Pos Indonesia

Hot News


JN-TAM

Inspirasi


  • Dirgahayu Sat Linmas ke-58
    Dirgahayu Sat Linmas ke-58

    NEGARA Republik Indonesia lahir melalui perjuangan bangsa dan pahlawannya yang melepaskan diri dari penjajahan dan sejajar dengan bangsa di dunia.

    Dapat Pena Emas, Aher Raih Cumlaude

    Dapat Pena Emas, Aher Raih Cumlaude

    Dapat Pena Emas, Aher Raih Cumlaude

     

    JuaraNews, Bandung – Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dianugerahi Pena Emas oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Penghargaan diserahkan   Ketua PWI Pusat Margiono di Gedung Sate Jumat (10/03/2017), setelah dilakukan uji kompetensi kepada Aher dihadapan para pengurus PWI, para tokoh dan media.

    Pena emas sendiri adalah bentuk penghargaan tertinggi dari PWI yang diberikan kepada tokoh atau pihak-pihak yang dinilai berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pers di Indonesia. Hal inilah yang membuat Gubernur Aher dinilai layak untuk mendapatkannya.

    Dianugerahi pena emas, Aher mengaku tak menyangka akan meraih penghargaan tertinggi PWI ini.

    "Saya kaget dan tidak menyangka, mungkin karena pembangunan yang telah kita lakukan semenjak awal dan urusan-urusan pemerintah kita yang selalu terbuka kepada pers," ungkapnya.

    "Terimakasih atas penilaian kepantasan mendapatkan anugerah yang sangat berharga ini, mudah-mudahan saya bisa menjaga amanah ini untuk berkomitmen dengan nilai-nilai kejujuran termasuk dalam media," lanjutnya.

    Saat uji kompetensi, Aher menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Jurnalisme Tabayyun" yang akhirnya diputuskan oleh 7 Panelis dari Dewan Kehormatan PWI pusat untuk direkomendasikan mendapatkan nilai Cumlaude dan layak dianugerahi Pena Emas.

    Dalam orasinya, Aher bercita-cita menghadirkan pers yang sehat, menyampaikan berita berimbang, mengadvokasi masyarakat, mengetahui hak dan kewajiban, bahasa yang menyejukkan dan mampu menjadi kontrol sosial yang baik.

    "Tadi saya kemukakan hal yang perlu dilakukan adalah bersikaplah ketika ada informasi yang datang, periksa atau cek dan ricek kebenaran berita tersebut," kata Aher.

    Aher mengatakan, dalam bahasa Al-Quran hal itu disebut dengan Tabayyun. Sebuah sikap yang seringkali keliru di masyarakat adalah ketika ada informasi yang memberitakan seseorang dari sumber tertentu maka yang sering diklarifikasi malah orang yang diberitakan. Seharusnya yang harus diklarifikasi adalah si pembuat berita.

    Aher menuturkan, terutama di media sosial orang bahkan dengan sengaja menggunakan bahasa yang sarkastis dan tak jarang beritanya hoax. Hal inilah yang perlu diselesaikan dan diadvokasi ke masyarakat.

    "Karena itu mari kita hadirkan jurnalisme yang sehat dengan menghadirkan jurnalisme Tabayyun atau jurnalisme yang cek dan ricek," tutur Aher. (*)

    ude

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    SMA Pasundan 3 Bandung, Sekolah Unggulan Religi dan Seni Berprestasi
    Tuntut Izin Angkut Pemumpang, Ribuan Ojol Aksi di Balai Kota Bandung
    Pandemi Coivid-19, Pemkot Bandung Belum Izinkan Bioskop Beroperasi
    Refocusing Anggaran Pemkab Bandung sekitar Rp1,2 Triliun, antara Lain untuk Bansos
    Soal Pembukaan Tempat Hiburan di Kota Bandung, Interaksi Pengunjung Masih Jadi Kendala
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Imani Center
      Buku Wagun
      walikota

      Info Kota


      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads