web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


    Gong Xi Fa Chai
    canva.com gong xi fa chai

    Gong Xi Fa Chai

    • Selasa, 5 Februari 2019 | 05:40:00 WIB
    • 0 Komentar

    SELASA (5/2/2019) ini merupakan hari istimewa bagi orang-orang Tionghoa atau keturunan China di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di hari ini, lebih dari 2 miliar lebih warga etnis China merayakan Tahun Baru Imlek 2570 yang menandai datangnya Tahun Babi Tanah.

    Imlek yang dirayakan sejak 221 SM ini merupakan hari raya paling penting bagi masyarakat China. Ada 2 alasan utama Tahun Baru Imlek dirayakan yaitu yang pertama untuk merayakan hasil kerja keras setahun lamanya bersama keluarga serta untuk mengharap keberuntungan di tahun berikutnya.

    Sesuai tradisi Imlek perayaan yang paling utama adalah reuni bersama seluruh anggota keluarga, bagi-bagi angpao, makan malam bersama, pesta kembang api atau lampion dan membuat ragam pernak-pernik berwarna merah. Karena warna ini dipercaya sebagai warna keberuntungan.

    Perayaan Imlek pun cukup meriah karena diperingati oleh hampir 1/5 penduduk dunia. Demikian pula, Tahun Baru Imlek telah menjadi bagian dari budaya tradisional Indonesia. Perayaan Imlek di Indonesia bahkan sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu, ketika nenek moyang warga keturunan China datang ke Tanah Air

    Tahun demi tahun, setiap jatuh pada hari Imlek, warga etnis Tionghoa merayakannya. Kendati tak seramai perayaan Hari Raya Idul Fitri, mereka pun melakukan silaturahmi dan saling mengunjungi sesama keluarga. Bahkan sebagian dari mereka, juga melakukan tradisi mudik, seperti umat Islam saat Lebaran, atau orang Tionghoa di tanah kelahiran mereka di daratan China sana.

    Namun, kemeriahan Imlek di Tanah Air sempat tidak terdengar sejak Orde Baru berkuasa. Saat itu, Presiden Soeharto melarang segala hal yang berbau Tionghoa termasuk merayakan Tahun Baru Imlek, melalui Inpres No 14/1967.

    Warga keturunan Tionghoa akhirnya kembali mendapatkan haknya merayakan Imlek ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres produk Orde Baru tersebut pada tahun 2000, yang dilanjutkan dengan mengeluarkan Keppres No 19/2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Dan akhirnya pada 2002 lalu, Imlek resmi dinyatakan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

    Memang perayaan Imlek di Tanah Air tidak semeriah di negeri asalnya, China. Namun, Hari Raya yang diperingati lebih dari 3 juta warga Tionghoa dari berbagai agama ini, tetap istimewa. Tahun Baru Imlek dikenal juga sebagai Festival Musim Semi dan di Tiongkok merupakan hari libur resmi selama sepekan lamanya dan akan diakhiri oleh Festival Cap Go Meh yang merupakan puncak rangkaian tradisi perayaan Imlek yang jatuh pada hari ke-15 pada tahun yang baru. Pada Festival Cap Go Meh tarian Barong Sai atau Tarian Liong serta pesta lampion akan mendominasi kemeriahan festival.

    Berbagai acara digelar dalam perayaan yang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 hingga tanggal 15 bulan pertama (Cap Go Meh) ini. Seperti sembahyang Imlek, sembahyang kepada Thian, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini, tak lain sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

    Hari Raya Imlek pun merupakan momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali dalam setahun. Anggota keluarga akan bersilaturahmi, saling berbagi dan memberikan pengalaman selama setahun. Perayaan ini menjadi sangat berarti ketika setiap anggota keluarga dan tetangga saling menjalin kasih, saling mengayomi, dan memulai lembaran baru.

    Keberadaan etnis Tionghoa, dengan tradisi Imlek-nya tentunya menambah khasanah budaya Indonesia yang beragam. Berdasarkan UU No 12/2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, Tionghoa digolongkan sebagai salah satu suku dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena, memang Indonesia dibangun dari keberagaman etnis-etnis yang ada.

