web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Demiz: Gizi Buruk Ancam Terjadinya Lost Generation
    Istimewa Cagub Jabar nomor urut 4, Deddy Mizwar.

    Demiz: Gizi Buruk Ancam Terjadinya Lost Generation

    JuaraNews, Bandung - Permasalahan gizi buruk di Jawa Barat harus segera diatasi, jika tidak maka Jabar terancam menghadapi situasi dan kondisi lost generation. Hal itu diungkapkan oleh Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 4 Deddy Mizwar (Demiz).

    Dikatakan Demiz, Jawa Barat saat ini masih dihadapkan pada permasalahan serius terkait pemenuhan gizi, khususnya pada anak usia balita. Namun, hal itu bukan berarti hanya Jabar yang menghadapi problem gizi buruk. Sebab masalah ini termasuk masalah global.

    "Gizi anak, ini salah satu program prioritas kita. Oleh karena itu, salah satu program saya yaitu penyediaan pangan dan makanan tambahan bergizi untuk daerah rawan pangan dan masyarakat penyandang gizi buruk," ungkap Demiz setelah menghadiri kegiatan Kartini Perindo di Kampung Telokdengklok, Kelurahan Pasanggrahan, Kota Bandung, Selasa (12/6/2018).

    Lebih jauh Demiz menjelaskan, persoalan rawan gizi pada anak bukan hanya terjadi di Jabar, tetapi merupakan masalah global. Disebutkan, di dunia ini masih ada 159 juta anak yang mengalami rawan gizi, dan sekitar 9juta anak di antaranya di Indonesia. "Ini bisa lost generation kalau dibiarkan," tegasnya.

    Menurutnya, secara kasat mata seorang anak yang mengalami kurang gizi bisa dilihat dari tiga indikator, pertama pertumbuhan fisiknya tidak normal, kecerdasan kurang, dan daya tangkap yang juga kurang. Demiz menegaskan, semua masalah itu jangan hanya mengandalkan negara, tetapi butuh kesadaran masyarakat.

    "Maka harus kita perhatikan kebutuhan gizinya. Kalau orang tua punya duit jangan beli pulsa melulu, ya gak nambah gizi anaknya," katanya.

    Lebih jauh Demiz mengatakan, pemenuhan gizi di Jawa Barat bukanlah masalah sederhana, di mana dari sisi geografis, infrastruktur, termasuk gaya hidup masyarakat sangat berpengaruh terhadap ketersediaan gizi anak.

    "Ketika jembatan rusak atau tidak ada, pasokan bahan pangan jadi terganggu. Karena gaya hidup, orang lebih mendahulukan beli pulsa ketimbang makanan tambahan misalnya, itu semua mempengaruhi, " ujarnya.

    Dalam kegiatan bazar murah Kartini Perindo dan penyuluhan gizi itu, Demiz yang berpasangan dengan Dedi Mulyadi ini menyaksikan langsung proses penimbangan berat badan anak-anak balita.(*)

    fan

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Diduga Terima Suap, Bupati Cianjur Ditangkap KPK
    Ahmad Irfan Dicopot dari Jabatan Dirut BJB
    MQK Cara Jabar Tumbuhkan Minat Baca Kitab Kuning
    Akademi Citarum Tanam Dua Jenis Bambu Endemik
    Ridwan Kamil Launching Desa Digital

    Editorial

      Advertisement On Google