web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


    Idul Fitri dan Nilai Kemanusiaan

    Idul Fitri dan Nilai Kemanusiaan

    IDUL Fitri merupakan hari besar umat Islam yang sarat dengan nilai kemanusiaan. Ia diperingati setiap tahun sebagai simbol (icon) atas kemenangan manusia melawan hawa nafsu dan keserakahan.

    Kemenangan tersebut diperoleh manusia setelah diuji Tuhan untuk menahan makan, minum, nafsu, dan melatih disiplin diri dengan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan.

    Dengan kata lain Idul Fitri merupakan runtutan proses spiritual seorang muslim menuju kehidupan otentik, yaitu kepekaan terhadap seluruh eksistensi diri. Kehidupan otentik adalah suatu kehidupan suci (the sacred life) yang sadar dan insaf terhadap segala jati diri manusia, baik sebagai hamba maupun anggota masyarakat.

    Makna dasar Hari Raya Idul Fitri Mayoritas umat Islam mengartikan Idul Fitri dengan arti "kembali menjadi suci ", pendapat ini didasari oleh sebuah hadits Rasullullah Saw, yaitu: “Barang siapa yang melaksanakan ibadah shaum selama satu bulan dengan penuh keimanan kepada Allah Swt maka apabila ia memasuki Idul Fithri, ia akan kembali menjadi Fithrah seperti bayi (Tiflul) dalam rahim ibunya " (HR Bukhari ).

    Dalam mendefinisikan idul fitri, terdapat sedikit perbedaan di antara para pakar. Di bawah ini, saya cantumkan perbedaan tersebut dengan tujuan membuka dan memperluas cakrawala pengetahuan yang kita miliki.

    Nasarudin Umar (2007), mengatakan bahwa kata ‘Id berasal dari bahasa Arab dari akar kata ‘ada, kembali. Secara etimologis, Idul Fitri berarti “kembali berbuka.” Ini mungkin juga sekaligus meluruskan pemahaman kita tentang al-fitr.

    Selama ini, Idul Fitri diartikan “kembali ke fitrah.” Sebenarnya yang tepat adalah “kembali berbuka.” Fitr berbeda dengan fitrah. Satu fatarah, satu fitrah memakai ta’ marbutah, sedangkan al-fitr dalam kata Idul Fitri tidak memakai ta’ marbutah.

    Sementara Irsyad (2007), mengatakan bahwa makna Idul Fithri dengan "kembali menjadi suci" tidak sepenuhnya tepat, karena kata "Fitri" apabila diartikan dengan "Suci" tidaklah tepat. Sebab kata "Suci" dalam bahasa Arabnya adalah "Al Qudus" atau "Subhana".

    Oleh karena itu, Idul Fitri dapat ditelusuri minimal dalam tiga pengertian yaitu sebagai berikut; Untuk memperoleh pengertian itu kita bisa memulainya dengan melihat makna asal ungkapan Arab id al-fithr.

    Kata id berasal dari akar kata yang sama dengan kata `awdah atau `awdat-un, `adab atau adat-un dan isti'adat-un. Semua kata-kata itu mengandung makna asal "kembali" atau "terulang" (perkataan Indonesia "adat-istiadat" adalah pinjaman dari bahasa Arab `adat-un wa isti 'adat-un yang berarti sesuatu yang selalu akan terulang dan diharapkan akan terus terulang, yakni, sebagai "adat kebiasaan").

    Dan hari raya diistilahkan sebagai id karena ia datang kembali berulang-ulang secara periodik dalam daur waktu satu tahun. Makna asal kata-kata "fitri" kiranya sudah jelas, karena satu akar dengan kata "fitrah" (fithrah), yang artinya "Pencipta" atau "Ciptaan". Secara kebahasaan, fithrah mempunyai pengertian yang sama dengan khilqah, yaitu "ciptaan" atau "penciptaan". Tuhan Yang Maha Pencipta disebut dengan A-Khaliq, atau Al-Fathir. Sebagai contoh, misalnya kita lihat dalam Al Qur'an: " Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi". (QS Al Fathir 35 : 1)

    Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kata "Idul Fithri" mempunyai minimal tiga pengertian yaitu: Pertama, Kembali ke proses awal penciptaan. Menurut para ahli tasawuf, hakikat manusia dibagi menjadi dua bangunan utama yaitu bangunan jasmani dan bangunan rohani. Bangunan jasmani manusia diciptakan oleh Allah melalui enam proses kejadian yaitu: saripati tanah, saripati mani, segumpal darah, segumpal daging, pertumbuhan tulang belulalang, pembungkusan tulang belulang dengan daging, peniupan Roh-Ku ke dalam janin (QS Al Mu'minun 23: 12 – 14).

