web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Bocah SD Tewas Berkelahi, Ini Pernyataan KPAI
    istimewa/humas polda jabar Korban SR saat disemayamkan di rumah duka

    Bocah SD Tewas Berkelahi, Ini Pernyataan KPAI

    • Kamis, 10 Agustus 2017 | 03:23:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Bandung - Kasus kematian SR (8), bocah kelas 2 SDN Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi pada Selasa (8/8/2017), akibat berkelahi dengan temannya Dr (8), menarik perhatian dan keprihatinan berbagai pihak, khususnya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

    KPAI dalam rilis resmi yang ditandatanganin oleh Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti, menyaampaikan, kematian SR menunjukkan sekolah bukan tempat yang aman untuk anak. KPAI menyatakan duka mendalam dan keprihatin atas tewasnya SR.

    Menurut Retno, kematian SR menunjukan bahwa, pertama, sekolah aman dan nyaman bagi anak didik ternyata masih jauh dari harapan. Pembelaan sekolah dengan menyatakaan bahwa peristiwa kekerasan yang menimpa SR terjadi di belakang kantor, sementara pendidik fokus mengawasi pelajar di depan kantor, tetap tidak bisa di tolerir. Lingkungan sekolah aman meliputi seluruh luas sekolah tanpa kecuali, bahkan juga radius bebarapa ratur meter dari sekolah masih menjadi tanggungjawab pihak sekolah.

    "Berkaca dari peristiwa ini dan banyaknya kasus-kasus kekerasan di sekolah yang diterima di pengaduan KPAI, menjadi suatu kesempatan Kemdikbud RI untuk meninjau kembali Kebijakan menambah lamanya berada di sekolah, karena ternyata sistem pengawasan yang lemah di banyak sekolah telah membuat sekolah tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak," demikian pernyataan resmi KPIA.

    Kedua, KPAI menyayangkan kesimpulan dini yang dinyatakan pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, yang seolah menolak telah terjadi dugaan kekerasan di sekolah sehingga menimbulkan kematian SR. Pernyataan yang menyebut bahwa tidak ditemukan bekas pukulan, hanya baju dan celana SR yang kotor, menunjukkan kesimpulan yang mendahului penyelidikan hasil autopsi yang sedang dilakukan aparat penegak hukum.

    Ketiga, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi dan jajarannya, seharusnya justru mendukung penyelidikan dan menolak berkomentar hingga ada hasil dari penyelidikan. Yang urgen di lakukan pihak Disdik adalah melakukan evaluasi terhadap pengelola atau tenaga pengajar dan sistem pengawasan di sekolah.

    Keempat, pemerintah daerah juga harus segera menurunkan tim inspektorat untuk melakukan pemeriksaan terkait pembinaan, pengawasan dan evaluasi terhadap jajaran birokrasi pendidikan hingga pihak satuan pendidikan.

    Kelima, KPAI mendukung penyelidikan pihak aparat penegak hukum, namun KPAI akan memastikan bahwa anak sebagai pelaku atau istilah perudangan adalah anak berhadapan dengan hukum (ABH) harus sesuai dengan UU No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Apalagi para pelaku masih dibawa usia 12 tahun, penanganannya harus memperhatikan hak-hak anak dan kondisi psikologinya sebagai anak sebagaimana diatur dalam UU SPPA tersebut.

    Retno memaparkan, substansi yang paling mendasar dalam UU SPPA adalah pengaturan secara tegas mengenai Keadilan Restoratif dan Diversi yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar.

    Keadilan restoratif merupakan suatu proses diversi, yaitu semua pihak yang terlibat dalam suatu tindak pidana tertentu bersama-sama mengatasi masalah serta menciptakan suatu kewajiban untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik dengan melibatkan korban, anak, dan masyarakat dalam mencari solusi untuk memperbaiki, rekonsiliasi, dan menenteramkan hati yang tidak berdasarkan pembalasan. Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

    Menindaklanjuti kasus ini, KPAD Kabupaten Sukabumi meninjau tempat Kejadian perkara (TKP), Rabu (9/8/2017). KPAD mengumpulkan keterangan yang dibutuhkan KPAI dalam menelaah kasus ini demi kepentingan dan perlindungan anak. "KPAI juga akan berkoordinasi dengan Pemkab Sukabumi dan Polres Sukabumi terkait kasus kematian SR," ujar Retno.

    Diberitakan, 2 bocah kelas 2 SDN Longkewang, SR dan DR berkelahi pada Selasa (8/8/2017). Akibatnya, SR meninggal dunia. Korban SR berkelahi dengan DR di halaman sekolah. Dalam perkelahian itu, korban SR pingsan. Kemudian para guru, termasuk wali kelas 2 Ruhiyat ke lokasi kejadian.

    Mereka mencoba memberikan pertolongan kepada korban SR. Ibu korban pun dipanggil ke sekolah. Namun, korban tak kunjung siuman. Kemudian ibu korban bersama pihak sekolah membawa korban ke Puskesmas Cicantayan. Setelah diperiksa, pihak puskesmas menyatakan bahwa SR sudah meninggal dunia. (*)

    den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Berita Lainnya
    Pesawat tanpa Awak di Pantai Garut Milik Inggris
    Malu Hamil di Luar Nikah, DW Buang Janinnya
    Pembangunan GOR Merdeka Pesimis Sesuai Target
    Usai Paceklik, Nelayan Pangandaran Mulai Melaut
    Warga Harus Waspada Hewan Kurban Berpenyakit
    Berita Terdahulu