web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


  • Menikah dan Perjuangan
    Menikah dan Perjuangan

    SUAMI dan istri yang sudah menikah, semakin lama komunikasi yang terjadi kurang harmonis.

    Semua Saksi Sebut Rp900 Juta Mengalir ke Saku Iwa
    (viva.co.id) Iwa Karniwa (kiri) saat hadir sebagai saksi

    Semua Saksi Sebut Rp900 Juta Mengalir ke Saku Iwa

    JuaraNews, Bandung - Keterlibatan Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Iwa Karniwa dalam kasus suap Meikarta, semakin terang-benderang.

    Para saksi yang dihadirkan untuk mengkonfrontir pernyataan Iwa dalam sidang lanjutan kasus suap perizinan Meikarta di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan RE Martadinata Kota Bandung, Rabu (6/2/2019), semuanya kompak menyatakan bahwa ada aliran uang suap ke kantong Iwa. Berdasarkan keterangan saksi, uang Rp900 juta diberikan ke Iwa dalam 3 kali penyerahan.

    Pada sidang kali ini, ada 4 saksi yang dihadirkan selain Iwa, yakni anggota DPRD Jabar Waras Wasisto, anggota DPRD Kabupaten Bekasi Sulaeman, Kabid Penataan Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Neneng Rachmi, dan Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bekasi Henry Lincoln.

    Saksi pertama, Sulaeman dalam kesaksiannya membenarkan bahwa pada Mei 2017 telah terjadi pertemuan antara Henry, Neneng, dan Iwa di Rest Area KM 38 Jalan Tol Cipularang. Meski mengaku tidak mengetahui tujuan pertemuan itu, Sulaeman membenarkan dirinya bersama Waras menjadi perantara pertemuan mereka bertiga.

    "Kami enggak tahu yang dibicarakan. Beliau bicara bertiga," ujar Sulaeman. Dia mengaku saat Henri, Neneng, dan Iwa bertemu, dirinya bersama Waras menunggu di luar sehingga tidak tahu apa yang dibicarakan.

    Seusai pertemuan singkat itu, Sulaeman menyebut Iwa menginformasikan kepadanya bahwa ada pemberian dari Neneng dan Henry. Saat itu, Iwa mengatakan pemberian itu untuk membantu pembuatan alat peraga kampanye berupa banner untuk sosialisasi pencalonannya pada Pilgub Jabar 2018.

    "Saya mengetahui ada pemberian pada saat Neneng Rachmi dan Henry pulang, Pak Iwa mengatakan ada titipan tuh buat bikin banner. Saya belum tahu itu terkait RDTR (Rencana Detail Tata Ruang). Karena Pak Iwa mau mencalonkan di PDIP, saya tahunya itu," papar Sulaemen. Dia sendiri mengaku saat itu belum mengetahui jenis dan besaran titipan tersebut.

    Setelah pertemuan di jalan tol tersebut, Iwa, Henri, dan Neneng kembali menggelar pertemuan di Gedung Sate, di ruang kerja Sekda Jabar. Sulaeman pun kembali menjadi perantara dalam pertemuan kedua itu.

    "Setelah pertemuan di Gedung Sate selesai, saya baru dikasih tahu pertemuan itu terkait RDTR (proyek Meikarta)," katanya. Bahkan, setelah pertemuan di ruang kerja Sekda Jabar tersebut, Sulaeman mengaku diberi tahu oleh Iwa terkait besaran suap yang diberikan.

    "Tahu pemberian uang setelah satu minggu dari Gedung Sate. Pak Iwa ngasih kode ke saya, ada pemberian buat pembuatan banner sekitar 3," katanya.

    Namun, dia mengaku tidak mengetahui satuan angka 3 tersebut. "Saya tidak tahu 3 itu 3 apa," kilahnya.

