web stats service from statcounter

Hot News

  • Tinggalkan Persib, Ini Pesan Emral Abus
    Tinggalkan Persib, Ini Pesan Emral Abus
    • 22 November 2017 | 08:09:00 WIB

    EMRAL Abus tak akan lagi menangani tim Persib pada musim 2018, setelah kontraknya berakhir seiring usainya kompetisi Liga 1 2017.

Inspirasi

    Bantai Keluarga, Agus Diduga Idap Gangguan Mental
    istimewa/humas polda jabar Agus babak belur setelah ditangkap warga

    Bantai Keluarga, Agus Diduga Idap Gangguan Mental

    • Senin, 4 September 2017 | 23:06:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Bandung - Psikolog dari Universitas Kristen Maranatha Bandung Efnie Indriyani menduga, Agus Supriyatna, tersangka pelaku yang membantai keluarganya di Kabupaten Citlrebon, Sabtu (2/9/2017) malam lalu, mengalami kombinasi personality disorder atau gangguan kepribadian dan kerusakan limbic system.

    Agus belum sampai skizofrenia atau gangguan mental alias gila. Sebab pelaku masih bisa berhubungan dengan realita dan bersosialisasi dengan baik. Dalam peristiwa sadis tersebut, Agus membunuh ibu kandung dan istri, serta melukai 2 anaknya, kakak kandumg, dan kakak ipar, dengan menggunakan pisau.

    Menurut Efnie, pemicu seseorang melakukan tindakan sadis rata-rata atau pada umumnya ada personality disorder. Artinya pelaku mengalami ganguan kepribadian. Kalau dlihat dari struktur otak pengidap personality disorder ini, lymbic system-nya mengalami kerusakan. Khususnya di bagian amigdala. Bagian otak ini berperan untuk mengendalikan emosi dan perilaku seseorang. Juga mengendalikan rasa kasih sayang, marah, benci, dan sedih.

    Jika bagian ini (limbick system) rusak, individu yang mengalaminya akan sulit mengendalikan diri. Saat marah, emosinya akan sulit diredam, bahkan bisa melakukan tindakan di luar kendali. Limbic system membajak kendali yang bersangkutan.

    “Pelaku melakukan kejahatan secara sadar tetapi tanpa nalar. Dia sadar melakukan itu tetapi pelaku tak mampu mengontrol tindakannya. Kalau pgangguan jiwa skizofrenia, pemgidap mengalami halusinasi setiap saat dan memiliki dunianya sendiri sehingga dia terhambat berkontak dengan realitas dan bersosialisasi. Sedangkan pengidap personality disorder tidak. Dia masih bisa bersosialisasi dengan baik,” papar Efnie, Senin (4/8/2017).

    Kerusakan limbic system bisa terjadi sejak kecil karena dia pernah menjadi korban kekerasan atau penyiksaan, terpapar informasi tentang agresi, kekerasan, atau melihat lingkungan sekitarnya yang penuh dengan tindak kekerasan.

    Kondisi itu (kerusakan limbic system) bisa juga diturunkan secara genetis. Namun genetis umumnya lebih ke arah tempramen. Itu terkunci dalam DNA. “Namun untuk memastikan apakah pelaku ini mengalami personality disorder dan kerusakan limbic sytem atau tidak, memang perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Efnie. (*)

    den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Dana Desa Efektif Percepat Bangun Infrastruktur
    Soal Rekomendasi Golkar, Emil tak Ambil Pusing
    Deklarasi Demiz Cagub Jabar Tinggal Tunggu Waktu
    Pilih Cawagub, Emil Pilih Mekanisme Konevensi
    Inilah Kriteria Desa Layak Program Padat Karya
    Berita Terdahulu

    Editorial

    • Teladani Semangat Pahlawan
      Teladani Semangat Pahlawan

      HARI Jumat (10/11/2017) ini bangsa Indonesia memeringati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November mencatat peristiwa besar.

      Advertisement On Google