web stats service from statcounter

Hot News


  • 1.200 Santri Ikuti Perkemahan Pramuka Nusantara
    1.200 Santri Ikuti Perkemahan Pramuka Nusantara
    • 22 Maret 2019 | 21:38:00 WIB

    SEBANYAK 1200 santri pramuka mewakili Pondok Pesanten di seluruh Jabar mengikuti PPSN ke-4 tingkat Jabar 2019, di Bumi Perkemahan Pramuka, Kabupaten Pangandaran

Inspirasi


  • Menikah dan Perjuangan
    Menikah dan Perjuangan

    SUAMI dan istri yang sudah menikah, semakin lama komunikasi yang terjadi kurang harmonis.

    Menag Minta Guru Besar Aktif Wujudkan Keberagaman
    juaranews/abdul basir Menang Lukman Hakim saat membuka acara

    Menag Minta Guru Besar Aktif Wujudkan Keberagaman

    • Senin, 10 Desember 2018 | 01:53:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Bandung - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan, saat ini kehidupan umat beragama di Indonesia mendapat ancaman serius seiring dengan datangnya era disrupsi dalam segala bidang.

    Ketika informasi sudah bergerak cepat tanpa batas teritorial, pengaruh transnasionalisasi Islam membawa dampak negatif bagi kehidupan beragama dan bernegara.

    Lukman menyebutkan, era disrupsi teknologi telah menyeret umat beragama pada perilaku berlebihan, dengan 2 kutub ekstrem, yaitu konservatifisme dan liberalisme. Keduanya menciptakan ancaman, tidak hanya bagi keberagamaan tetapi juga ke-Indonesiaan.

    Karena itu, Menag meminta para guru besar di perguruan tinggi keagamaan Islam mengambil bagian secara aktif dalam mewujudkan keberagaman yang damai dan moderat di Indonesia.

    Menurut Lukman, saat ini banyak fenomena aktual, seperti maraknya dakwah dengan cara marah, kontroversi bendera tauhid dan isu-isu keislaman politis meluncur ke hadapan publik meluncur begitu saja tanpa tinjauan akademis yang mencerahkan.

    "Mengapa tak pernah ada studi yang mendalam tentang ini? Ini current isuses yang umat menunggu-nunggu,” ujar Lukman di depan 100 guru besar perguruan tinggi Islam dari seluruh Indonesia saat membuka acara The 2nd Islamic Higher Education Professors (IHEP) Summit di Hotel Aquilla, Jalan Junjunan Kota Bandung, Sabtu (8/12/2018).

    Seharusnya persoalan aktual yang terjadi harus direspons dengan pendekatan akademik yang kaya basis ilmiah. Peran guru besar itu tidak hanya seputar pengajaran, riset, kajian ilmiah, dan pekerjaan akademis saja. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah community services. Menag mengkritik para guru besar yang kurang sensitif terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya.

    "Kalau pendidikan hanya dimaknai transformasi ilmu pengetahuan, maka gadget berperan lebih baik. Dalam gengaman tangan, gawai jauh lebih cepat memenuhi kebutuhan pengetahuan dan informasi, melebihi dosen dan guru besar," paparnya.

    Pada kesempatan sama, pakar studi Islam yang menjadi dosen tetap di Monash Universuty Australia, Nadirsyah Hosen mengkhawatirkan angin politik Arab Springs yang membuat negara-negara Islam bergejolak dan akan berdampak ke Indonesia. Dengan cara meniupkan radikalisme dan konservativisme yang merusak keberagamaan Indonesia yang pluralis.

    "Sekarang banyak influencer medsos yang bicara tanpa latar belakang ilmu. Ini investasi kerusakan jangka panjang. Maka guru besar harus merebut kembali wacana publik untuk masa depan agama dan negara,” kata Nadirsyah.

    Di Amerika Serikat yang budaya leterasinya bagus, sambungnya, ternyata bisa ditembus oleh propaganda negatif melalui media sosial. Ketika hoax menjadi panglima dalam mengambil keputusan, maka masa depan bangsa ini dalam bahaya besar.

    Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin mengatakan, pertemuan para guru besar ini merupakan upaya Kementerian Agama dalam melibatkan guru besar secara lebih mendalam dalam memecahkan persoalan fundamental dalam proses menjaga situasi beragama dan berbegara secara kondusif di tengah pengaruh global yang menarik ke arah radikalisme.

    Pada pertemuan yang mengambil tema 'Membingkai Agama dan Kebangsaan' ini Kemenag mendorong para guru besar melahirkan rumusan strategis sebagai solusi problem konservatisme di berbagai level sosial di tanah air. "Dedikasi para guru besar sangat fundamental dalam merespons munculnya konservatisme beragama,” tandasnya. (*)

    Oleh: abdul basir / den

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    1.200 Santri Ikuti Perkemahan Pramuka Nusantara
    Wisata di Jabar Harus di Kelola Agar Berkembang
    Ridwan Kamil Optimistis Pilkada di Jabar Kondusif
    Persepsi Maladministrasi  di Jabar Terendah Kedua
    Pemprov Akan Bangun 20 Jembatan Penghubung Desa

    Editorial


    • Gong Xi Fa Chai
      Gong Xi Fa Chai

      SELASA (15/2/209) ini merupakan hari istimewa bagi orang-orang Tionghoa atau keturunan China di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.