    Ramalan Shio di Tahun Babi Tanah 2019: Shio Babi Jangan Terlalu Baik

    Dalam tradisi Tionghoa, setiap tahun diberi nama menurut salah satu dari 12 hewan, yang termasuk dalam zodiak Tionghoa atau disebut shio. Dan shio di Tahun Baru Imlek 2019 ini adalah Babi Tanah. Babi adalah shio ke-12 atau terakhir dari semua hewan zodiak.

    Tahun Babi Tanah sendiri menurut kalender Tiongkok akan berjalan mulai hari Selasa, 5 Februari dan berakhir pada hari Jumat, 24 Januari 2020. Tahun Babi Tanah datang tepat setelah Tahun Anjing Tanah (2018) dan sebelum Tahun Tikus Logam (2020). Orang-orang bershio Babi kemungkinan lahir pada tahun 1935, 1947, 1959, 1971, 1983, 1995, 2007, 2019, dan 2031.

    Berdasarkan Astrologi China yang ditetapkan Dinasti Han pada kalender lunar China, pada Tahun Baru Imlek 2019 yang dikenal sebagai Tahun Babi dengan unsur Tanah (Bumi) menjanjikan keberuntungan dan berkat bagi semua tanda zodiak China, baik dari sisi karier, persahabatan, dan juga percintaan. Hal ini diyakini karena karakter Shio Babi yang menarik kesuksesan di semua bidang kehidupan. Tahun ini akan dipenuhi cinta dan kemurahan hati. Pengorbanan diri demi kepentingan orang yang dicintai cenderung akan dirasakan kebanyakan shio tahun ini.

    Namun Tahun Babi Tanah pun dinilai tidak menentu bagi kebanyakan shio, dengan rata-rata perekonomian masyarakat yang kurang baik. Musim kemarau akan lebih lama dari musim hujan. Sementara saat musim hujan datang, langit akan sangat gelap sehingga hasil pertanian cukup buruk. Hal tersebut juga kerap dikaitkan dengan elemen tanah yang katanya menggambarkan ketidakberuntungan.

    Tahun Babi Tanah akan menjadi tahun yang kurang harmonis, karena akan ada konflik antara elemen tanah dan air. Elemen tanah yang cenderung stabil, sabar, dan bertanggung jawab, akan bersinggungan dengan sisi negatif dari elemen air yang pesimistis dan gelisah, ceroboh, dan begitu sensitif.

    Di luar pemaknaan Tahun Babi Tanah ini, tentunya perayaan Imlek ini harus dijadikan momen untuk lebih meningkatkan persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Imlek ini bukan hanya harus dimaknai oleh warga etnis Tionghoa, namun oleh seluruh warga negara Indonesia (WNI) dari etnis lainnya.

    Konflik-konflik yang dipicu perbedaan etnis, seperti yang terjadi di masa lalu, diharapkan tidak pernah terjadi lagi di Tanah Air kita ini. Kemeriahan Imlek ini diharapkan bisa lebih memperkokoh kebhinekaan Indonesia, dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar. Selamat Tahun Baru Imlek 2560. Gong Xi Fa Chai. (*)

    Oleh: deni mulyana sasmita / den

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Tahun Baru Hijriah, Pererat Silaturahmi Toleransi
    Dirgahayu Republik Indonesia ke-74 Tahun
    Mari Kita Berkurban
    • Mari Kita Berkurban

      SEKITAR 2,1 miliar umat muslim di seluruh dunia serentak memeringati Hari Raya Idul Adha yang pada 2019 ini jatuh pada hari Minggu Selengkapnya..

      • 11 Agustus 2019
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah
    Marhaban Ya Ramadan

    Editorial



      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Manchester City 38 98
      2. Liverpool 38 97
      3. Chelsea 38 72
      4. Tottenham Hotspur 38 71
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Bali United 17 41
      2 PS Tira Persikabo 18 34
      3 Madura United 19 31