    Dengan demikian, berdasarkan firman Allah tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa setiap manusia lahir atau diciptakan pasti akan melalui proses kejadian bayi dalam kandungan yang telah mendapat tiupan Roh dari Allah. Kedua, Kembali ke penciptaan yang awal. Dalam pengertian ini, semua segi kehidupan seperti makan, minum, tidur, dan apa saja yang wajar, tanpa berlebihan, pada manusia dan kemanusiaan adalah fitrah.

    Semuanya itu bernilai kebaikan dan kesucian, karena semuanya berasal dari design penciptaan oleh Tuhan. Karena itu berbuka puasa atau "kembali makan dan minum" disebut fitrah, yang secara harfiah dapat dimaknakan "memenuhi fitrah" yang suci dan baik. Dengan perkataan lain, makan dan minum adalah baik dan wajar pada manusia, merupakan bagian dari fitrahnya yang suci.

    Dari sudut pandang ini kita mengerti mengapa Islam tidak membenarkan usaha menempuh hidup suci dengan meninggalkan hal-hal yang wajar pada manusia seperti makan, minum, tidur, berumah tangga, dan seterusnya. Semua tindakan meninggalkan kewajaran hidup manusia adalah tindakan melawan fithrah, jadi juga tidak sejalan dengan sunnah.

    Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam hari raya Idul Fitri terkandung makna kembali kepada hakikat yang wajar dari manusia dan kemanusiaan. Kewajaran itu adalah pemenuhan keperluan untuk makan dan minum sehingga makna sederhana Idul Fitri dapat diartikan "Hari Raya Makan dan Minum" setelah berpuasa sebulan. Ketiga, kembali ke Sang Maha Pencipta. Jika kita telusuri ke belakang, pangkal mula pengertian Idul Fitri ialah ajaran dasar agama bahwa manusia diciptakan Allah dalam fitrah kesucian dengan adanya ikatan perjanjian antara Allah dan manusia sebelum manusia itu lahir ke bumi.

    Perjanjian primordial itu berbentuk kesediaan manusia dalam alam ruhani untuk mengakui dan menerima Allah, (Tuhan Yang Maha Esa), sebagai "Pangeran" atau "Tuan" baginya yang harus dihormati dengan penuh ketaatan dan sikap berserah diri yang sempurna (Islam). Hal ini digambarkan dalam Al-Qur'an, demikian: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari anak-cucu Adam, yaitu dari pungung-punggung mereka, keturunan mereka dan dia mempersaksikan atas diri mereka sendiri, "Bukankah Aku ini Tuhan kamu? ‘ Mereka semua menjawab :” Benar, kami bersaksi”.

    Demikianlah, supaya kamu tidak berkata kelak pada hari kiamat : "sesungguhnya kami lalai tentang hal ini” (QS Al A 'raf 7 : 127) Karena setiap jiwa manusia menerima perjanjian persaksian itu, maka setiap orang dilahirkan dengan pembawaan alami untuk "menemukan" kembali Tuhan dengan hasrat berbakti dan berserah diri kepada-Nya ("ber-islam").

    Melalui wahyu kepada Rasulnya, Allah mengingatkan akan adanya perjanjian itu, akan kelak di hari kiamat, ketika setiap jiwa menyaksikan akibat amal perbuatannya sendiri yang tidak menyenangkan, dikarenakan tidak mengenal Tuhannya, janganlah mengajukan gugatan kepada Tuhan dengan alasan tidak menyadari akan adanya perjanjian itu.

    Sebab, terkias dengan dunia bawah sadar dalam susunan kejiwaan kita, perjanjian primordial tersebut tidak dapat kita ketahui dan rasakan dalam alam kesadaran, tetapi tertanam dalam bagian diri kita yang paling dalam, yaitu ruhani kita. Maka kita semua sangat rawan untuk lupa dan lalai kepada kenyataan ruhani. "Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan akan menemui Allah sehingga apabila datang Hari Berbangkit dengan tiba-tiba mereka berkata: "Aduhai penyesalan kami atas kelengahan kami (karena tidak mau menemui Allah ketika masih hidup) di dunia"

    Sungguh mereka memikul dosa, amat berat apa yang mereka pikul itu ". (QS Al An 'am 6:31) Biarpun jauh sekali berada dalam bagian-bagian dasar kedirian kita, yang berhubungan dengan alam kejiwaan bawah sadar, namun karena adanya perjanjian primordial itu maka kesadaran kita tetap mempengaruhi seluruh hidup kita. Adanya perjanjian primordial itu, yang sama dengan alam bawah sadar, merupakan asal muasal pengalaman tentang kebahagiaan dan kesengsaraan.

