web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Damailah Suporter Sepak Bola Indonesia

    Damailah Suporter Sepak Bola Indonesia

    • Rabu, 26 September 2018 | 10:03:00 WIB
    • 0 Komentar

    PERSETERUAN antara suporter Persib Bandung dan Persija Jakarta, kembali meruncing. Kali ini, laga Maung Bandung kontra Macan Kemayoran pada Pekan 23 Liga 1 2018 yang digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Minggu (23/9/2018) lalu, menelan korban jiwa.

    Adalah Haringga Sirla (23), korban teranyar dari pemusuhan abadi Viking dan The Jakmania. Haringga meregang nyawa di tempat setelah dikeroyok, dianiaya secara tidak beradab oleh sejumlah oknum bobotoh saat hendak memasuki stadion untuk menonton laga bertajuk el-classico tersebut.

    Anggota The Jakmania warga Cengkareng Jakarta ini bersimbah darah akibat hantaman berkali-kali dengan menggunakan balok, helm, kaca, dan keling tangan. Yang lainnya memukul dengan tangan dan kaki hingga menyebabkan korban meninggal dunia.

    Atas kejadian ini, Polisi pun menciduk 8 bobotoh yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Ke-8 tersangka tersebut yakni yaitu Budiman (41), Goni Abdulrahman (20), Cepy Gunawan (20), Aditya Aggara (19), Dadang Supriatna (19), Joko Susilo (31), SM (17), dan DF (16). Mereka dijerat Pasal 170 KUH Pidana karena terbukti melakukan penganiayaan secara bersama-sama yang mengakibatkan korban meninggal dunia, dengan ancaman hukuman mencapai 7 tahun penjara.

    Tewasnya Haringga juga berdampak pada terhentinya roda kompetisi Liga 1 2018. Pada Selasa (25/9/2018), PSSI akhirnya memutuskan menghentikan sementara kompetisi Liga 1 pada Putaran 2 ini untuk ke-18 tim peserta, dengan batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil setelah Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi menggelar rapat dengan jajaran pengurus dan Exco. Putusan juga diambil setelah mendapat desakan dari Kemenpora dan BOPI.

    Kasus tewasnya Haringga bukan yang pertama. Dari catatan Save Our Soccer (SOS), setidaknya ada 7 korban tewas akibat rivalitas kedua kelompok suporter Persija dengan Persib. Sebelumnya Heringga, seorang bobotoh bernama Andrean (22) meninggal sia-sia saat laga Persib versus Persija pada ajang Liga 1 2017 di Stadion GBLA, Sabtu (22/7/2017) lalu. Pada laga yang berakhir dengan skor imbang 1-1 tersebut,

    Ricko menjadi korban pengeroyokan salah sasaran oleh oknum bobotoh saat laga Persib Vs Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Sabtu (22/7/2017) lalu. Pada laga tersebut skor berakhir imbang 1-1. Saat kejadian, oknum bobotoh mengira Ricko adalah suporter Jakmania. Padahal Ricko adalah sosok bobotoh sejati yang berusaha menolong orang diduga Jakmania yang sedang dipukuli. Namun niat mulianya itu berujung tragis. Dia malah ikut diamuk oknum bobotoh hingga akhirnya meninggal setelah dirawat di rumah sakit 5 hari kemudian.

    Yang paling menyita perhatian adalah tewasnya 3 suporter, yakni 1 dari bobotoh, Rangga Cipta Nugraha (22); dan 2 dari Jakmania, Lazuardi (29) dan Dani Maulana (17) saat laga Persija menjamu Persib di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan Jakarta, 27 Mei 2012 pada lanjutan Indonesia Super League (ISL) 2012.

    Nyaris sama nasibnya dengan Haringga, Rangga tewas mengenaskan dikeroyok sejumlah anggota The Jak karena ketahuan sebagai bobotoh. Sedangkan Lazuardi dan Dani menjadi korban salah sasaran dari rekan-rekannya sendiri dari The Jakmania. Nasib keduanya yang tak menggenakan atribut Persija, nyaris sama dengan Ricko yang tewas di tangan sesama bobotoh.

