Pos Indonesia

Hot News


Inspirasi


  • Dirgahayu Sat Linmas ke-58
    Dirgahayu Sat Linmas ke-58

    NEGARA Republik Indonesia lahir melalui perjuangan bangsa dan pahlawannya yang melepaskan diri dari penjajahan dan sejajar dengan bangsa di dunia.

    Banjir di Kota Bandung, Demiz: RDTR Harus Diawasi
    Istimewa Cagub Jabar nomor urut 4, Deddy Mizwar.

    Banjir di Kota Bandung, Demiz: RDTR Harus Diawasi

    JuaraNews, Bandung - Sejumlah wilayah di Kota Bandung, Sabtu (21/4/2018) kemarin disergap banjir. Beberapa titik banjir bahkan, kondisinya cukup parah seperti di kawasan Pasteur atau Jalan Dr. Djunjunan.

    Banjir di kawasan Pasteur bahkan, membuat arus lalu lintas tersendat. Wilayah lainnya di Kota Bandung yang tergenang banjir setelah hujan mengguyur sejak siang sampai malam, di antaranya kawasan Pasir Koja, Pagarsih, Babakan Ciparay, Caringin, dan Astana Anyar.

    Cagub Jabar nomor 4, Deddy Mizwar menilai, banjir yang sering terjadi di Kota Bandung karena ada tata ruang yang harus diawasi dengan ketat. Berkurangnya resapan air dan alih fungsi lahan merupakan dua hal yang perlu diawasi dengan ketat itu.

    Sosok yang karib disapa Demiz itu mengatakan, banjir dan longsor merupakan bencana yang akrab di Jawa Barat. Bahkan, katanya, provinsi ini memiliki tingkat bencana yang sangat tinggi. "Di Jabar itu ada tujuh gunung berapi, pertemuan dua lempeng Asia dan Australia, dan ada potensi gempa tektonik yang tinggi," katanya.

    Akan tetapi, lanjut Cagub yang dijuluki Jenderal Naga Bonar ini, bencana itu ada yang terjadi karena faktor alamiah, juga ada yang terjadi karena disebabkan oleh manusia. Bencana yang disebabkan manusia, katanya, terjadi karena manusia itu sendiri tak mengindahkan ketentuan dan aturan yang ada, dalam hal ini peraturan tentang tata ruang.

    Tidak sedikit, katanya, kabupaten dan kota di Jabar yang belum memiliki rencana detail tata ruang (RDTR). Demiz menyebut contoh pembangunan yang tak sesuai tata ruang, seperti pembangunan Meikarta dan banjir di Bandung yang perlu diawasi dengan ketat tata ruangnya.

    "Bukannya tidak boleh membangun, tetapi harus sesuai dengan tata ruangnya," kata Demiz kepada wartawan saat menggelar sosialisasi dan kampanye di Kabupaten Garut, Minggu (22/4/2018).

    Demikian pula halnya di Kabupaten Garut, katanya, keluhan tentang adanya bumi perkemahan di Gunung Guntur pun harus dilihat tata ruangnya. "Apakah sudah sesuai dengan tata ruang atau tidak. Hal itu akan diketahui dengan melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat," pungkasnya.(*)

    fan

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Protokol Kesehatan Ketat untuk Sekolah Tetap Muka di Zona Hijau dan Kuning
    Presiden Jokowi Saksikan Uji Klinis Vaksin Covid-19 Produk Bio Farma
    Gerakan Bermasker di  Masyarakat, Kolaborasi Multi Pihak Kunci Pencegahan   
    Penularan Ditekan hingga 90.  Butuh Dukungan Kolektif Kampanye Penggunaan Masker
    Curhat ke Jokowi Soal Penerima Bansos,Ridwan Kamil: Saya Sedih, Rakyat Jabar Tangannya Dibawah
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Imani Center

      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads