web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Marhaban Ya Ramadan

    Marhaban Ya Ramadan

    KEMENTERIAN Agama melalui sidang isbat 2017, menetapkan awal Ramadan 143 Hijriah jatuh pada Jumat (26/5/2017) malam. Dengan demikian, Sabtu (27/5/2017) umat Islam di Indonesia sudah mulai berpuasa.

    Tentunya datangnya Bulan Suci Ramadan ini begitu istimewa bagi kaum muslimin. Banyak makna yang terdapat di Bulan Puasa ini. Dari mulai penentuan waktu awal dimulainya ibadah puasa, hingga amalan-amalan ibadah yang bisa diperoleh umat Islam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini pun sama, ada perbedaan dari kalangan umat sendiri dalam menentukan dimulainya puasa.

    Untuk 2 ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, pada tahun ini menyepakati hari yang sama untuk memulai berpuasa, kendati keduanya menggunakan metode yang berbeda dalam menentukan awal Ramadan. Namun sebagian saudara-saudara kita ada juga yang sudah memulai puasa sejak Jumat (26/5/2017) ini, bahkan ada yang mulai Kamis (25/5/2017) lalu.

    Seperti jamaah Tarekat Naqsabandiyah di Kota Padang, Sumatera Barat menetapkan awal Ramadan tahun 2017 pada Kamis (25/5/2017) lalu atau selisih 2 hari dari keputusan Kementerian Agama. Sedangkan jamaah Tarekat Naqsyabandiyah di Mataram, Yogyakarta mulai melaksanakan ibadah puasa Jumat (26/5/2017). Begitu juga dengan pengikut Tarekat Syattariah di Kabupaten Aceh Barat, mulai mulai melaksanakan puasa Kamis (25/5/2017). Sedangkan ribuan umat Islam kalangan NU Kultural juga sudah akan memulai puasa pada Jumat (26/5/2017).

    Perbedaan penetapan awal puasa ini bukan untuk kali pertama. Pada tahun-tahun sebelumnya juga jamaah Naqsabandiyah sudah berpuasa 2 hari lebih cepat dari penetapan pemerintah. Begitu pun dengan jamaah Tariqat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah yang memulai puasa 1 hari lebih awal.

    Tentunya perbedaan penentuan awal puasa ini, tidak boleh menjadikan umat Islam di Indonesia berselisih. Apalagi perbedaan penentuan awal Ramadan ini hanyalah persoalan metode atau cara untuk mengetahui awal puasa.

    Dengan metode yang berbeda, yakni dengan cara melihat kemunculan hilal berdasarkan pergerakan bulan, dan melalui penanggalan kalender, tentu kemungkinan menghasilkan kesimpulan yang berbeda cukup besar. Namun yang jelas, perbedaan tidak boleh membuat umat terpecah.

    Bukankah kita diciptakan memang berbeda-beda, bergolong-golongan. Bukankah justru perbedaan itu indah dan bisa mempersatukan kita. Makna yang paling penting selama Ramadan ini, tentunya adalah makna ibadah.

    Kita sudah mahfum bahwa berpuasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Islam sesuai dengan Rukun Islam ketiga, yang diatur langsung dalam Alquran. Selama menjalankan ibada-ibadah di Bulan Suci ini, Allah SWT pun menjanjikan limpahan rahmat yang besar, berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

    Di tengah-tengah ibadah kita melawan hawa nafsu dengan menahan lapar dan dahaga, serta syahwat dan nafsu lainnya, apapun hal baik yang dilakukan umat Rasulullah Muhammad Saw di bulan Ramadan ini akan berbuah pahala. Bahkan tidurnya orang berpuasa pun merupakan ibadah yang mendapatkan ganjaran pahala. Dan bau mulutnya orang berpuasa diibaratkan lebih harum dibanding bunga Kasturi.

    Sedangkan pada sepertiga akhir Ramadan, Allah SWT menjanjikan datangnya malam Lailatul Qadar atau malam seribu bulan. Di malam itu, Allah SWT menjanjikan pahala lebih besar dibanding pahala beribadah dalam seribu bulan.

    Di luar nilai ibadah tersebut, berpuasa pun memberikan manfaat kesehatan bagi yang menjalankannya. Berpuasa atau menghentikan aktivitas makan minum selama sekitar 12 jam seperti dilakukan umat Islam di bulan Ramadan, justru berdampak baik bagi kesehatan.

    Dengan diistirahatkannya organ-organ pencernaan, memberi waktu bagi organ-organ tubuh itu untuk beregenerasi dan memperbaiki fungsinya. Ibarat mesin yang diistirahatkan dan diperbaiki sehingg bisa berfungsi lebih maksimal lagi ke depannya.

    Dengan berbagai keutamaan dan manfaat yang bisa diperoleh selama Ramadan ini, tak salah jika kaum muslimin sangat gembira menyambut datangnya bulan penuh berkah ini. Kita pun wajib bersyukur kepada Allah SWT, karena masih diberi kesempatan berjumpa dengan Ramadan, dan berkesempatan mendapatkan limpahan pahala selama menjalankan ibadah Ramadan.

    Semoga, kita semua masih diberi kesempatan kembali berjumpa dengan Ramadan-ramadan di tahun-tahun berikutnya. Marhaban ya Ramadan, selamat datang Ramadan, bulan penuh berkah. Selamat menjalankan ibadah puasa. (*)

    Oleh: deni mulyana sasmita / den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Tahun Baru Hijriah, Pererat Silaturahmi Toleransi
    Mari Kita Berkurban
    • Mari Kita Berkurban

      SEKITAR 2,1 miliar umat muslim di seluruh dunia serentak memeringati Hari Raya Idul Adha yang pada 2017 ini jatuh pada hari Jumat Selengkapnya..

      • 1 September 2017
    Selamat Hari Raya Idul Fitri
    Marhaban Ya Ramadan
    • Marhaban Ya Ramadan

      AWAL Ramadan 143 Hijriah jatuh pada Jumat (26/5/2017) malam. Dengan demikian, Sabtu (27/5/2017) umat Islam di Indonesia sudah mulai Selengkapnya..

      • 27 Mei 2017
    Selamat Ulang Tahun ke-84 Persib Bandung
    Berita Terdahulu

    Editorial

      Advertisement On Google

      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Manchester City 8 22
      2. Manchester United 8 20
      3. Tottenham Hotspur 8 17
      4. Watford 8 15
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Bhayangkara FC 29 59
      2 Bali United 28 55
      3 PSM Makassar 29 55