web stats service from statcounter

Hot News

  • Raih Poin Sempurna, Uruguay Juara Grup A
    Raih Poin Sempurna, Uruguay Juara Grup A
    • 25 Juni 2018 | 23:49:00 WIB

    URUGUAY melangkah ke babak 16 Besar, dengan status juara Grup A, setelah pada laga pamungkas fase penyisihan, menang 3-0 atas Rusia, Senin (25/6/2018) malam WIB.

Inspirasi

    Marhaban Ya Ramadan

    Marhaban Ya Ramadan

    MELALUI melalui sidang isbat yang digelar Selasa (15/5/2018) malam, Kementerian Agama menetapkan awal Ramadan 1439 Hijriah jatuh pada Kamis (17/5/2018).

    Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyebutkan, kesepakatan  dalam sidang isbat yang digelar di Auditorium HM Rasjidi Gedung Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakarta tersebut, dibuat berdasarkan 2 hal. Pertama, perhitungan hisab, dan kedua, laporan petugas bersumpah di lapangan yang bersumpah melihat hilal dari 95 titik.

    Hasil sidang ini menetapkan bahwa umat Islam di Indonesia mulai melakukan salat tarawih pada Rabu (16/5/2018) malam. Sedangkan hari pertama puasa di Bulan Suci Ramadan pada Kamis (17/5/2018).

    "Dari pelaku Rukyatul Hilal yang tersebar di 95 titik seluruh Tanah Air, sampai dengan Isbat tadi berlangsung kita menerima 32 pelaku rukyatul hilal kita menerima laporan kesaksian mereka, " jelas Lukman.

    Dari 32 yang melaporkan, tidak satupun yang berhasil melihat hilal. Maka dengan 2 hal tadi perhitungan hisab dan hasil rukyatul hilal yang tidak melihat hilal sebagaimana ketentuan selama ini yang kita pegangi sebagaimana fatwa MUI, bulan Syakban disempurnakan menjadi 30 hari.

    "Malam hari ini adalah tanggal 30 Syakban dengan demikian maka 1 Ramadan jatuh pada Kamis 17 Mei 2018," ujar Lukman.

     

    Tentunya datangnya Bulan Suci Ramadan ini begitu istimewa bagi kaum muslimin. Banyak makna yang terdapat di Bulan Puasa ini. Dari mulai penentuan waktu awal dimulainya ibadah puasa, hingga amalan-amalan ibadah yang bisa diperoleh umat Islam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini pun sama, ada perbedaan dari kalangan umat sendiri dalam menentukan dimulainya puasa.

    Untuk 2 ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, pada tahun ini menyepakati hari yang sama untuk memulai berpuasa, kendati keduanya menggunakan metode yang berbeda dalam menentukan awal Ramadan.

    PP Muhammadiyah mengumumkan, awal Ramadan 1439 H pada 17 Mei, jauh-jauh hari sebelumnya. Tanggal itu didapat melalui hisab Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Muhammadiyah telah memberikan keterangan resmi tentang jadwal awal puasa Ramadan 1439 H pada Selasa (13/3/2018) lalu.

    "Jadwal awal puasa Ramadhan 1439 H. Ijtima' akhir bulan Sya'ban terjadi pada Selasa Kliwon, 29 Sya'ban 1439 H - 15 Mei 2018 pukul 18.50'.28" WIB. Tinggi Hilal di Yogyakarta (saat terbenam Matahari) : -00°, 02', 50" (Hilal belum wujud)." demikian keterangan resmi PP Muhammadiyah. Bahkan Muhammaddiyah telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri akan jatuh pada Jumat (15/6/2018) mendatang.

    Sementara NU mengikuti penetapan awal Ramadan sesuai hasil sidang isbat yang digelar Kemenag, yang hasilnya sama dengan putusan Muhammadiyah.

    Namun sebagian saudara-saudara kita ada juga yang sudah memulai puasa sejak Selasa (15/5/2018) ini. Seperti jamaah Tarekat Naqsabandiyah di Kota Padang, Sumatera Barat menetapkan awal Ramadan tahun 2018 pada Selasa (15/5/2017) lalu atau selisih 2 hari dari keputusan Kementerian Agama.

    Begitu juga dengan pengikut Tarekat Syattariah pengikut Habib Muda Seunagan alias Abu Peuleukung di Kabupaten Aceh Barat, mulai berpuasa pada Selasa (15/5/2018).

    Sedangkan jamaah tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah di Medan, Sumatera Utara, telah melaksanakan ibadah puasa Ramadan pada Senin (14/5/2018) lalu.

     

    Perbedaan penetapan awal puasa ini bukan untuk kali pertama. Pada tahun-tahun sebelumnya juga jamaah Naqsabandiyah sudah berpuasa 2 hari lebih cepat dari penetapan pemerintah. Begitu pun dengan jamaah Tariqat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah yang memulai puasa 1 hari lebih awal.

    Tentunya perbedaan penentuan awal puasa ini, tidak boleh menjadikan umat Islam di Indonesia berselisih. Apalagi perbedaan penentuan awal Ramadan ini hanyalah persoalan metode atau cara untuk mengetahui awal puasa.

    Dengan metode yang berbeda, yakni dengan cara melihat kemunculan hilal berdasarkan pergerakan bulan, dan melalui penanggalan kalender, tentu kemungkinan menghasilkan kesimpulan yang berbeda cukup besar. Namun yang jelas, perbedaan tidak boleh membuat umat terpecah.

    Bukankah kita diciptakan memang berbeda-beda, bergolong-golongan. Bukankah justru perbedaan itu indah dan bisa mempersatukan kita. Makna yang paling penting selama Ramadan ini, tentunya adalah makna ibadah.

    Kita sudah mahfum bahwa berpuasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Islam sesuai dengan Rukun Islam ketiga, yang diatur langsung dalam Alquran. Selama menjalankan ibada-ibadah di Bulan Suci ini, Allah SWT pun menjanjikan limpahan rahmat yang besar, berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

    Di tengah-tengah ibadah kita melawan hawa nafsu dengan menahan lapar dan dahaga, serta syahwat dan nafsu lainnya, apapun hal baik yang dilakukan umat Rasulullah Muhammad Saw di bulan Ramadan ini akan berbuah pahala. Bahkan tidurnya orang berpuasa pun merupakan ibadah yang mendapatkan ganjaran pahala. Dan bau mulutnya orang berpuasa diibaratkan lebih harum dibanding bunga Kasturi.

    Sedangkan pada sepertiga akhir Ramadan, Allah SWT menjanjikan datangnya malam Lailatul Qadar atau malam seribu bulan. Di malam itu, Allah SWT menjanjikan pahala lebih besar dibanding pahala beribadah dalam seribu bulan.

    Di luar nilai ibadah tersebut, berpuasa pun memberikan manfaat kesehatan bagi yang menjalankannya. Berpuasa atau menghentikan aktivitas makan minum selama sekitar 12 jam seperti dilakukan umat Islam di bulan Ramadan, justru berdampak baik bagi kesehatan.

    Dengan diistirahatkannya organ-organ pencernaan, memberi waktu bagi organ-organ tubuh itu untuk beregenerasi dan memperbaiki fungsinya. Ibarat mesin yang diistirahatkan dan diperbaiki sehingg bisa berfungsi lebih maksimal lagi ke depannya.

    Dengan berbagai keutamaan dan manfaat yang bisa diperoleh selama Ramadan ini, tak salah jika kaum muslimin sangat gembira menyambut datangnya bulan penuh berkah ini. Kita pun wajib bersyukur kepada Allah SWT, karena masih diberi kesempatan berjumpa dengan Ramadan, dan berkesempatan mendapatkan limpahan pahala selama menjalankan ibadah Ramadan.

    Semoga, kita semua masih diberi kesempatan kembali berjumpa dengan Ramadan-ramadan di tahun-tahun berikutnya. Marhaban ya Ramadan, selamat datang Ramadan, bulan penuh berkah. Selamat menjalankan ibadah puasa. (*)

    Oleh: deni mulyana sasmita / den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Selamat Hari Raya Idul Fitri
    Marhaban Ya Ramadan
    Pilih Pemimpin yang Amanah
    Gong Xi Fa Chai
    • Gong Xi Fa Chai

      JUMAT (16/2/2018) ini merupakan hari istimewa bagi orang-orang Tionghoa atau keturunan China di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Selengkapnya..

      • 16 Februari 2018
    Harapan Baru di Tahun Baru
    • Harapan Baru di Tahun Baru

      HARI Senin bertepatan dengan tanggal 1 Januari 2018, hampir seluruh umat manusia di dunia ini merayakan malam pergantian tahun atau dikenal dengan Selengkapnya..

      • 1 Januari 2018
    Berita Terdahulu

    Editorial

    • Selamat Hari Raya Idul Fitri
      Selamat Hari Raya Idul Fitri

      DENGAN rasa suka cita dan senang, kita menyambut Hari Kemenangan, bercampur sedih, karena kita ditinggalkan bulan Ramadan yang penuh berkah.

      Advertisement On Google

      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Manchester City 38 100
      2. Manchester United 38 81
      3. Tottenham Hotspur 38 77
      4. Liverpool 38 75
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 PSM Makassar 13 24
      2 Barito Putera 13 23
      3 Persela Lamongan 13 20