web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    1 Polisi Dibebaskan Napi Teroris dari Rutan Brimob
    net Gerbang Mako Brimob Kelapa Dua Depok dijaga ketat

    1 Polisi Dibebaskan Napi Teroris dari Rutan Brimob

    JuaraNews, Depok - Bripka Iwan Sarjana yang sempat disandera para napi terorisme Rutan Mako Brimob, Kepala Dua Depok, akhirnya berhasil dibebaskan pada Rabu (9/5/2018) tengah malam atau Kamis (10/5/2018) dini hari.

    Iwan yang disandera di selama lebih kurang 29 jam di Blok C Rutan Mako Brimob menderita sejumlah luka. Seusai dibebaskan, Iwan langsung dilarikan ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

    "Kondisinya luka-luka, luka lebam-lebam di muka dan beberapa bagian tubuhnya," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo saat konferensi pers di Mako Brimob, Kamis (10/5/2018) dini hari.

    Setyo mengatakan pembebasan Iwan dilakukan lewat negosiasi. Napi teroris meminta makanan, sedangkan polisi meminta sandera dibebaskan. Anggota Densus 88 Antiteror Polri tersebut berhasil dibebaskan, sedangkan 5 polisi rekan Iwan dibunuh oleh para napi teroris. Sementara dari pihak penyandera, 1 napi teroris tewas oleh petugas karena mencoba merebut senjata milik polisi. Meski sandera dibebaskan, napi teroris masih menguasai sebagian Rutan Mako Brimob.

    Disinggung mengenai apakah masih ada sandra lainnya di dalam Rutan Mako Brimob, Setyo masih merahasiakannya. “Itu sandera polisi yang saya bebaskan dulu. Saya tidak mengatakan begitu (ada sandera lain). Saya tidak akan mengatakan itu karena itu masih harus dirahasiakan,” ujar Setyo

    Hingga kini, negosiasi antara polisi dan para napi teroris masih terus dilakukan. Kendati demikian, Setyo menegaskan, saat ini kondisi Mako Brimob sudah kondusif. Polisi pun melakukan penjagaan ketat di dalam maupun di luar Mako Brimob. Hal tersebut untuk mengantisipasi adanya serangan atau aksi balas dendam dari kalangan teroris dari luar Rutan.

    “Sementara kondusif terkendali, negosiasi yang lain masih kita lakukan karena sejumlah senjata masih ada di dalam.” ujarnya.

    Kerusuhan di Rutan Mako Brimob sendiri terjadi sejak Selasa (8/5/2018) sekitar pukul 21.00 WIB. Berdasarkan keterangan polisi, kerusuhan dipicu protes para napi terorisme yang keberatan petugas rutan memeriksa makanan yang dikirim keluarga napi dari luar rutan.

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Prabowo Yuwono mengungkapkan, peristiwa kerusuhan yang pecah sejak pukul 20.20 WIB tersebut berawal setelah waktu salat Magrib. "Saat salat Magrib selesai, ada napi yang menanyakan titipan makanan dari keluarganya," ujar Argo, Rabu (9/5/2018).

    Lantas dijawab salah satu anggota Direktorat Tahanan Titipan (Tahti) bahwa titipan makanan tersebut dipegang anggota lainnya. Jawaban petugas membuat napi tersebut meradang. Ia kesal hingga mengajak rekan-rekannya untuk melakukan kerusuhan.

    "Napi tidak terima dan mengajak rekan-rekan napi lainnya untuk melakukan kerusuhan dari Blok C dan B. Lalu napi membobol pintu dan dinding sel," ungkap Argo.

    Selanjutnya, keadaan semakin tak terkontrol yang membuat napi menyebar keluar sel dan menuju ke ruangan penyidik. Para napi pun melukai sejumlah petugas. "Kemudian tidak terkontrol lagi napi menyebar keluar sel dan mengarah ke ruangan penyidik dan memukul beberapa anggota penyidik yang sedang BAP tersangka baru," tandasnya.

