web stats service from statcounter

Hot News

  • Gomez: Tak Ada Pemain Bintang di Persib
    Gomez: Tak Ada Pemain Bintang di Persib
    • 11 Desember 2017 | 08:42:00 WIB

    MARIO Gomez menilai tim Persib tak terlalu berbeda dengan mantan timnya di Liga Super Malaysia musim lalu, Johor Darul Ta'zim (JDT).

Inspirasi

    Mikroba Laut Bantu Urai Plastik di Samudera

    Mikroba Laut Bantu Urai Plastik di Samudera

    JuaraNews – Selain zat beracun, limbah atau sampah paling berbahaya adalah plastik. Pasalnya, sampah plastik tak bisa diurai oleh mikroba di dalam tanah. Jika sampah plastik dibiarkan, tanah menjadi tak produktif dan kehidupan manusia bisa terancam.

    Namun, studi terbaru menunjukkan, saat ini ada sejumlah mikroba laut yang dapat mencerna plastik. Temuan ini tentu memberi harapan baru untuk mengatasi masalah sampah plastik di lautan yang sudah sangat mengkhawatirkan.

    New Scientist melaporkan, sampah plastik dari rumah tangga dan industri berkumpul di samudera sebanyak satu truk per menit. Namun, para peneliti menemukan fakta bahwa hanya seperseratus jumlah plastik yang tampak di lautan.

    Produksi plastik terus meningkat setiap saat sehingga sampah sintetis itu akan semakin banyak masuk ke samudera. Meski demikian, survei perairan tempat sampah plastik mengapung ternyata jumlah sampah itu lebih sedikit dibandingkan perkiraan. Itu artinya, ada sebagian sampah plastik terurai di samudera.

    Salah satu kawasan itu adalah Pesisir Substropis Atlantik Utara yang berada di Samudera Atlantik, kawasan yang dikelilingi arus laut kuat. Arus menciptakan putaran vortek dan saat plastik mengapung di kawasan itu maka sampah tak dapat keluar sehingga jumlah sampah semakin bertambah banyak.

    Kendati demikian, para peneliti mendapat jumlah sampah plastik itu hanya sepersepuluh hingga seperseratus dari perkiraan semula. “Tren itu ada di sana,” ungkap Richard Sole, peneliti dari Universitas Pompeu Fabra, Barcelona, yang memimpin studi baru tersebut.

    Timnya menggunakan pemodelan matematika untuk membuktikan bahwa proses fisik seperti pusaran laut tidak cukup untuk mengurai sampah plastik. Mereka yakin peningkatan jumlah bakteria yang dapat mencerna plastik dapat menjelaskan mengapa ada sangat banyak sampah plastik yang hilang.

    “Observasi paradoksal adalah kurangnya tren jumlah plastik di Pesisir Subtropis Atlantik Utara meski ada peningkatan dalam produksi dan sampah plastik,” ungkap para peneliti dalam laporan riset tersebut.

    Para peneliti menambahkan, “Dalam laporan ini kami tunjukkan, menggunakan matematika dan model komputer bahwa observasi ini dapat menjelaskan pasangan nonlinier antara plastik sebagai sumber daya dan peningkatan organisme (konsumen) yang mampu mengurainya.”

    Kendati demikian, peningkatan bakteria pemakan plastik mungkin bukan berita baik untuk kehidupan laut. Kemungkinan mikroba itu mengurai potongan besar plastik menjadi potongan mikroskopik yang mungkin lebih membahayakan seluruh ekosistem.

    Ini karena binatang laut lebih suka menelan potongan plastik ukuran kecil dan partikel itu dapat berakumulasi di jaringan tubuh dan mengakibatkan kematian. “Untuk benar-benar mengatasi masalah plastik, kita harus berhenti membuang palstik ke laut. Itu yang utama,” papar Dr Sole. (*)

    Oleh: akbar aulia / bar

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Kasus Unik. Keledai Makan McLaren 650S Spider
    Sedang Foto Pernikahan, Pria Ini Tolong Anak-anak
    Robot Kecoa Bantu Manusia saat Bencana
    Lihat Penampakan, Dua Anjing Ketakutan
    Kota Kuno Qalatga Darband Ditemukan
    Berita Terdahulu

    Editorial