web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Al-Battani, Bapak Astronomi Dunia

    Al-Battani, Bapak Astronomi Dunia

    JuaraNews – Peradaban Islam, termasuk dalam ilmu pengetahuan. Salah ilmuwan Islam yang paling termasyur adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqi al-Harrani al-Sabi al-Battani. Orang Eropa menyebut Al-Battani dengan sebutan Albategnius.

    Selain astronom, Al-Battani merupakan matematikawan jenius. Dia menerapkan trigonomotri dalam menghitung lama edar benda-benda langit, jarak, luas, dan lain-lain. Dengan trigonometri pula, Al-Battani berhasil menghitung jumlah hari dalam satu tahun yakni 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.

    Hasil perhitungan Al-Battani ini sangat akurat. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan, perhitungan Al-Battani dengan NASA hanya beda 2 menit. Itu artinya, karya Al-Battani sangat akurat, meski pengamatan dan perhitungan yang dia lakukan menggunakan peralatan sederhana.

    Salah satu karya besar Al-Battani adalah Kitab al-Zij. Buku ilmiah tentang astronomi yang terbit pada abad ke-12 itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul De Scientia Stellarum atau De Motu Stellarum. Buku tersebut masih menjadi acuan bagi astronom di seluruh dunia.

    Penemuan Al-Battani ini akurat. Bahkan keakuratan pengamatan Al-Battani ini menjadi acuan bagi Christopher Clavius untuk memperbaiki kalender Julian. Atas izin Paus Gregorius XIII, kalender lama akhirnya diubah menjadi kalender baru dan mulai digunakan pada 1582. Kalender inilah yang kemudian banyak digunakan oleh masyarakat hingga saat ini.

    Al-Battani lahir sekitar tahun 858, di Harran, Irak. Dia adalah putra dari ilmuwan astronomi, Jabir Ibn San'an Al-Battani. Keluarga Al-Battani merupakan penganut sekte Sabian yang melakukan ritual penyembahan terhadap bintang. Namun, Al-Battani tak mengikuti jejak nenek moyangnya. Dia memilih memeluk agama Islam.

    Secara informal, Al-Battani dididik ayahnya yang juga seorang ilmuwan. Sejak kecil, dia sudah menunjukkan ketertarikan kepada astronomi. Al-Battani terpesona dengan teori kosmologi geosentris yang dikembangkan ilmuwan Yunani, Ptolomeus.

    Seperti Astronom Arab lainnya, Al-Battani mengikuti tulisan-tulisan dan mengabdikan diri untuk mengembangkan karya Ptolomeus, The Almagest. Saat mempelajari The Almagest inilah Al-Battani menemukan penemuan besar, yaitu titik Aphelium atau titik terjauh Bumi saat mengitari matahari setiap tahun.

    Al-Battani memperbaiki tatanan tata surya, lunar, dan mengembangkan teori Ptolomeus dalam buku The Almagest menjadi lebih akurat. Dia juga memperbaiki pengukuran Ptolomeus tentang kemiringan sumbu. Al-Battani melakukan pengamatan lebih akurat mengenai ekuinoks (saat matahari tepat melewati garis ekuator bumi) pada awal musim gugur.  Melalui pengamatan inilah Al-Battani mampu menemukan bahwa dalam setahun ada 365,24 hari.

    Ilmuwan besar ini meninggal pada 929 di Qar al-Jiss dalam perjalanan pulang dari Bagdad. Berabad-abad setelah Al-Battani wafat, ringkasan pemikirannya yang terangkum dalam Kitab al-Zij masih digunakan sebagai pedoman pada zaman Renaisance dan memberikan banyak pengaruh terhadap astronom dan astrolog Barat. (*)

     

    Oleh: akbar aulia / bar

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Dunia Berlomba Buat Kapal Kargo Otonom
    Lahan Parkir di Hong Kong Laku Rp8,8 Miliar
    Indahnya Patung Pasir Karya Toshihiko Hosaka
    Beruang Madu Masuk Rumah dan Main Piano
    Bergeun, Desa Yang Tak Boleh Dipotret
    Berita Terdahulu

    Editorial

    • Marhaban Ya Ramadan
      Marhaban Ya Ramadan

      AWAL Ramadan 143 Hijriah jatuh pada Jumat (26/5/2017) malam. Dengan demikian, Sabtu (27/5/2017) umat Islam di Indonesia sudah mulai berpuasa.