web stats service from statcounter

Hot News

  • Saatnya Bangkit
    Saatnya Bangkit
    • 15 Oktober 2018 | 12:33:00 WIB

    MARIO Gomez bertekad membawa timnya meraih kemenangan pada laga tandang kontra Persipura di Stadion Mandala, Jayapura, Senin (15/10/2018) sore.

Inspirasi

    Orang Tua Murid Batal Jalan Kaki Bandung-Jakarta
    Net Ilustrasi.

    Orang Tua Murid Batal Jalan Kaki Bandung-Jakarta

    JuaraNews, Bandung - Aksi jalan kaki sejumlah orang tua dari Bandung menuju Jakarta sebagai bentuk protes atas sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018 di Kota Bandung, batal dilakukan.

    Aksi tersebut dibatalkan setelah sejumlah orangtua murid melakukan audiensi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung, Senin (23/7/2018). Awalnya para orangtua murid tersebut berencana melakukan aksi jalan kaki dari Bandung menuju Istana Merdeka, Jakarta untuk menyampaikan keberatan mereka atas pemberlakukan sistem zonasi pada PPDB.

    Mereka memprotes penerapan PPDB sistem zonasi yang dinilai tidak adil serta sebagai wujud kekecewaan terhadap Pemkot Bandung yang tidak merealisasikan janjinya untuk menempatkan siswa yang tidak lolos sistem zonasi. Meskipun di antara mereka mempunyai nilai rata-rata di atas 9.

    "Aksi ini kami batalkan karena aspirasi kami sudah diakomodir oleh Disdik Kota Bandung," kata perwakilan orangtua murid, Mansurya seperti dilansir Pikiran-rakyat.com, Senin (23/7/2018).

    Hasil pertemuan dengan Disdik Kota Bandung membuat orangtua bisa bernapas lega. Bersama Mansurya, ada sekitar 10 wali siswa yang akhirnya bisa memasukkan anak-anaknya ke SMP. "Langkah pemerintah ini perlu diapresiasi," ujarnya.

    Seperti diungkapkan, Kabid Pembinaan dan Pengembangan Disdik Kota Bandung Hadiana Soeriaatmadja, pemenuhan aspirasi itu tetap dilakukan berdasar pada aturan yang berlaku.

    Hadi menjelaskan, pemerintah hanya mengabulkan tuntutan orangtua yang anaknya tidak lolos zonasi akibat kesalahan sistem. Orangtua juga harus sudah melayangkan keberatan melalui layanan pengaduan PPDB.

    "Saat sistem memetakan jarak dari rumah ke sekolah, tidak menutup kemungkinan ada kesalahan. Sehingga tidak diterima di sekolah, nah itu yang kami kabulkan permintaannya," kata Hadi.

    Meski ada penambahan siswa, Hadi mengatakan, hal itu tidak mengubah rasio rombongan belajar, yaitu 1:32. "Ada yang satu sekolah tambah satu siswa. Tidak semua ke negeri, ada juga yang ke swasta," ujar Hadi. Meski ia mengakui lebih banyak siswa akhirnya masuk ke SMP negeri.(*)

    fan

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Jabar Butuh 1.500 Penerbangan untuk Layani Umrah
    Emil Ingin Jabar Jadi Provinsi Kopi Terbaik Dunia
    Ngopi Saraosna Gratis Sambil Nikmat Hiburan
    Festival Ngopi Saraosna Vol 6 Resmi Dibuka
    Netralitas ASN Isu Penting dalam Pemilu 2019
    Berita Terdahulu

    Editorial

      Advertisement On Google