PT POS

Hot News


Opini


  • Urgensi Perubahan RTRW Jawa Barat
    Urgensi Perubahan RTRW Jawa Barat

    TERKAIT penataan ruang, amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja memang berbeda dengan amanat UU 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

    Anak-anak Atuler ke Sekolah lalui Tebing Curam



    Anak-anak Atuler ke Sekolah lalui Tebing Curam

    JuaraNewsKondisi infrastruktur tak memadai ternyata tak hanya terdapat di Indonesia. Di China pun masih banyak desa terpencil yang kondifisi infrastrukturnya sangat memprihatinkan. Akibat kondisi itu, anak-anak sekolah di Negeri Panda harus menempuh perjalanan berbahaya dan mengerikan.

    Sejumlah media, baik lokal maupun internasional belum lama ini mengangkat kisah dan foto perjuangan sejumlah anak sekolah di Desa Atuler, Provinsi Sichuan, China yang harus mendaki bukit dan memanjat tebing batu curam 90 derajat agar bisa sampai sekolah. Sedikit saja salah melangkah dan terpeleset, nyawa taruhannya.

    Foto-foto siswa merayap di tebing curam agar dapat sampai ke sekolah dan pulang ke rumah yang diabadikan Chen Jie, fotografer Beijing News diunggah oleh beberapa media, seperti The Guardian. Perjalanan paling berbahaya di dunia untuk sampai ke sekolah itu menjadi viral di dunia maya.

    Sebenarnya jarak antara sekolah dengan desa para siswa tak terlalu jauh, tapi medan yang harus ditempuh tidak mudah. Ketiadaan infrastruktur memadai di desa ini terjadi karena Atuler berada di pegunungan terpencil. Cukup sulit untuk membangun jembatan di wilayah ini. Yang paling memungkinkan adalah kereta gantung.

    Sejak foto-foto perjuangan para siswa berangkat dan pulang sekolah melewat tebing curam yang paling berbahaya itu diberitakan secara luas, Pemerintah Provinsi Sichuan berjanji akan membangun infrastruktur memadai untuk warga Desa Atuler.

    Chen Jie merupakan salah satu fotografer andal. Para 2015, dia meraih penghargaan dari World Press Photo untuk karya jurnalistik mengabadikan ledakan mematikan di Tianjin, China. “Saya tahu kenyataan mengerikan yang harus dialami anak-anak Desa Atuler dari WeChat. Saya berharap foto-foto saya dapat mengubah kondisi tersebut,” kata Chen.

    Berbekal alamat Desa Atuler, Chen berangkat. Di sekolah di desa miskin dan terpencil yang dihuni 72 keluarga itu, Chen menghabiskan waktu tiga hari untuk mengabadikan realitas kehidupan warga, termasuk aktivitas anak-anak sekolah. Bahkan Chen mencoba menapaki satu persatu anak tangga dan merayap di tebing curam seperti yang dilakukan anak-anak sekolah dari Desa Atuler. “Ini sangat berbahaya. Anda harus 100% hati-hati. Sedikit saja melakukan kesalahan, Anda akan jatuh ke jurang,” ujar Chen.

    Kepala Desa Atuler Api Jiti mengatakan, pemerintah desa tak memiliki dana untuk membangun sekolah sehingga anak-anak terpaksa bersekolah di desa tetangga yang terletak di puncak gunung. Sementara, Desa Atuler terletak di sebuah lembah. “Tujuh atau delapan warga desa telah tewas akibat jatuh ke jurang saat meniti tebing curam itu,” kata Api. (*)

    Oleh: akbar aulia / bar

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Kilauan Cahaya di Interchange Kertajati Tol Cipali, Fenomena Apakah Itu?
    Cedera Fibula, Ini yang Terjadi pada Kaki Atlet atau Pemain Bola
    Vaksin Covid-19 Mengandung Mikrochip Magnetis, Ini Penjelasan Kemenkes
    Selama Ini Banyak yang Bertanya-tanya, Aprilia Manganang Dipastikan Seorang Laki-laki
    Sanghyang Tikoro, Terowongan Air tempat Kebocoran Danau Purba Bandung
    Berita Terdahulu

    Data Statik Covid-19


    DATA COVID-19 INDONESIA

    😷 Positif:

    😊 Sembuh:

    😭 Meninggal:

    (Data: kawalcorona.com)

    Ads