web stats service from statcounter

Hot News

Inspirasi

    Senjata Ini yang Bunuh Mamot Berbulu

    Senjata Ini yang Bunuh Mamot Berbulu

    JuaraNews – Sungguh tak masuk akal bagi orang-orang saat ini. Mamot berbulu bertubuh raksasa yang menghuni kawasan Yakutia, Siberia, tewas oleh senjata sederhana yakni sebuah tombak dengan ujung runcing dari batu gamping.

    Namun itu faktanya. Hewan yang hidup di Zaman Es sekitar 45.000 tahun lampau itu, memang menjadi salah satu buruan manusia. Selain dagingnya dimakan, kulitnya juga dijadikan pakaian.

    Kesimpulan tersebut dibuktikan oleh para ahli setelah melakukan penelitian mendalam terhadap fosil mamot berbulu jantan yang saat tewas berusia sekitar 14 tahun. Hasil penelitian itu diterbitkan di Jurnal Science.

    Di beberapa bagian tubuh fosil hewan yang ditemukan oleh seorang bocah 11 tahun bernama Zhenya di timur tepi Sungai Yenisei, utara Siberia pada 2012 tersebut, terdapat luka bekas tombak. Hebatnya, luka itu sampai ke tulang. Fosil tulang mamot berbulu jenis Sopkarginsky itu lantas diberi nama Zhenya.

    Fakta itu bukan hanya membuktikan bahwa mamot diburu tapi juga manusia telah mendiami kawasan Arctic yang sangat dingin dengan suhu minus beberapa derajat celsius. Dulu, kawasan Siberia seluas lebih 3.000 mil merupakan daratan diselimuti yang menghubungkan Alaska dengan Rusia.

    Menurut para ahli, saat berburu mamot, manusia masa lalu tak sendirian. Mereka berkelompok menyerang seekor mamot menggunakan tombak ringan. Beberapa tombak menancap di beberapa bagian tubuh yang vital, seperti iga sebelah kiri dan kanan. Ada juga luka di bagian tengkuk atau belakang telinga. Ini merupakan taktik jitu untuk menaklukkan hewan bertubuh besar itu.

    Beberapa saat kemudian, mamot akan kehabisan darah. Setelah mati, barulah daging hewan berbulu dan bertubuh besar tersebut diiris kecil-kecil menggunakan pisau sederhana dari batu gamping untuk dibagikan kepada koloni.

    Diketahui, teknik berburu dengan sasaran beberapa bagian tubuh vital itu masih dipraktikan oleh manusia zaman sekarang. Seperti beberapa masyarakat di Afrika yang masih berburu hewan menggunakan tombak. Mereka juga membidik bagian tubuh hewan seperti manusia purba berburu mamot.

    Akan Dihidupkan Kembali

    Mamot, gajah raksasa berbulu dengan taring panjang melengkung diperkirakan pernah hidup dan menjelajah Bumi puluhan ribu tahun lampau sejak Zaman Es. Hewan purba ini diperkirakan punah 10.000 tahun lalu atau era Pleistosen.

    Saat ini, kita mengenal mamot berdasarkan ilustrasi dan film-film animasi, seperti The Lion King dan Ice Age. Namun tak lama lagi, sekitar dua tahun mendatang, mamot berbulu akan bangkit kembali. Tim ilmuwan dari Harvard University tengah berusaha membangkitkan kembali mamot dengan cara membuat persilangan embrio atau hibrida mamot. “Kami sedang memproduksi embrio hibrida mamot dan gajah asia. Hewan itu akan menjadi lebih mirip gajah dengan beberapa ciri mamot,” kata George Chruch, peneliti.

    Embrio mamot, ujar George, berasal dari DNA sisa-sisa tubuh mamot yang terawetkan tundra beku. DNA tersebut kemudian disambungkan dengan genom gajah asia. Rencananya, George dan tim peneliti menumbuhkan hewan hibrid gajah-mamot dalam rahim buatan dan tidak memanfaatkan gajah betina hidup karena alasan etis.

    George menegaskan, produksi embrio mamot dan menghidupkan gajah hibrid merupakan upaya pelestarian gajah asia. “Kami merekayasa mereka agar dapat beradaptasi lebih baik dalam cuaca dingin sehingga memungkinkan hewan itu hidup dengan wilayah jelajah lebih luas,” ujar George.

    Hewan hibrid gajah-mamot tersebut, tutur George, dapat tinggal di kawasan-kawasan tundra bersuhu rendah, seperti Rusia dan Kanada. Kehadiran hewan hibrid ini bisa membantu mencegah dampak perubahan iklim dengan berbagai cara. Salah satunya, mamot dapat menjaga daerah dingin dengan memakan rumput-rumput mati, sehingga memungkinkan cahaya matahari mencapai rumput musim semi yang akarnya dapat mencegah erosi. Selain itu, mamut juga dapat menyingkirkan salju tebal, sehingga memungkinkan udara dingin berpenetrasi ke dalam tanah.

    Sekadar diketahui, fosil yang menjadi bukti eksistensi mamot di zaman lampau terakhir ditemukan James, seorang petani kedelai di Michigan, Amerika Serikat, tiga tahun lalu. Fosil mamot itu terbenam di dalam tanah ladang kedelai miliknya.

    Penggalian besar-besaran di ladang James pun dilakukan, dipimpin paleontolog dari Universitas Michigan. Selain gading, ilmuwan juga menemukan tengkorak kepala, tulang punggung, belikat, dan rusuk mamot.

    Daniel Fisher, salah seorang ahli paleontologi dari Universitas Michigan yang memimpin penggalian mengatakan, mamot pernah menjelajah daratan Amerika Serikat pada 11.700 hingga 15.000 tahun lampau.

    Ukuran tubuh mamot lebih besar dibanding gajah modern saat ini. Gajah raksasa ini hidup di masa Plaitosen, 1,6 juta tahun sampai sekitar 10.000 tahun lalu. Mamot bisa memiliki tinggi tubuh mencapai 5-10 meter dengan berat badan 6-10 ton. Tapi bobot mamot jantan bisa mencapai 12-15 ton. Gading mamot bisa sepanjang 3,3-5 meter. (*)

    Oleh: akbar aulia / bar

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Kasus Unik. Keledai Makan McLaren 650S Spider
    Sedang Foto Pernikahan, Pria Ini Tolong Anak-anak
    Robot Kecoa Bantu Manusia saat Bencana
    Lihat Penampakan, Dua Anjing Ketakutan
    Kota Kuno Qalatga Darband Ditemukan
    Berita Terdahulu

    Editorial

    • Teladani Semangat Pahlawan
      Teladani Semangat Pahlawan

      HARI Jumat (10/11/2017) ini bangsa Indonesia memeringati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November mencatat peristiwa besar.