    Kita dapat periksa secara analitis kedirian kita yang terdiri dari paling tidak tiga jenjang kewujudan : pertama, wujud kebendaan atau jasmani (jimani, fisiologis); kedua, wujud kejiwaan atau nafsani (nafsani, psikologis); dan ketiga, wujud kesukmaan atau ruhani (ruhani, spiritual). Pengalaman bahagia atau sengsara yang berpangkal dari keberhasilan atau kegagalan memenuhi perjanjian dengan Tuhan adalah merupakan pengalaman ruhani.

    Hasrat untuk kembali yang paling hakiki ialah hasrat untuk kembali menemui Tuhan, asal segala asal hidup manusia. Terkias dengan hasrat seorang anak untuk kembali kepada orang tuanya yang diwujudkan dalam keinginan naluriah untuk berbakti kepada keduannya, hasrat untuk kembali kepada Tuhan juga disertai dengan keinginan naluriah untuk berbakti atau menghambakan diri ('abda, ber-ibadah) dan berserah diri (aslama, ber-Islam) kepada-Nya.

    Tidak ada bakat atau pembawaan manusia yang lebih asli dan alami dari pada hasrat untuk menyembah dan berbakti. Karena itu semua, maka ada ungkapan suci, "Kita semua berasal dari Allah dan kita semua kembali kepada-Nya" (QS 2:156). Karena itu wajar sekali bahwa seruan dalam Kitab Suci agar semua manusia kembali (ber-inabah) kepada Tuhan sekaligus dibarengi dengan seruan untuk berserah diri (ber-islam) kepada-Nya.

    Secara etimologis, Idul Fitri mengandung arti kembali (id) ke hakikat atau asal (fitri). Ini bermakna, dengan merayakan Idul Fitri setelah sebulan penuh digodok di kawah candradimuka melalui puasa, diharapkan manusia akan kembali ke jati dirinya sebagai seorang insan yang suci, peduli akan nasib sesama, dan taat pada Tuhannya. Di tengah perayaan Idul Fitri ini, hendaknya kita merenungkan bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan, kebodohan, kelaparan, dan membutuhkan pertolongan yang segera.

    Terlebih lagi, dengan kenaikan harga BBM kehidupan rakyat kecil semakin merana dan “susah bernafas”. Di hari-hari menjelang Idul Fitri, mereka harus rela antri, berdesak-desakan, dan bahkan dengan risiko fisik yang mengarah pada kematian, hanya untuk mendapatkan subsidi Rp 100.000 yang dibagikan oleh pemerintah. Ironisnya, di saat seperti ini justru lembaga-lembaga tinggi negara seperti kepresidenan dan wakilnya, mendapat tunjangan triliunan rupiah.

    Yang tak kalah menyakitkan, para anggota DPR justru tanpa malu meminta tambahan tunjangan Rp 10 juta dengan dalih untuk meningkatkan kinerjanya. Maka, dalam Idul Fitri ini, seyogyanya kita--utamanya pihak-pihak yang merasa melakukan--membuka kembali beberapa dokumen tentang "kesalahan-kesalahan" sejarah yang--sengaja atau tidak--kita lakukan dan banyaknya kebiadaban-kebiadaban di muka bumi yang kita saksikan dan biarkan terjadi begitu saja. Berbagai hal itu tentu banyak kurang kita sadari, meski pada hakikatnya sudah diketahui.

    Dengan kecenderungan kita yang hidup secara individualis dan materialis, biasanya kesengsaraan yang diderita dan dirasakan orang lain hanya dianggap sebagai angin lalu yang akan berakhir ketika tiba waktunya.

    Maka, mulai sekarang, kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia, berbuat baik untuk mengisi waktu luang, dan senantiasa peduli dan membantu meringankan penderitaan orang lain.

