web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Beasiswa Dicabut, Arnita Akhirnya Bisa Kuliah Lagi
    net Arnita Rodelina Turnip

    Beasiswa Dicabut, Arnita Akhirnya Bisa Kuliah Lagi

    JuaraNews, Bandung - Arnita Rodelina Turnip, mahasiswi Fakultas Kehutanan Insititut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 2015 yang sempat dicabut beasiswa utusan daerah (BUD) akhirnya bisa melakukan perkuliahan kembali.

    Hal tersebut diungkapkan, Kuasa Hukum Arnita, Aldwin Rahadian saat ditemui di kota Bandung, Minggu (5/8/2018).

    "Hari Senin besok kita mau ke IPB untuk meregistrasi kembali dan tanggal 1 September Arnita bisa kuliah lagi," kata Aldwin.

    Dia menjelaskan, sebelum aktif kembali sebagai mahasiswi, gadis asal Sumatra Barat ini berkeluh kesah di media sosial karena mendapatkan surat bahwa hak beasiswa dicabut Pemkab Simalungun tanpa ada dasar apapun.

    Alasan pemberhentiannya memang tidak jelas. Dari 5 nama yang beasiswanya dihentikan, hanya nama Arnita yang keterangan alasan pencabutannya tidak jelas

    "Jadi nggak ada alasan ini, tiba-tiba di September 2016 mendapat surat pemberhentian beasiswa, semuanya ada 5 orang. Yang lain keterangannya karena DO (drop out) tidak memenuhi syarat, Anita ini hanya diselipkan saja," paparnya.

    Dia mengungkapkan, hal pencabutan seharusnya memgacu pada 4 faktor yang bisa memutuskan beasiswa itu sendiri. Keemapt faktor tersebut, yakni nilai IP dibawah 2,5. Sedangkan Arlita sendiri Indeks Prestasi (IP) 2,8. Kemudian faktor tercela ataupun kena kasus tindak pidana, sementara Arlita tidak terlibat kasus tersebut. Ketiga, melaporkan laporan keuangan per semester, dan Keempat, sanggup lulus kuliah tempat waktu dalam 9 semester.

    "Dalam perjanjian di Pemkab, ada 4 faktor yang bisa membuat atau pun dicabut hak beasiswanya, jadi tidak bisa asal diputuskan," tandas Aldwin.

    "Jadi tidak ada alasan, ini tiba-tiba pada September 2016 mendapat surat pemberhentian beasiswa," sambungnya.

    Berdasarkan keterangan Arnita, ujar Aldwin, ada kabar salah seorang senior melaporkan ke Kepala Dinas Pendidikan dan ke Sekertaris Daerah jika yang bersangkutan menjadi mualaf. Kabar Arnita menjadi mualaf, ternyata membuat pemilik kebijakan tidak berkenan.

    "Saya datang menindaklanjuti ke Ombudsman RI. Kkita minta progres yang cepat termasuk untuk menelepon Ombudsman perwakilan di Sumatera,"jelasnya.

    Aldwin menegaskan, dunia pendidikan tidak boleh didasari oleh masaah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Menurutnya, ini akan menjadi insiden buruk dalam dunia pendidikan dan potensi pemecah belahan bangsa. Beasiswa Arnita harus diberikan sampai masa akhir kuliah karena itu bukan uang pribadi melainkan uang negara.

    "Arnita ini mahasiswi berprestasi, pernah juara olimpiade kimia. Tidak ada di dunia pendidikan di dasari oleh sara," tuturnya.

    Dia menambahkan, hal Ini harus direspons cepat oleh Kementerian Pendidikan dan pihak perguruan tinggi , agar memberikan imbauan kepada pejabat di daerah, supaya taat pada sistem pendidikan nasional yang menyatakan bahwa tidak ada SARA dalam kebijakan pendidikan. "Hari Senin besok kita mau ke IPB untuk meregistrasi kembali dan tanggal 1 September Arnita bisa kuliah lagi," kata Aldwin.

    Disinggung soal seberapa sering terjadi khasus serupa di Indonesia, Aldwin mengakui, kasus seperti itu mungkin terjaadi juga di beberapa daerah lain, namun yang baru ditanganinya hanya kasus Arnita. (*)

    Oleh: abdul basir / den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    UF Kembali Dapat Dukungan Dapil 3 Jabar
    Iriawan: Maknai HUT RI dengan Aksi Nyata
    Indonesia Jadi Tujuan Melanjutkan Pendidikan
    PT KAI Siap Sukseskan Asian Games 2018
    Aher tak Bisa jadi Calon Wakil Gubernur DKI
    Berita Terdahulu

    Editorial

    • Dirgahayu Republik Indonesia
      Dirgahayu Republik Indonesia

      PADA 17 Agustus 2018, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-73 tahun. Memeringati terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan.

      Advertisement On Google