    Selain kelima korban yang tewas di dalam dan sekitar stadion, ada 2 suporter yang meninggal di luar lapangan hijau sepulang menyaksikan laga Persija vs Persib di Stadion Manahan, Solo pada 6 November 2016. Keduanya, yakni Gilang (24) anggota Jakmania asal Pekalongan, tewas karena jatuh dari kendaraan; dan Harun Al Rasyid Lestaluhu alias Ambon (30), The Jakmania dari Kali Malang yang tewas dikeroyok oknum bobotoh di Jalan Tol Palimanan, Cirebon.

    Di luar korban jiwa, puluhan orang juga mengalami luka-luka saat terlibat bentrokan kedua kelompok suporter. Bahkan sejumlah pemain Persib dan Persija pun ada yang terluka, ketika bus yang ditumpangi mereka dilemparin suporter tim lawan.

    Insiden tewasnya Haringga tentu menambah kelam perjalanan sejarah sepak bola Indonesia, khususnya perseteruan Persib-Persija. Mereka menjadi korban sia-sia dari kebencian antarsuporter yang tak jelas dasarnya.

    Sejak digelarnya kompetisi semiprofesional Liga Indonesia, perseteruan Persib-Persija memang selalu menjadi perhatian. Laga-laga dua tim mantan Perserikatan ini selalu diwarnai ketegangan bahkan kericuhan antarsuporter, baik itu di kandang Maung Bandung maupun Macan Kemayoran. Viking dan The Jakmania, selalu berselisih baik di dalam maupun luar lapangan.

    Hal ini pun ditanggapi serius oleh aparat keamanan yang melarang kedua suporter mendampingi timnya melakoni laga tandang baik di Bandung maupun Jakarta, seperti yang diberlakukan pada laga Pekan 23 lalu. Alhasil, perseteruan kedua kelompok suporter, tidak pernah pecah menjadi kerusuhan besar yang menelan banyak korban. Hanya saja insiden-insiden kecil selalu saja mewarnai big match Persib-Persija ini. Ulah oknum suporter tuan rumah yang men-sweeping pendukung lawan, sering kali menelan korban seperti yang menimpa Heringga.

    Tidak ada yang tahu pasti, apa penyebab kebencian ini begitu membara, dan entah siapa yang memulai. Dari tetua kedua kubu pun, bukannya tidak ada upaya mendamaikan para anggotanya. Namun upaya demi upaya selalu gagal, bahkan kebencian tersebut tumbuh membesar.

    Tentu, fanatisme yang tidak sehat ini sudah seharusnya diakhiri. Karena sepak bola bukanlah tempat untuk menebar kebencian dan permusuhan. Permusuhan ini tidak untuk dilestarikan. Kematian Heringga harus menjadi momentum bagi matinya permusuhan antara Viking dan The Jakmania, serta Persib dan Persija.

    Perseteruan dua tim elite Tanah Air ini cukup hanya terjadi di lapangan hijau. Kedua tim bisa bersaing secara sehat untuk mencapai prestasi tertinggi di kancah sepak bola nasional. Persaingan kedua tim tidak perlu merembet ke para pendukung setia mereka yang berlanjut dengan permusuhan abadi di luar lapangan.

    Seperti semangat olahraga yang menjunjung tinggi fair play dan sportivitas, perdamaian di dalam dan luar lapangan harus menjadi acuan setiap elemen sepak bola Tanah Air, termasuk para suporter.

    Jangan ada Heringga-Heringga lain yang menjadi korban sia-sia dari permusuhan antarkomunitas suporter kedua klub. Biarlah Heringga jadi korban terakhir dari sebuah perseteruan, dan menjadi titik awal perdamaian antara Viking dengan The Jakmania. Bahkan harus menjadi titik awal perdamaian antarsuporter semua klub sepak bola Tanah Air. (*)

    Oleh: deni mulyana sasmita / den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Damailah Suporter Sepak Bola Indonesia
    Selamat Bekerja Gubernur Jabar yang Baru
    Mari Kita Berkurban
    • Mari Kita Berkurban

      SEKITAR 2,1 miliar umat muslim di seluruh dunia serentak memeringati Hari Raya Idul Adha yang pada 2019 ini jatuh pada hari Rabu Selengkapnya..

      • 22 Agustus 2018
    Dirgahayu Republik Indonesia
    Selamat Memilih

    Editorial

      Advertisement On Google

      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Liverpool 13 33
      2. Tottenham Hotspur 13 30
      3. Chelsea 13 28
      4. Arsenal 13 27
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Persija Jakarta 34 62
      2 PSM Makassar 34 61
      3 Bhayangkara FC 34 53