Hot News


JN-TAM

Inspirasi


    Bendera

    Bendera

    • Jumat, 27 Januari 2017 | 16:04:00 WIB
    • 0 Komentar

     

    BENDERA merah putih, dengan tulisan lafadz kalimat tauhid, kini sedang menjadi ramai diperdebatkan. Polisi menyidik adanya bendera itu dan sudah menyatakan tersangka. Meski kemudian dibebaskan kembali, namun perkara ini masih menjadi perdebatan di media, baik media sosial maupun di media massa.

    Yang menjadi persoalan, kasus seperti ini tidak hanya terjadi pada bendera bertuliskan kalimat laillahaillah. Namun juga ada kasus-kasus lain, yang ternyata tidak diproses hingga kini. Publik menuntut keadilan, memperlakukan hal yang sama dengan kasus  bendera lain yang serupa. Namun polisi memiliki alasan sendiri dan menyatakan akan memproses kasus lainnya, meski berbasa-basi akan mendalami terlebih dahulu.

    Persoalan bendera ini sebenarnya sangat menarik. Dalam undang-undang tentang bendera, masyarakat tidak hanya dilarang menuliskan kata-kata, gambar, atau bentuk lain di dalam kain merah putih itu. Bendera kebangsaan harus mulus berwarna merah dan putih, tanpa ada tambahan dan bentuk apapun. Undang-undang dengan tegas menjelaskan warna bendera dan ukurannya.

    Dalam undang-undang tentang bendera kebangsaa ini juga mengatur tindakan lain yang dilarang, seperti bendera dijadikan bungkus, menjadi lusuh, kusam, dan sobek. Segala tindakan yang melanggar ketentuan itu, bisa ditindak pidana karena melanggar undang-undang. Intinya, berbagai upaya yang dinilai menurunkan atau merendahkan nilai dan martabat dari bendera tersebut, jelas dilarang.

    Bendera adalah simbol, personifikasi, atau bentuk kedaulatan tertinggi dari suatu bangsa. Tak hanya Negara, bentuk perkumpulan yang lebih kecil pun sering disimbolkan dengan bendera. Jadi sangat wajar jika bendera diatur sedemikian rupa, agar bendera memiliki nilai dan harga yang tinggi dari suatu bangsa atau Negara.

    Dengan bendera, Negara hadir dalam berbagai kelompok dan komunitas yang ada di suatu negeri. Setiap hari Senin, misalnya, penghormatan tertinggi diberikan kepada bendera merah putih.  Sikap ini bukan sebuah ritual yang mungkin dinilai melanggar aqidah sebuah keyakinan, namun sebuah bentuk penghormatan kepada Negara. Bendera adalah simbol Negara, dan dalam berbagai kantor, sekolah, pasukan tentara, polisi, bahkan kegiatan ekstra seperti pramuka, Negara dihadirkan sebagai bentuk dari sebuah kedaulatan.

    Dalam kehidupan masyarakat, upaya menghadirkan Negara ini dilakukan sejak para pendahulu kita. Adanya upacara bubur beureum dan bubur bodas, setiap kali akan memberi nama pada bayi yang baru lahir, itu adalah upaya menghadirkan Negara dalam keluarga. Ketika upacara bendera tidak mungkin dikemas di masyarakat, maka simbol Negara dihadirkan dalam bentuk lain; dalam bentuk seni, budaya dan tradisi.

    Bentuk yang paling nyata dalam seni, budaya, dan tradisi ini, adalah saat akan mendirikan rumah, yang biasanya diwujudkan ketika membuat atap genting, bendera sering dibungkuskan pada kayu di ujung atap paling tinggi bangunan rumah. Orang Sunda memasang pada bagian suhunan, yang letaknya di puncak bagian rumah paling tinggi.

    Ironisnya, seni, budaya, dan tradisi yang menghadirkan Negara ini semakin luntur di masyarakat. Tak hanya tuntutan zaman yang semakin modern atau tentang pemahaman modernisasi yang semakin mendesak, namun pemahaman yang menyebutkan musyrik, bid’ah , dan yang lainnya pun turut melunturkan upaya ini.

    Terlepas dari persoalan itu, menjadikan kain merah putih sebagai bungkus pada rangka atap rumah, bisa pula sebagai persoalan hukum positif karena bisa melanggar undang-undang. Dengan tegas dinyatakan ketentuan itu, bendera tak boleh dijadikan sebagai bungkus. Upacara ngadegkeun rumah, yang di antaranya ditandai dengan membungkuskan rangka atap rumah dengan kain bendera, bisa menjadi persoalan yang dihadapi banyak orang.

    Demikian pula dengan bubur merah dan bubur putih, barangkali bisa menjadi persoalan seperti halnya bendera bertuliskan lafadz tauhid dalam bendera. Orang bisa saja berpikiran simbol Negara berupa makanan sebagai upaya merendahkan simbol kedaulatan Negara.

    Sepertinya, perlu ada kajian tentang aturan bendera ini yang lebih lengkap dan lebih jelas, agar simbol kedaulatan Negara tidak hanya menjadi ketentuan undang-undang, namun bisa dihadirkan  simbolnya pada setiap hati masyarkat Indonesia. Kita sepakat, tentunya, bendera merah putih ini harus dijungjung tinggi karena kedaulatan Negara ini tak mudah didapatkan begitu saja. ***

     

    Oleh: ude gunadi / ude

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Berdamai atau Hidup Tanpa Corona
    Jadi Pribadi yang Lebih Baik di Tahun Baru 2020
    Teloransi, Kebersamaan dalam Perbedaan
    Teladani Semangat Pahlawan
    Tahun Baru Hijriah, Pererat Silaturahmi Toleransi
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Liverpool 38 99
      2. Manchester City 38 81
      3. Manchester United 38 66
      4. Chelsea 38 66
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Persib Bandung 3 9
      2 Bali United 3 7
      3 PSIS Semarang 3 6