nanti akan terjemahkan melalui berbagai program. Ada edukasi, rehabilitasi, konservasi, juga terkait penanganan Citarum kita akan kerja samakan, mereka punya ahli-ahli (lingkungan) dunia, karena mereka organisasinya organisasi dunia,” kata Emil.

    Kerja sama dengan WWF Indonesia menjadi bagian dari visi misi Jabar Juara Lahir dan Batin melalui Kolaborasi dan Inovasi. MoU Jabar-WWF Indonesia menjadi perwujudan dari visi kolaborasi atau kerja sama Pentahelix (Academician, Business, Community, Government, Media). Dimana kerja sama ini sebagai implementasi kolaborasi antara unsur Government (pemerintah) dan Community (komunitas masyarakat) untuk program green development and sustainable development.

    Tujuan dari kerja sama ini adalah sebagai bentuk implementasi prinsip-prinsip praktik konsumsi, produksi, dan pembangunan berwawasan lingkungan di Jabar untuk mewujudkan Jabar sebagai green province.

    Ruang lingkup kesepakatan antara Pemprov Jabar-WWF Indonesia meliputi, pertama, peningkatan kapasitas dan pendampingan untuk mendapatkan sertifikasi pada sektor bisnis produksi dan/atau ekstraktif berbahan dasar kayu, rotan, dan sawit, serta perikanan budi daya. Kedua, sosialisasi dan edukasi kebijakan dan/atau peraturan tentang pembatasan atau pemilahan sampah plastik pada tingkat individu, rumah tangga, dan kelompok masyarakat.

    Ketiga, dukungan dan kampanye penggunaan energi terbarukan, efisiensi energi, dan peningkatan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim. Keempat, partisipasi dan dukungan untuk pelaksanakan program One Planet City Challenge (OPCC).

    Kelima, partisipasi dan dukungan untuk pelaksanakan program new trees and my baby trees melalui penanaman pohon untuk penghijauan di wilayah kritis. Keenam, gerakan program signing blue sebagai implementasi pelaksanaan prinsip-prinsip pariwisata yang bertanggung jawab.

    Ketujuh, pengelolaan daerah penyangga kawasan konservasi melalui program berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Terakhir adalah kegiatan lain yang disepakati oleh para pihak.

    Pada kesempatan sama, CEO WWF Indonesia Rizal Malik menjelaskan, berbagai upaya yang dilakukan WWF saat ini adalah fokus untuk mengubah perilaku manusia terhadap lingkungan alam.

    “Ataupun mengubah perilaku atau praktik-praktik korporasi yang merugikan habitat dimana kita bergantung keberlanjutan hidup manusia,” ucap Rizal.

    WWF Indonesia pun, kata Rizal, menyambut baik upaya-upaya yang dilakukan Pemprov Jabar dalam mewujudkan visi green province melalui pendekatan pembangunan yang berbasis wilayah. Seperti tetap menjaga keberlanjutan sumber daya alam sangat terbatas.

    “Kami juga melihat berbagai upaya yang sudah dilakukan dalam upaya mengubah perilaku manusia, maupun mengubah praktik-praktik manusia sebagai individu maupun korporasi dalam pengelolaan sampah misalnya, lalu dalam hal yang berkaitan dengan limbah. Itu sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat,” paparnya.

    Menurut Rizal, nilai tambah dari kerja sama yang dilakukan WWF Indonesia dengan Pemprov Jabar adalah Jabar bisa menjadi provinsi model bagi dunia yang ingin belajar dalam praktek pengelolaan lingkungan hidup.

    “Kedua, kami bisa juga membawa pengalaman praktik baik dari tempat lain yang kemudian bersama-sama dengan teman-teman Pemerintah Provinsi Jawa Barat bisa kita uji, bisa kita sesuaikan dengan kondisi yang paling tepat untuk pembangunan di Jawa Barat,” kata Rizal.

    Dia berharap Jabar juga bisa seperti One Planet City Challenge yang memenuhi standar untuk kemudian bisa dibandingkan dengan provinsi atau kota-kota lain di dunia.

    "Dalam upaya itu maka kemudian ada standar yang harus dipenuhi, bila standar itu bisa dipenuhi dan dilewati, maka Jawa Barat itu bisa dibandingkan bahkan bisa bangga mengatakan kita berada pada peringkat yang baik dibandingkan dengan provinsi atau kota lain di seluruh dunia,” tambahnya.

    WWF Indonesia adalah LSM berbadan hukum Indonesia yang merupakan bagian dari network international yang bekerja sama di bidang konservasi dan pembangunan bekelanjutan. Awal mula berdiri WWF Indonesia fokus pada penyelamatan Badak Jawa yang pada saat itu hampir punah.

    Rizal menuturkan bahwa komitmen WWF Indonesia adalah komitmen jangka panjang. “Kami memang memfokuskan pada satwa kunci, seperti badak, gajah, harimau dan orang utan. Di laut ada penyu dan ikan duyung, karena mereka adalah indikator sehatnya habitat kita,” tandas Rizal.

    “Kalau mereka tidak ada itu berarti habitat di mana manusia tergantung di dalamnya itu oksigen, untuk air bersih, dan juga berbagai sumber pangan dan obat-obatan itu berarti sudah terganggu. Jadi, pada prinsipnya WWF itu bekerja untuk manusia,” tutupnya. (*)

    Oleh: JuaraNews / den

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Mahasiswa Bandung Demo Menolak Revisi UU KPK
    Pemprov Jabar Dorong Percepatan Tol Cisumdawu
    DPRD Jabar Usulkan Penambahan Pimpinan
    DPRD Jabar Umumkan Calon Pimpinan Dewan 2014-2024
    Emil Setuju Nama BIJB jadi Bandara Habibe

    Editorial