web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Padi yang Airnya dari Citarum Tak Layak Konsumsi
    net

    Padi yang Airnya dari Citarum Tak Layak Konsumsi

    JuaraNews, Bandung Barat – Pencemaran di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sudah teramat parah dan krodit.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Barat, Anang Sudarna mengatakan, sejak 1992 air Citarum sudah berbahaya karena baik limbah industri atau rumah tangga semua dibuang ke Citarum. Setelah puluhan tahun kini dampaknya membuat ikan dan kualitas air Citarum sudah sangat tidak layak konsumsi. 

    "Maaf jika harus saya katakan, bahwa ikan di perairan Citarum dan airnya sudah tidak layak konsumsi karena mngandung limbah B3, mercuri, dan logam berat," sebut Anang saat hadir dalam kegiatan bebersih aliran sungai dari sampah dan gulma bersama PT Indonesia Power Saguling dan TNI di sektor IX di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat (27/4/2018).

    Bukan hanya itu, lanjut Anang, pihaknya juga menemukan beras yang dihasilkan di daerah cekungan Bandung yang airnya dari Citarum mengandung logam B3. Itu menandakan jika air dari Citarum tidak layak untuk digunakan sebagai pertanian. Sebab saat ini kualitas air Citarum masuk kategori kelas 4 atau paling buruk. Padahal, kini ada sekitar 420.000 sawah yang diairi dari DAS Citarum.

    "Sebanyak 6,5 juta ton padi dihasilkan dari air yang diproduksi dari Citarum. Memang kalau kita mengonsumasi tidak langsung mati, tapi dampak jangka panjangnya akan buruk bagi tubuh," terangnya. 

    Dia menilai, upaya penyelamatan Citarum sudah dilakukan melalui Gerakan Citarum Bergetar 2001 dan Citarum Bastari 2014. Itu dilakukam agar Citarum kembali seperti tahun 70 atau 80'an yang bersih. Sebab kalau semua diam maka ke depan Indonesia akan kehilangan listrik, air, dan sumber daya alam lainnya sehingga pasti ketahanan pangan nasional akan terganggu. 

    Baginya, peringatan tersebut ialah sebagai cara agar semua pihak dapat mencarikan jalan keluarnya. Cara yang mudah untuk menangani sampah, ialah paling utama dengan memilah sampah, sehingga itu setidaknya dapat mengurangi setengah persoalan. Berdasarkan data 57% sampah itu kan dari organik dan 43% non organik. (*)

    yan

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Apdesi KBB Minta Plt Bupati Tidak Lakukan Mutasi
    Terlalu Banyak, Dana Bantuan ke LSM Tak Merata
    Hotel di Lembang Sepi karena Pengaruh Macet
    Kisruh, Konfercab PCNU KBB Dituding Cacat Hukum
    1.127 Calhaj KBB Diterbangkan Mulai 28 Juli 2018
    Berita Terdahulu

    Editorial

    • Selamat Memilih
      Selamat Memilih

      PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 resmi dihelat Rabu, 27 Juni 2018 ini.

      Info Kota

      Pilwalkot Bandung 2018