web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


    Memaknai Arti Kemerdekaan di Era Disrupsi
    net Indonesia memeringati HUT ke-74 Kemerdekaan

    Memaknai Arti Kemerdekaan di Era Disrupsi

    • Selasa, 13 Agustus 2019 | 23:43:00 WIB
    • 0 Komentar

    TANPA terasa kita sudah memasuki tahun ke-74 bangsa ini merdeka. Ada sejumlah hal yang tampaknya harus menjadi catatan kontemplatif dalam memaknai arti Kemerdekaan Republik Indonesia di Era Disrupsi

    Kemerdekaan adalah di saat suatu negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya. Di saat seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi (Wikipedia).

    Disrupsi secara bahasa artinya hal tercabut dari akarnya (KBBI). Dimana adanya gangguan atau masalah yang mengganggu suatu peristiwa, aktivitas, atau proses. Secara garis besar, pengertian disrupsi (disruption) adalah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru.

    Dryarkara (2000) menyatakan bahwa secara individual subjek yang merdeka itu harus punya kekuasaan untuk menguasai diri sendiri dan perbuatannya. Tentu saja, kemerdekaan tidak sama dengan keliaran. Sebab, kemerdekaan bagi seseorang tidak boleh berlawanan dengan kodrat kemanusiaan.Lalu pertanyaanya apa makna kemerdekaan bagi sebuah bangsa?

    Tujuhpuluh empat tahun lalu, bapak bangsa Indonesia Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tapi apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya? Dalam kamus besar bahasa Indonesia, merdeka adalah bebas dari perhambaan, penjajahan, dan lain sebagainya. Di sebuah negara, merdeka diartikan juga menjadi sebuah kebebasan dari belenggu, kekuasaan, dan aturan penjajah.

    UUD 1945 dalam Pembukaannya menyatakan “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan”.

    Sebelum Proklamasi 1945 dikumandangkan oleh bangsa Indonesia, kemerdekaan dimaknai dengan sederhana, yaitu bebas dan terlepas dari belenggu penjajahan Proklamasi adalah pintu awal kemerdekaan Indonesia. Dengan proklamasi maka ini sesungguhnya identik dengan mulai lahirnya sebuah bangsa baru bernama Indonesia yang akan menentukan nasibnya sendiri.

    Hal ini senada dengan pidato singkat Soekarno pada 17 Agustus 1945, ia lantang menegaskan, ”kita sekarang telah merdeka. Peristiwa yang mengikat Tanah Air dan bangsa ini!”. Namun setelah pernyataan ini kemudian bangsa ini memerlukan ikhtiar untuk memastikan terjaga dan terpeliharanya spirit kebangsaan, di antaranya melalui reaktualisasi makna semangat kemerdekaan.

    Dengan demikian diperlukan pemahaman bahwa kemerdekaan yang diperoleh bukanlah tujuan akhir, namun cara bagi masyarakat Indonesia untuk mewujudkan diri menjadi bangsa yang mandiri. Oleh sebab itu komitmen untuk menjaga identitas kebangsaan. Juga semangat membangun karakter bangsa kiranya menjadi makna baru bagi frase kemerdekaan itu sendiri.

    Semangat itu diperlihatkan dengan unjuk potensi diri yang telah tergali sehingga diasumsikan dapat menghadirkan kebanggaan berbangsa Indonesia. Menjelang 17 Agustus pada peringatan 74 tahun kemerdekaan Indonesia dengan segala aktivitasnya tentu perlu dilakukan. Namun lebih dari itu, refleksi kembali mengenai perjuangan kita dalam mengisi kemerdekaan tentu harus menjadi perhatian utama.

    Kesejahteraan dan prestasi bangsa adalah hal yang menjadi persoalan yang dihadapi, karena dalam masa pascakemerdekaan, berbagai bentuk ‘penjajahan’ dalam bentuk ekonomi misalnya muncul secara berkesinambungan seolah tanpa henti di tengah kepungan kekuatan-kekuatan global. Dari hari ke hari kita merasa kian kehilangan independensi dan kemandirian serta kemerdekaan hakiki sebagai sebuah bangsa. Ini tentu suatu ironi. Oleh sebab itu yang diperlukan adalah evaluasi dan koreksi atas pekerjaan yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam mengisi kemerdekaan di era disrupsi ini.

    Dengan begitu, kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya dalam mengisi kemerdekaan dapat dihindarkan. Namun apapun yang terjadi optimisme dengan mendorong prakarsa, inovasi, dan bekreasi dari bangsa ini harus selalu ditumbuhkembangkan. Hal ini pula yang dapat direfleksikan dari semangat kemerdekaan para pendahulu bangsa. Meskipun mereka hidup dalam segala keterbatasan, optimisme dalam semangat kemerdekaan selalu ditunjukkan. Bila dahulu rasa optimisme dituangkan dalam semangat meraih kemerdekaan, kini optimisme itu menjadi batu penjuru dari upaya untuk mengisi kemerdekaan.

    Secara jujur juga kita harus katakan bahwa setelah 74 tahun merdeka, selain menghadapi sejumlah masalah. Para pendiri bangsa tampaknya akan bersyukur dan bergembira melihat transformasi bangsa Indonesia di abad 21. Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya tuna aksara, tetapi kini rakyat Indonesia mempunyai sistem pendidikan yang cukup kuat dan relatif mapan, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa dalam berbagai strata pendidikan

    Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.

    Dari bangsa yang hampir seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad 21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah yang tercepat di Asia (Data Asia Development Bank, 2016).
    Dari bangsa yang kerap jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kini telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ketiga terbesar di dunia. Pendek kata, setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad 21 terus tumbuh menjadi bangsa yang relatif semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis.

