web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


    BEM Telkom Gelar Diskusi Peringati Supersemar

    BEM Telkom Gelar Diskusi Peringati Supersemar

    JuaraNews, Bandung-Badan  Eksekutif Mahasiswa (BEM) Telkom University menggelar diskusi publik dalam rangka memperingati 53 tahun terbitnya surat perintah 11 Maret (Supersemar), Jalan Ambon, Kota Bandung, Rabu, (13/3) malam.

    Satu diantara narasumber, Nanang mengatakan nilai yang perlu diambil dalam memperingati terbitnya Supersemar adalah masyarakat perlu bijak melihat sejarah bangsa indonesia. 

    "Jangan sampai kita menjadi terpecah belah karena mendebatkan masa lalu negara Indonesia yang memang secara teraturnya kan berbeda-beda, jadi beda pendapat boleh tapi jangan sampai melibatkan terjadinya konflik," ucapnya.

    Kesalahpahaman masyarakat dalam mencerna sejarah, seringkali berujung pada konflik horizontal. Bahkan, tak jarang berbuntut saling serang terutama kaitan nya menjelang pemilihan umum 2019. 

    Seringkali, masyarakat yang ingin memilih salah satu pasangan melihat latar belakang sejarah dari kedua pasangan tersebut dan hal itu, kata Nanang, merupakan hal yang lumrah.

    Namun, yang lebih penting adalah bukan sekedar kampanye dan memilih salah satu pasangan capres cawapres tapi sejauh mana masyarakat siap konsisten mengawal kebijakan pemerintah, siapapun yang akan memimpin pasca 17 April. 

    "Jangan sampai masyarakat kita itu mengampanyekan salah satu pasangan capres-cawapres tapi ketika pilihannya tidak menang atau menang sekalipun justru tidak mengawal kebijakan-kebijakan yang nantinya bergulir, ini kan bahaya," ujarnya.

    Ditemui usai acara, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Telkom University, Yusuf Sugiyarto mengungkapkan mahasiswa memiliki peran vital dalam mengawal kebijakan pemerintah ke depan.

    Dengan modal pengetahuan yang dinilai lebih dari pada masyarakat umum, maka sudah menjadi kewajiban agar mahasiswa menyampaikan aspirasi-aspirasi masyarakat yang kesulitan menyampaikan keresahan nya.

    "Posisi kita mau seperti apapun tetap menjadi mitra kritis pemerintah sehingga kita tidak mungkin menilai calon, terutama capres-cawapres secara berat sebelah, siapapun yang terpilih yang kita kawal kebijakannya seperti apa," paparnya.

    Namun, ia menuturkan pemerintahan Jokowi saat ini dinilai cukup terbuka dalam menerima masuka terutama yang disampaikan oleh mahasiswa namun masih lemah dalam tindak lanjut atas apa yang menjadi tuntutan mahasiswa.

    "Kaitanya dengan Supersemar, pada intinya kita tidak ingin ada lagi pembatasan terhadap suara-suara kritis kepada pemerintah terutama dari kalangan mahasiswa yang itu terjadi pada masa kepemimpinan soeharto paska terbitnya supersemar pada 1966 sampai tumbang nya orde baru sekitar  1998 sampai 1999," pungkasnya.(*)

    bas

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Terkait


    Berita Lainnya


    Presiden Jokowi Serahkan TKDD 2020 untuk Jabar
    Wagub Jabar: Hari Aksara Internasional Jadi Momentum Berantas Buta Huruf
    Indramayu Daerah Paling Rawan Pelanggaran Pilkada
    Antisipasi Kecurangan Pilkada, Bawaslu Siapkan Sekolah Kader Pengawas
    Pengamat: Pemerintah Perlu Gandeng Perguruan Tinggi Kaji Pilkada Langsung

    Editorial


    • Teladani Semangat Pahlawan
      Teladani Semangat Pahlawan

      HARI Minggu (10/11/2019) ini bangsa Indonesia memeringati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November mencatat peristiwa besar.