web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Christine Hakim Dukung Film G30S/PKI Dibuat Ulang

    Christine Hakim Dukung Film G30S/PKI Dibuat Ulang

    • Rabu, 20 September 2017 | 21:38:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews – Kontroversi seputar pemutaran film G30S/PKI, memunculkan wacana film tentang peristiwa kudeta pada 1965 itu akan dibuat ulang. Wacana tersebut mendapat dukungan dari para aktris senior, sebut saja, Christine Hakim dan Jajang C Noor.

    Christine Hakim mendukung usulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membuat ulang film tentang G30S/PKI. "Sekarang gini, (film) Kartini versi baru dibikin oleh Hanung Bramantyo. Dulu juga pernah dibikin oleh almarhum Syumanjaya. Jadi itu bukan sesuatu yang (aneh). Seperti misal, Eros Djarot mau bikin film tentang Sukarno, The Last Day of Sukarno. Itu kan sah-sah saja (ada film) dari perspektif berbeda karena setiap orang punya penilaian subjektif terhadap tokoh sejarah," kata Christine.

    "Jadi kalau misal (film) G30S/PKI mau dibuat lagi dengan sutradara dan sudut pandang berbeda, itu wajar saja. Jadi jangan berprasangka (negatif) dulu. Nanti  rugi sendiri karena itu membuat wawasan menjadi sempit," ungkap Christine.

    Sementara itu, Sineas Jajang C Noer mengaku senang dengan ide Presiden Jokowi yang menghendaki agar film-film lama tentang sejarah Indonesia, salah satunya film tentang G30S/PKI dibuat ulang dalam bentuk yang lebih modern.

    Istri dari sutradara film G30S/PKI Arifin C Noer ini menyebut usulan Jokowi adalah ide cemerlang yang memang patut mendapatkan perhatian para sineas Indonesia. “Senang sekali memang harus begitu, harus diperbarui, dibikin baru sama sekali. Saya senang ini ide yang cemerlang," ungkap Jajang.

    Menurut data FI, film berdurasi 4,5 jam ini menjadi film terlaris di Jakarta pada tahun 1984 dengan capaian 699.000 penonton. Hingga era Presiden Suharto berakhir, film ini selalu menjadi agenda tahunan untuk ditayangkan ke publik.

    Sebagian orang menilai film Pengkhianatan G-30-S PKI (1982)  karya Arifin C Noer, Nugroho Notosusanto, dan G Dwipayana, berisi rekayasa sejarah dan dibuat demi kepentingan politis Suharto. Film ini juga dianggap ikut melanggengkan ketakutan berlebih mengenai komunisme, PKI, dan hal-hal lain yang dilekatkan. (*)


    Oleh: akbar aulia / bar

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    It 2 Tayang di Bioskop pada 6 September 2019
    Kristen Stewart Berakting di Charlie’s Angels
    Di Star Trek Discovery Ada Wayang Kulit
    Ini Aksi Alicia Vikander sebagai Lara Croft
    Canggihnya Robot Baru Pacific Rim Uprising
    Berita Terdahulu

    Editorial