web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    AHY: Generasi Muda Siap, Indonesia Siap!
    istimewa AHY saat memberikan ceramah umum

    Kuliah Umum di RSIS Singapura

    AHY: Generasi Muda Siap, Indonesia Siap!

    JuaraNews, Singapura - Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono optimistis generasi muda Indonesia bisa berkolaborasi dan bekerja sama untuk masa depan yang lebih baik.

    AHY mengungkapkan, dalam perjalanannya memang akan selalu ada tantangan yang harus dihadapi. Namun, menurutnya, jika dilakukan bersama-sama, Indonesia bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik, yakni mencapai Indonesia yang sejahtera.

    "Kepada generasi muda saya menyerukan 'selalu harus siap'. Selalu cari cara untuk mengembangkan kapasitas, melatih kedisiplinan diri, kerja keras, dan menggelorakan semangat pantang menyerah. Suatu hari, saat itu akan datang ketika negara membutuhkan kita. Dan kita harus siap menjawab panggilan itu. Indonesia Siap!" seru AHY saat memberikan kuliah umum yang digelar S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU) di Marina Mandarin, Vanda Ballroom Singapura, Jumat (13/7/2018) sore waktu setempat.

    Dalam kuliah umum yang bertajuk 'Unleashing the Potential of Young Indonesians: Opportunities and Challenges in a Vibrant Democracy', AHY menjelaskan, ke depan generasi muda harus siap menghadapi 3 potensi tantangan yang memiliki pengaruh signifikan terhadap Indonesia.

    "Pertama, mari kita lihat dari sisi lanskap politik, meningkatnya sosial media memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dan membangun opini mereka secara pribadi dan publik," ujar sebagai Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) untuk Pemilukada 2018 dan Pilpres 2019 Partai Demokrat tersebut.

    Hal tersebut, menurut AHY, membawa dampak negatif dan positif. "Dampak positifnya, saat ini internet atau teknologi telah membuka bentuk komunikasi yang lebih egaliter. Kalian bisa menjadi masyarakat yang aktif dan mengekspresikan opinimu kepada pemimpin komunitas, atau bahkan kepada Presiden," lanjutnya.

    Namun dampak negatifnya, kebebasan tersebut berpotensi meningkatkan adanya penyalahgunaan internet dan sosial media.

    "Ini juga memiliki pengaruh terhadap meningkatnya hoax, berita palsu, dan bentuk disinformasi lainnya. Hate speech secara kilat dapat tersebar kemana-mana dengan kandungan diskriminasi atau kejahatan. Hal tersebut berpotensi untuk merusak harmoni dan persatuan negara kita," jelas AHY.

    Merespons hal tersebut, AHY mengingatkan kepada generasi muda bahwa kebebasan juga ada tanggung jawabnya. Ia mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak menyebar hoax dan segala bentuk disinformasi lainnya. "Hate speech bukan berarti free speech," tegasnya.

    Selanjutnya pada tantangan kedua, AHY mengulas adanya pergeseran lanskap ekonomi. "Ekonomi digital terbukti telah menjadi distraksi terhadap bisnis-bisnis besar, dan memberikan keuntungan terhadap usaha-usaha baru (startup) yang muncul," jelas AHY.

    "Meningkatnya ekonomi digital menandakan bahwa generasi muda harus menyiapkan diri mereka dalam menghadapi kompetisi global. Siap atau tidak siap, kompetisi akan datang. Saya percaya bahwa kunci kesuksesan akan bergantung dari kualitas Sumber Daya Manusia kita. Pendidikan adalah payungnya, namun produktivitas dan kreatifitas akan menentukan seberapa mampu kita dalam berkompetisi di dunia ekonomi yang baru," tambahnya.

    Tantangan ketiga berfokus pada pergeseran lanskap sosio-kultural. AHY menjelaskan bahwa generasi millenial saat ini cenderung ingin segala sesuatu secara instan. Pola pikir itu dapat menjadi masalah. "Banyak dari generasi muda saat ini belum bisa mengapresiasi bahwa segala sesuatu itu membutuhkan proses dan waktu. Tidak semua hal bisa didapat secara instan," ucap lulusan pascasarjana jurusan Strategic Studies RSIS, NTU tahun 2006 tersebut.

    Di hadapan para akademisi dan generasi muda itu AHY kembali mengingatkan untuk tidak melupakan pentingnya aspek pertumbuhan manusia. Baginya, pertumbuhan manusia juga menentukan bagaimana manusia dapat menyikapi peningkatan pertumbuhan teknologi di dunia.

    Tiga hal harus dimiliki generasi muda, kata AHY, adalah kapasitas itelektual, karakter dan integritas yang kuat, serta kualitas kepemimpinan yang baik.

    Kuliah umum tersebut diakhiri dengan tanya-jawab AHY dengan para audience. Sambil bernostalgia, peraih penghargaan Nanyang Outstanding Young Alumni Award di tahun 2013 ini menceritakan napak tilas pengalamannya sebagai mahasiswa pascasarjana di Negara Singa itu.

    "Dalam perjalanan saya dari bandara ke kota, saya terkenang hari-hari saya ketika menjadi mahasiswa pascasarjana di Singapura. Salah satunya adalah hari-hari ketika Pak Leonard, dosen saya melibatkan kita dalam diskusi tentang Negara dan Politik Modern di Indonesia. Hidup rasanya jauh lebih mudah kala itu, dan saya terkadang rindu dengan masa-masa itu," canda AHY.

    Turut dalam kuliah umum ini, diantaranya Executive Deputy Chairman of RSIS, Ambassador Ong Keng Yong dan Head of the Indonesia Programme Leonard Sebastian. Sebelum memberikan kuliah umum, pada pagi harinya AHY bertemu dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan dan Dirjen Wilayah Asia Tenggara Kemlu Singapura Ian Mak. (*)

    den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Jokowi Hadiri Peringatan Hari Santri Nasional
    Rumah James Riady Digeledah KPK
    Wagub Jabar Pastikan Gelar RUPS BJB November
    Soal Bupati Bekasi, Uu Konsultasi dengan Mendagri
    Jabar Butuh 1.500 Penerbangan untuk Layani Umrah
    Berita Terdahulu

    Editorial

      Advertisement On Google