web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Brrrr… Embun Es Turun di Kertasari dan Dieng
    Net Fenomena embun es di dataran tinggi Dieng.

    Brrrr… Embun Es Turun di Kertasari dan Dieng

    JuaraNews, Bandung - Fenomena alam langka terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di kawasan pegunungan. Suhu dingin pada malam hari telah menyebabkan embun membeku menjadi es.

    Fenomena itu dilaporkan terjadi di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung dan Gunung Dieng, Jawa Tengah. Suhu dingin juga terjadi di wilayah perkotaan seperti Kota Bandung. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung menganalisa dinginnya udara akhir-akhir ini disebabkan karena Kota Bandung memasuki musim kemarau.

    "Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara di Kota Bandung maupun wilayah Jawa Barat lainnya relatif lebih dingin. Disebabkan datangnya musim kemarau," ucap Kepala BMKG Bandung Toni Agus Wijaya seperti dilansir Detik.com, Jumat (6/7/2018).

    Dalam dua hari terakhir, kata Toni, suhu udara mencapai angka minimal. Bahkan untuk hari ini, berdasarkan alat pengukur suhu udara pada malam hari tercatat mencapai 16,4 derajat celcius dengan kondisi kelembaban yang juga relatif rendah 38%.

    Sementara itu fenomena embun beku melanda kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, Jumat (6/7/2018) dini hari. Fenomena yang disebut masyarakat sekitar dengan istilah ‘Bun Upas’ atau embun racun ini sontak menyulap seluruh permukaan tanah, rumput, pohon, hingga bangunan rumah dan candi menjadi putih seperti tertutup salju.

    Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Parayudhi menjelaskan Bun Upas merupakan fenomena yang terjadi akibat uap air yang terkondensasi secara alami dan mengalami pembekuan akibat suhu ekstrem di kawasan tersebut akhir-akhri ini.

    Secara umum, lanjut dia, Jawa Tengah sudah memasuki musim kemarau, termasuk daerah Dieng, Banjarnegara. Pada musim kemarau, peluang terjadi hujan sangat kecil karena tidak banyak tutupan awan yang berpotensi hujan.

    Hal ini mengakibatkan energi panas matahari yang terpantul dari bumi langsung hilang ke atmosfer. Tidak adanya pantulan panas matahari yang dikembalikan oleh awan menyebabkan udara di permukaan relatif lebih dingin. “Kondisi ini jika terjadi terus-menerus akan menyebabkan udara semakin dingin,” katanya seperti dilansir Kompas.com.(*)

    fan

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Pemprov Upayakan Perpanjangan Runway Wiriadinata
    Bendungan Leuwikeris Ditargetkan Rampung pada 2021
    KPU: Bacaleg tak Bisa Jadi Capres atau Cawapres
    Hanura Konflik, Darus Hengkang ke Partai Nasdem
    Semua Parpol Penuhi Syarat Kuota Perempuan 30%
    Berita Terdahulu

    Editorial

    • Selamat Memilih
      Selamat Memilih

      PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 resmi dihelat Rabu, 27 Juni 2018 ini.

      Advertisement On Google