    Setelah Sulaeman, Jaksa KPK dan majelis Hakim meminta keterangan Waras. Ketua Fraksi PDIP DPRD Jabar tersebut pun membenarkan telah menerima titipan uang sebanyak 3 kali dari Sulaeman untuk diserahkan kepada Iwa.

    Titipan uang pertama dan kedua diserahkan kepada Iwa melalui sopirnya, Yahya. "Awal Juli 2017 ada lagi titipan uang untuk banner, disimpan di kresek, sekitar Rp300 juta menurut saudara Yahya. Itu sesuai pesan Pak Iwa untuk membuat banner," kata Waras

    Untuk titipan uang ketiga, Waras mengirimkan ke Iwa lewat stafnya bernama Eva Rosiana. "Saat itu saya telepon Pak Iwa. 'Pak ada titipan lagi, perintahnya apa. Antar ke Bandung Mas', kata Iwa," ucap Waras.

    Waras pun menyuruh Eva mengambil uang tersebut dan menyerahkannya ke Iwa. "Saya kasih nomor (telepon) Pak Iwa dan ajudannya. Sorenya Eva laporan titipan sudah diterima oleh orangnya Pak Iwa," jelasnya.

    Pada kesempatan lain, Neneng Rachmi mengaku bertemu Iwa atas saran Henry Lincoln yang saat itu menjabat Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Bekasi. "Saran atasan saya Henry Lincoln, bertemu Iwa, karena ada perantaranya anggota DPRD Kabupaten Bekasi (Sulaeman)," kata Neneng Rahmi.

    Neneng pun membenarkan adanya 2 kali pertemuan dengan Iwa, dan dalam pertemuan tersebut diketahui Iwa meminta disiapkan dana sebesar Rp1 miliar. "Pak Henry berbisik ke saya, Pak Sekda (Iwa) minta disiapkan Rp1 M," ucap Neneng.

    Dia pun langsung meminta pengembang Meikarta untuk memenuhi uang permintaan dari Iwa. "Seluruhnya Rp900 juta, teknis pemberian dua kali," jelasnya. Dia menyebut uang titipan itu diserahkan ke Henry Lincoln untuk diberikan kepada Sulaeman sebelum diserahkan ke Iwa.

    Saat dihadirkan untuk dikonfrontasi terkait tuduhan kepadanya itu, Iwa menjawab singkat bahwa dirinya tidak menerima uang tersebut. "Tidak (menerima uang) Yang Mulia," kata Iwa.

    Saat disinggung soal adanya pembuatan alat peraga kampanye pun, Iwa pun kembali menjawab tidak. "Kami tidak meminta banner, tidak mengasihkan contoh. Hanya dapat informasi, tidak tahu dipasangnya di mana," ucanya.

    Seusai persidangan, Jaksa KPK, I Wayan Riyana menyebut berdasarkan keterangan 5 saksi yang dihadirkannya itu, semuanya menerangkan bahwa ada aliran uang ke Iwa. "Dari 5 saksi, memang menerangkan ada pemberian uang ke Iwa," ujar Riyana.

    Namun, pihaknya memastikan akan kembali menganalisa semua keterangan tersebut meski ada bantahan dari Iwa. "Nanti kami analisa. Bantahan tadi memang pihak penerima uang membantah. Tapi lebih 2 saksi menerangkan ada uang ke Pak Iwa Karniwa," tandas Riyana. (*)

    ude

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Banyak Manfaat Didapatkan Dari Sungai Citarum
    Pentahelix, Jurus Baru Citarum Harum
    Alumni Pesantren Persis Dukung Jokowi-Ma'ruf Amin
    Emil Optimis Penanganan Citarum Harum Lebih Cepat
    Cipayung Kota Bandung Gelar Aksi Solidaritas

    Editorial


    • Gong Xi Fa Chai
      Gong Xi Fa Chai

      SELASA (15/2/209) ini merupakan hari istimewa bagi orang-orang Tionghoa atau keturunan China di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.