web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


  • Menikah dan Perjuangan
    Menikah dan Perjuangan

    SUAMI dan istri yang sudah menikah, semakin lama komunikasi yang terjadi kurang harmonis.

    Pasca Pemilu, Masyarakat Diminta Tetap Kondusif

    Pasca Pemilu, Masyarakat Diminta Tetap Kondusif

    JuaraNews, Bandung-Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI) Kota Bandung meminta kepada masyarakat untuk tetap menjaga kondusifitas dan menjaga nilai-nilai nasionalisme pasca Pemilu 2019.

    Demikian disampaikan, Ketua Kopri kota Bandung Ajeng Sylva dalam dialog damai bertemakan "merawat kembali nilai-nilai nasionalisme pasca pemilu", Gedung DPD KNPI Kota Bandung, Jumat, (21/6).

    Ajeng mengatakan, masyarakat saat ini khususnya mahasiswa, harus memiliki kesadaran akan pentingnya nasionalisme, terlebih pasca pemilu 2019. Pasalnya, menurut Ajeng konflik yang terjadi di pemilu 2019 tidak lepas dari kurangnya kesadaran masyarakat akan rasa nasionalisme.

    "Mahasiswa sebagai garda terdepan harus mampu merawat kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang mungkin terpecah pasca pemilu, dan harus mampu menjadikan pelajaran atas apa yang terjadi hari ini," ucap Ajeng.

    Selanjutnya, Mabinda PMII Jawa Barat Yosep Yusdiana menuturkan, nasionalisme bukan suatu wacana baru dalam perkembangan berbangsa dan bernegra. Nasionalisme menjadi penting di negara karena berhubungan dan bersinggungan dengan politik kebangsaan di negara ini.

    "Momentum hari ini harus dijadikan pijakan dalam menata masa depan politik kebangsaan, nasionalisme berangkat dari satu keagungan cita-cita anak bangsa bukan atas dasar momen-momen, namun nasionalisme harus tetap dibangkitkan," ujarnya.

    Ditemui di tempat yang sama, staf Komisioner Bawaslu, Iji Jaelani mengungkapkan, bahwa Pemilu 2019 merupakan Pemilu yang paling rumit. Menurutnya mekanisme dan sistem yang berlaku menjadi tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan Pemilu.

    "Pemilu serentak ini menjadi pemilu paling rumit, paling melehkan ada beberapa hal yang menjdi penyebab menjadi begitu peliknya yang pertama di UU Tahun 2017 mengenai mekanisme, kedua menjadi begitu rumit karena adanya sistem proporsional terbuka yang berarti semua Caleg berkompetisi dengan internal partai sendiri," ujarnya.

    Iji juga menambahkan, bahwa Pemilu kali ini memakan proses yang begitu panjang dan dianggap rentan terhadap kepentingan. Meski begitu, Iji berpandangan Pemilu 2019 berjalan demokratis.

    "Kemudian dari sisi tahapan pemilu ini merupakan pemilu terpanjang, lalu adanyan residu politik yang terjadi pada 2014 lalu kemudian mencuat, lalu budaya pragmatis itu tidak bisa dipisahkan masuk kedalam bentuk terselubung dari politik uang, output dalam kemajuan nasioanal pun tidak tercapai karena hanya sekedar memperebutkan kursi," pungkasnya.(*)

    bas

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Mahasiswa KKN UPI Gelar Pelatihan Menyikat Gigi
    Oded M Danial: Dirgahayu Paguyuban Pasundan
    Jabar Minta Penambahan Kuota Haji
    Lantik Dewan Pendidikan, Emil Titipkan 4 Dimensi
    Kecewa, Relawan Gurka Tarik Dukungan dari Emil

    Editorial