web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Tolak Rumah Deret, Warga Tamansari Demo Balai Kota
    net

    Tolak Rumah Deret, Warga Tamansari Demo Balai Kota

    • Jumat, 20 Oktober 2017 | 06:25:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Bandung - Sejumlah warga RW 11 Tamansari, Kota Bandung mengelar aksi unjuk rasa di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Kamis (19/10/2017) siang. Mereka menolak pembangunan rumah deret di lingkungannya.

    Aksi dimulai dengan berkumpul di Masjid Al-Islam, Tamansari, sekitar pukul 09.00 WIB. Warga kemudian melakukan long march dari Masjid Al-Islam ke Balai Kota Bandung.

    "Warga berencana menemui wali kota, atau wakil wali kota, atau sekda. Tetapi mereka tidak ada di tempat. Katanya wali kota ada di Jakarta, sedangkan wakil wali kota, dan sekda sedang ada keperluan," kata Ketua Forum RW 11 Tamansari Nanang Hermawan.

    Akhirnya massa aksi hanya melakukan orasi dan aksi teatrikal yang menggambarkan penggusuran. Sebenarnya, kata Nanang, pihak Pemkot akan memfasilitasi audiensi dengan mempertemukan perwakilan warga dengan Badan Kesbangpol dan Kepala DPKP3 Kota Bandung. Tetapi massa aksi menolak dan tetap ingin bertemu wali kota. Sehingga pada akhirnya mereka hanya menyerahkan surat penolakan pembangunan rumah deret.

    "Kenapa kami ingin menemui wali kota? Biar wali kota tahu kondisinya seperti apa. Jangan menerima laporan yang ABS (Asal Bapak Senang)," ujarnya.

    Dia mengatakan tidak setuju pembangunan rumah deret karena merugikan warga sebab ganti rugi tidak setimpal.
    “Ternyata minimal luas wilayah bangunan 40 m2 ke bawah diganti tipe 33 yang luas ruangan 20 m2. Bagi yang punya rumah dengan luas 40 m2 ke atas diganti tipe 39, luas ruangan sekitar 25 m2,” jelasnya.

    Rencananya relokasi warga dilakukan dalam waktu dekat. Untuk sementara, warga akan tinggal di Rumah Susun Rancacili hingga pembangungan rumah deret Tamansari selesai.

    Setelah pembangunan selesai, warga dapat menempati rumah deret Tamansari. Rumah deret yang akan ditempati warga, kata Nanang, adalah sebuah gedung 6 lantai berisi 110 unit ruangan. Warga juga akan digratiskan dari beban biaya sewa rumah deret selama 5 tahun. Setelah itu, barulah warga akan dibebankan biaya sewa.

    Namun warga tetap menolak, karena menurut Nanang, biaya sewa dapat membebankan masyarakat.“Kami biar lingkungannya disebut kumuh, kami bayar PBB, ledeng, cukup, tapi ngga ada sewa. Sekarang kan ada beban biaya tambahan, berat untuk masyarakat,” ujarnya.

    Selain penggantian berupa satu unit kamar, Nanang juga mendengar akan ada penggantian uang kerohiman. Tetapi menurutnya penggantian tersebut juga tidak setimpal. Menurut kabar yang didengarnya, penggantian uang kerohiman sebesar 20 persen dari NJOP dikalikan luas bangunan.

    “Uang kerohiman baru dengar kabar bocoran, 20 persen dari nilai NJOP dikali luas bangunan. Benar-benar rugi. Jadi itu dasar kami menolak,” kata Nanang.

    Ia juga mengatakan kekecewaan utama warga adalah karena merasa tidak dilibatkan dalam keputusan untuk pembangunan rumah deret ini. Nanang juga menginginkan lingkungannya ditata menggunakan sistem perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu).

    “Warga ingin dibangun dengan sistem rutilahu, rumah mana yang tidak sesuai itu saja yang diperbaiki,” ujarnya.

    Nanang juga mengatakan sebenarnya tidak semua warga tidak setuju. Ada beberapa warga yang setuju dengan pembangunan rumah deret Tamansari dan beberapa rumah warga pun sudah diukur luas bangunan rumahnya. (*)

    den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Atasi Banjir Rancasari,Tanggul Cidurian Diperbaiki
    UMK Kota Bandung 2018 Naik jadi Rp3,09 Juta
    Wali Kota Bandung Sabet Anugerah Ki Hajar 2017
    Kota Bandung Kembali Raih Smart City Award
    Operasi Zebra, Pelanggaran Naik Kecelakaan Turun
    Berita Terdahulu

    Editorial

    • Teladani Semangat Pahlawan
      Teladani Semangat Pahlawan

      HARI Jumat (10/11/2017) ini bangsa Indonesia memeringati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November mencatat peristiwa besar.

      Pilwalkot Bandung 2018