    Dalam kerusuhan tersebut, para napi teroris berhasil merampas senjata milik petugas yang kemudian digunakan untuk menganiaya dan membutuh para petugas yang disandera. Lima anggota Densus 88 meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Mereka adalah Briptu Luar Biasa Anumerta Fandi Setio Nugroho, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto, dan Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi. Jenazah kelima petugas tersebut baru bisa dievakuasi ke luar rutan dan Mako Brimob pada Rabu (9/5/2018) siang.

    Lima jenazah polisi korban kerusuhan Mako Brimob dibawa pulang ke rumah masing-masing dari RS Polri Kramat Jati pada Rabu (9/5). tirto.id/Naufal Mamduh
    Berdasarkan visum yang dilakukan dokter RS Polri Kramat Jati, mereka rata-rata mengalami banyak luka di sejumlah bagian tubuhnya, bahkan ada korban yang mengalami luka tembak di kepala.

    "Mayoritas luka akibat sajam di leher, saya ulangi, luka akibat senjata tajam di leher, luka itu sangat dalam," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol M Iqbal di Mako Brimob, Rabu (9/5/2018).

    Memang ada luka akibat tembakan di kepala dan di dada kanan, namun mayoritas korban luka senjata tajam di sekujur tubuh.

    "Mayoritas rekan kami yang gugur luka pada sekujur tubuh, paha, lengan, jari akibat senjata tajam. Silakan rekan-rekan media menyimpulkan apakah ini perbuatan manusiawi atau tidak. Tapi sekali lagi, kami hormati proses negosiasi yang kami kedepankan," ujarnya.

    Begini Sadisnya Napi Teroris Bunuh 5 Polisi di Mako Brimob

    Tak hanya itu, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menambahkan, luka senjata tajam itu seperti bacokan. Bahkan ada korban yang disayat kakinya. "Seperti luka dibacok, ada yang ditembak, ada satu orang macam-macam (luka) ada kaki disayat. Nanti dokter (forensik) yang menjelaskan," ucap Setyo.

    Di lain sisi, satu napi terorisme bernama bernama Beni Samsu Trisno. Beni yang merupakan napi untuk kasus teroris di Pekanbaru ini terpaksa dilumpuhkan polisi karena berusaha merebut senjata milik petugas. "Satu dari mereka (napi terorisme) terpaksa kami lakukan upaya kepolisian karena melawan dan mengambil senjata petugas," ujar Iqbal.

    Sebelumnya diberitakan, kerusuhan di Rutan cabang Salemba menyebabkan 5 anggota Polri meninggal dunia, dan 1 lainnya mengalami luka yang berhasil dibebaskan,. Di pihak penyandera, 1 napi teroris juga tewas. Kelima anggota Densus 88 Antiteror Mabes Polri, yakni riptu Luar Biasa Anumerta Fandi Setio Nugroho, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto, dan Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi. Jenazah kelima petugas tersebut baru bisa dievakuasi ke luar rutan dan Mako Brimob pada Rabu (9/5/2018) siang.

    Seorang petugas yang berhasil dibebaskan, yakni Bripka Iwan Sarjana yang sempat disandera para napi terorisme selama lebih kurang 29 jam. Iwan yang menderita sejumlah luka langsung dilarikan ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Di lain sisi, satu napi terorisme bernama bernama Beni Samsu Trisno. Beni yang merupakan napi untuk kasus teroris di Pekanbaru ini terpaksa dilumpuhkan polisi karena berusaha merebut senjata milik petugas. (*)

    den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    PPBN Pramuka Bentuk Generasi Muda Patriotik
    Proyek Bendungan Leuwikeris Paket 1 Sudah 30%
    Pemprov Cairkan Bonus untuk Atlet Paralimpik
    Pindah Ke Nasdem, Darus Mundur dari DPR RI
    Pemprov Upayakan Perpanjangan Runway Wiriadinata
    Berita Terdahulu

    Editorial

    • Selamat Memilih
      Selamat Memilih

      PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 resmi dihelat Rabu, 27 Juni 2018 ini.

      Advertisement On Google