web stats service from statcounter

Hot News

  • Pelatih Persib: Kami Baik-baik Saja
    Pelatih Persib: Kami Baik-baik Saja
    • 24 Mei 2017 | 06:09:00 WIB

    DJADJANG Nurdjaman memastikan skuatnya tetap harmonis seusai hanya menuai hasil imbang 2-2 saat menjamu Borneo FC, Sabtu (20/5/2017) lalu.

Inspirasi

    Kisah Nyata di Balik Film The Last Samurai

    Kisah Nyata di Balik Film The Last Samurai

    JuaraNews – Restorasi Meiji, revolusi kebudayaan di Jepang saat Kaisar Meiji berkuasa, menyimpan sejarah unik tentang keterlibatan tentara kulit putih dari Eropa. Adalah Jules Brunet, tentara Kekaisaran Prancis yang tercatat terlibat selama periode itu.

    Diketahui, selama Shogun berkuasa, hubungan dengan bangsa asing dibatasi sangat ketat. Sejak abad 17, pintu-pintu masuk ke Jepang dijaga dan diisolasi. Orang-orang asing hanya bisa bernegosiasi, menjual senjata, rempah-rempah, dan bahan penting lainnya melalui Pelabuhan Nagasaki. Namun sejak Kaisar Meiji berkuasa, Jepang mulai membuka diri.

    Meiji ingin mengubah Jepang yang saat itu masih menganut feodal menjadi negara modern seperti negera-negara di belahan dunia lain. Sejak saat itulah, benda-benda dari belahan dunia lain masuk ke Jepang. Komodor Matthew Perry tiba di Jepang dengan membawa lusinan meriam. Tak hanya itu, gaya berpakaian masyarakat Jepang pun mulai berubah. Pakaian gaya Eropa mulai banyak dikenakan.

    Jules Brunet lahir di Belfort, tenggara Prancis pada 1838. Dia merupakan lulusan dari Akademi Militer Ecole Polytechnique pada 1857 dengan spesialisasi artileri. Dalam kurun waktu 1862-1867, Jules terlibat dalam intervensi Prancis dalam revolusi di Meksiko. Dia ditugaskan oleh Kaisar Prancis Napoleon III. Tugas ini diselesaikan dengan sangat baik sehingga Jules meraih medali kehormatan, Legion d’Honneur.

    Pada awal 1867, Jules Brunet tiba di Yokohama sebagai anggota Misi Pertama Militer Prancis di Jepang. Dia ditugaskan membentuk pasukan elite untuk melindungi kekuasaan Shogun Tokugawa Yoshinobu. Dalam misinya, Jules ditugaskan untuk memisahkan tradisi dan kultur Jepang dengan modernisasi militer.

    Namun pada 1868, muncul kekacauan politik. Kaisar Meiji kembali mengambil kekuasaan dari tangan penguasa militer Shogun Tokugawa yang berkuasa selama 600 tahun. Sebagian besar klan di Jepang mendukung langkah Kaisar Meiji. Namun Shogun menolak menyerahkan kekuasaannya. Akibatnya, pecahlah perang saudara Boshin War.

    Perang besar antara tentara kekaisaran dengan para pendukung Shogun Tokugawa Yoshinobu pada 29 Maret 1868. Perang ini terkenal dengan nama Koshu-Kotsunama. Pada Mei 1868, Edo atau Tokyo jatuh ke tangan Kaisar Meiji. Sedangkan Shogun Tokugawa jadi tawanan dan tewas. Pada 16 September 1868, Kaisar Meiji memindahkan ibu kota kekaisaran dari Yokohama ke Edo atau Tokyo.

    Sementara, sebagian besar para samurai yang masih setia kepada Shogun Nobunaga Yoshinobu dibawah pimpinan Admiral Enomoto Takeaki itu, mengasingkan diri ke dalam hutan di wilayah utara Jepang yakni Hokadate. Mereka membangun permukiman dan terus berlatih tempur di sana. Ikut di dalam barisan pemberontak ini adalah Jules Brunet. Dia melatih para Samurai dengan teknik tempur dan senjata modern.

    Tak lama kemudian, Kekaisaran Prancis yang dipimpin Kaisar Napoleon III merevisi perjanjian kerja sama dengan Jepang. Mereka tak ingin terlibat terlalu jauh dalam perang si sipil dan konflik politik di Jepang. Napoleon memanggil para tentara untuk pulang ke Prancis. Namun Jules menolak kembali. Dia tetap bertahan bersama para Samurai.

    Di bawah pimpinan Jules Brunet, para Samurai berhasil merebut Benteng Goryoku. Jules dan para Samurai menggunakan benteng itu sebagai basis pertahanan. Kemudian mereka berhasil menaklukkan Hokkaido. Pada 15 Desember 1868, memplokamirkan negara Republik Ezo dengan Enomoto Takeaki sebagai presiden.

    Pada Maret 1869, 10.000 tentara Kekaisaran Meiji tiba di Hokkaido. Pertempuran besar pun pecah. Tentara Republik Ezo sebanyak 3.000 orang mati-matian mempertahankan diri. Perang yang dikenal dengan nama Hakodate itu berakhir pada Mei 1869. Benteng Goryoku jatuh ke tangan tentara kaisar. Sebanyak 800 prajurit Enomoto Takeaki yang mempertahankan benteng semua tewas diserbu oleh 8.000 tentara kaisar bersenjata modern. Sementara, Jules Brunet selamat. Dia hanya dijatuhi hukuman pengusiran, kembali ke Prancis. Di Prancis, Jules kembali menjadi tentara dengan pangkat terakhir jenderal.

    Film The Last Samurai yang dibintangi Tom Cruise sebagai Nathan Algren dan dirilis pada 1 Desember 2003, diadaptasi dari kisah nyata ini. Terutama kisah keterlibatan bangsa Eropa dalam revolusi kebudayaan di Jepang dan pemberontakan terakhir kaum Samurai.

    Namun sedikit berbeda dengan Jules Brunet, dalam The Last Samurai Kapten Algren tewas bersama para pengikut setia Shogun Nobunaga yang dipimpin Katsumoto. Sedangkan Jules Brunet, meski pernah terlibat dalam perang sipil di Jepang dan bahu-membahu mengangkat senjata bersama para Samurai tersisa, tapi dia selamat.

    Sesungguhnya, tak semua kaum Samurai menolak restorasi yang dilakukan Kaisar Meiji. Sebagai Samurai, mereka menempati posisi tertinggi di masyarakat bahkan di bawah masa Meiji. Sebagian besar dari mereka, bergabung menjadi tentara modern, sebagian lagi menjadi pebisnis sukses. Meski begitu, para Samurai itu tetap mempertahankan tradisi dan nilai-nilai leluhur.

    Sutradara Edward Zwick dalam The Last Samurai menggabungkan beberapa kisah pemberontakan menjadi satu. Tokoh fiksi pemimpin Samurai, Katsumoto Moritsugu yang diperankan Ken Watanabe terinspirasi oleh tokoh Saigō Takamori yang tewas dalam perang Satsuma Rebellion. (*)

     

    Oleh: akbar aulia / bar

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Ini Benda Seni dari Zaman Es
    Pesan Misterius di Batu Berusia 5.000 Tahun
    DNA Ungkap Perkawinan Neanderthal-Homo Sapien
    Hanya Satu Orang yang Selamat dari Letusan Pelee
    Misteri Hutan Pohon Bengkok di Polandia
    Berita Terdahulu

    Editorial