    Ukuran apakah kita menyambut dan merayakan Idul Fitri dengan penuh penghayatan dan kepedulian terhadap sesama, paling tidak bisa diukur dari bagaimana persepsi dan pemaknaan kita terhadap puasa dan zakat fitrah yang kita keluarkan. Maksudnya, bila puasa hanya kita anggap sebagai bulan "cuci dosa" dan zakat dianggap sebagai lembaga money laundering saja, tentu Idul Fitri yang kita rayakan hanya sekadar basa-basi saja.

    Kita akan menyambut dan merayakan Idul Fitri secara simbol dan substansi, jika kita sudah mampu menganggap amal-amal yang kita lakukan sebelumnya itu sebagai sebuah pelatihan intensif yang mesti dipraktikkan pada waktu selanjutnya.

    Dengan begitu, Idul Fitri akan menjadi sebuah hari kemenangan melawan hawa nafsu dan kerakusan yang setiap hari banyak menghampiri dan menemani kita. Nilai Kemanusiaan Tanpa kita sadari, dalam kehidupan keberagamaan kita sehari-hari, takbiran hanya dimaknai sebagai sebuah ritual yang dilakukan saat menjelang dan dalam shalat.

    Padahal, takbir adalah ucapan pengakuan atas kebesaran Tuhan yang melampaui semua bentuk kebesaran yang lain. Betapa tanpa kita sadari, seringkali kita merasa dan menganggap bahwa banyak hal lain yang lebih besar dari Tuhan.

    Akhirnya, Tuhan hanya kita hampiri dan tengok saat menjelang dan waktu shalat. Fenomena takbir yang hanya untuk membela Tuhan dan membesarkan-Nya secara simbolis, tampak kita saksikan akhir-akhir ini.

    Betapa tidak sopan dan menggelikan, ketika sekelompok orang yang mengatasnamakan pemilik kebenaran menyerang kelompok lainnya yang dianggap sesat dan menyesatkan. Mereka dengan bangga menyebut dirinya sebagai polisi pengawal akidah dan kebenaran. Selain itu, tindakan yang dikeluarkan setelahnya oleh kelompok yang sering dianggap punya otoritas, justru bukan berupa evaluasi dan koreksi terhadap kesalahan tindakan yang tidak beradab itu, tapi malah mengeluarkan fatwa keagamaan yang justru memperuncing keadaan.

    Ironisnya, pengeluaran fatwa yang jauh dari problem nyata masyarakat sehari-hari seperti soal kemiskinan, kelaparan, pendidikan, anak jalanan, dan penggusuran; tanpa melalui proses pengkajian yang mendalam dan kesediaan diri untuk membuka mata terhadap pendapat kelompok lainnya.

    Mestinya, justru umat beragama lebih cerdas dalam mempraktekkan model keberagamaan yang menghargai toleransi, mengakui pluralitas, memperkaya dialog, dan memperbanyak kerjasama, baik dalam kelompoknya sendiri maupun dengan agama lainnya.

    Sikap untuk saling memahami dan mengakui pluralisme keagamaan adalah kunci untuk memperkaya pergaulan dan keingintahuan kita. Jangan sampai, aksi-aksi kekerasan yang dilakukan atas nama agama mengancam kehidupan dan kesadaran kita semua.

     Akhirnya, semoga Idul Fitri kali ini menjadikan kita semua kembali beragama sesuai hati nurani. Yaitu dengan mengembangkan keberagamaan yang menghargai sesama, menolong mereka yang lemah, memberi bantuan pada yang papa, dan melakukan aksi pembebasan terhadap segala bentuk ketidakadilan. Wallahul ‘alam. (*)

    Agustani Kirtadiredja

    Bekerja di Yayasan Pendidikan Assalam, Kota Bandung.

     

     

     

    ude

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Memaknai Arti Kemerdekaan di Era Disrupsi
    Menikah dan Perjuangan
    Persuasive Relationship untuk Pasutri
    Jangan Seduh Susu dengan Air Panas. Ini Alasannya
    'Ideologi Kaum Alay', Mengancam Masa Depan

    Editorial


    • Teladani Semangat Pahlawan
      Teladani Semangat Pahlawan

      HARI Minggu (10/11/2019) ini bangsa Indonesia memeringati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November mencatat peristiwa besar.


      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Liverpool 12 34
      2. Leicester City 12 26
      3. Chelsea 12 26
      4. Manchester City 12 25
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Bali United 26 57
      2 Persipura Jayapura 26 44
      3 Madura United 27 44