    Tentu pencapaian ini perlu dijaga bahkan harus ditingkatkan. Beberapa hal yang menjadi poin penting dalam mengisi kemerdekaan ini sekaligus pekerjaan rumah bagi penyelenggara negara adalah kemampuan negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Upaya tersebut harus diwujudkan dengan menjalankan politik luar negeri bebas-aktif, melindungi hak dan keselamatan warga negara di luar negeri, mewujudkan kedaulatan maritim, serta membangun TNI dan Polri yang profesional.

    Lalu apakah pemimpin bangsa ini mampu membangun tata kelola pemerintahan yang bersih efektif demokratis dan terpercaya serta membuka partisipasi publik dalam jalannya pemerintahan. Juga apakah pemerintah ini memiliki kapasitas yang cukup dalam membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dengan semangat kebhinekaan dalam kerangka Negara Kesatuan.

    Kemudian mampukah melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang terbebas dari perilaku kolusi, korupsi, dan nepotisme, serta adakah upaya yang sistemik dalam meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui program wajib belajar untuk mendapatkan manusia Indonesia yang memiliki karakter, layanan kesehatan, serta reformasi agraria, pembangunan rumah susun bersubsidi, dan jaminan sosial. Bagaimana upaya meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor sektor strategis ekonomi domestik yakni dengan membangun kedaulatan pangan, energi dan keuangan serta ikhtiar yang signifikan untuk memberdayakan ekonomi rakyat.

    Kemerdekaan secara restrospektif semestinya menjadi momentum yang tepat untuk mengukuhkan kembali kesadaran pada tujuan kemerdekaan itu sendiri karena sejatinya esensi kemerdekaan adalah bagaimana menjaga semangat untuk mencapai tujuannya di antaranya menjadikan bangsa ini makmur sejahtera yang adil dan berkeadaban. Semoga.

    Sejak awal, Bung Karno sudah merumuskan bahwa kemerdekaan hanyalah jembatan emas. Kita bisa melihat uraiannya pada tulisan “Mencapai Indonesia Merdeka” yang diterbitkan pada 1933. Di situ disebutkan, tujuan pergerakan nasional kita mestilah mengarah pada pencapaian masyarakat adil dan sempurna, yang di dalamnya tidak ada lagi penghisapan, eksploitasi antarsesama untuk dan atas nama kesetaraan dan pemerataan

    Artinya, masyarakat yang hendak kita tuju adalah masyarakat tanpa imperialisme dan kapitalisme. Manifesto Politik Indonesia, yang disusun tahun 1959, dengan terang-benderang mengatakan, “hari depan Revolusi Indonesia bukanlah menuju kapitalisme dan sama sekali bukan menuju ke feodalisme, akan tetapi menuju ke Sosialisme yang disesuaikan dengan kondisi yang terdapat di Indonesia, dengan rakyat Indonesia, dengan adat-istiadat, dengan psikologi dan kebudayaan Rakyat Indonesia.”

    Jadi, itulah tujuan kita. Sedangkan kemerdekaan nasional, kata Bung Karno, hanyalah jembatan menuju cita-cita itu. Pada 17 Agustus 1945 sudah memproklamirkan kemerdekaan nasional kita. Akan tetapi, seperti dikatakannya itu baru sebatas “kemerdekaan politik”.

    Semangat kemerdekaan adalah suatu paham yang dinamis sehingga dapat dimaknai dan diwarnai sesuai dengan konteks zaman yang terus berubah. Akan tetapi, optimisme dan motivasi untuk memajukan bangsa adalah dua hal yang tidak dapat dilepaspisahkan dalam memaknai semangat kemerdekaan itu sendiri berintikan nilai transedental, humanisme, persatuan, nilai-nilai demokrasi dan keadilan.

    Bung Karno mengingatkan, "Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangunkan soal-soal; tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu. Hanya ketidakmerdekaanlah yang tidak memberi jalan untuk memecahkan soal-soal".

    Dengan demikian di era disrupsi ini makna dari kemerdekaan bukanlah akhir segalanya. Ia merupakan permulaan yang membangkitkan tantangan sekaligus menuntut jawaban. Maka dari itu, setiap kali kemerdekaan Indonesia diperingati, setiap kali itu juga kita diingatkan untuk merestorasi puzzle-puzzle yang karena dinamika yang terjadi di negeri ini selalu berserakan dan diperlukan ikhtiar yang terus menerus untuk mewujudkan spirit ke-Indonesiaan yang harus terus-menerus digemakan oleh seluruh elemen bangsa. Semoga. (*)

    Dr Deden Ramdan MSi
    Wakil Rektor III Universitas Pasundan
    Komda Priangan Kulon Paguyuban Pasundan

    den

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Terkait


    Berita Lainnya


    Memaknai Arti Kemerdekaan di Era Disrupsi
    Menikah dan Perjuangan
    Persuasive Relationship untuk Pasutri
    Jangan Seduh Susu dengan Air Panas. Ini Alasannya
    'Ideologi Kaum Alay', Mengancam Masa Depan

    Editorial


    • Teladani Semangat Pahlawan
      Teladani Semangat Pahlawan

      HARI Minggu (10/11/2019) ini bangsa Indonesia memeringati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November mencatat peristiwa besar.


      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Liverpool 12 34
      2. Leicester City 12 26
      3. Chelsea 12 26
      4. Manchester City 12 25
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Bali United 31 64
      2 Borneo FC 32 49
      3 Persib Bandung 32 48