Polisi Bongkar Praktik Penjualan Ginjal di Bandung
net Kombes Pol Umar Fana saat ekspose di Mabes Polri

Polisi Bongkar Praktik Penjualan Ginjal di Bandung

JuaraNews, Jakarta - Penyidik Polda Jabar dan Bareskrim Polri membongkar praktik penjualan ginjal di Bandung. Tiga orang ditangkap dan dijadikan tersangka.

Terbongkarnya kasus ini bermula saat polisi tengah menyelidiki satu kasus di Polres Garut. Penyidik menemukan seorang tahanan yang meringkuk dan menggigil. Polisi yang penasaran dengan kondisi tahanan berinisial S itu sempat bertanya.

"Dan dia ngaku ginjalnya sudah diambil. Akhirnya kita nego dengan Polres Garut. Kita bongkar kasusnya. Kita jadikan dia whistle blower. Kita bawa ke rumah sakit untuk pengecekan foto, benar tinggal satu (ginjal). Setelah itu kita dalami," ungkap Kepala Subdir III Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Pol Umar Fana di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo  Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Setelah melakukan pendalaman, polisi menemukan tiga nama yang diduga terlibat dalam praktik jual beli ginjal ini. Ketiga nama itu yakni AG dan DD sebagai perekrut korban dan HR penghubung antara perekrut ke rumah sakit di Jakarta.

Dari keterangan HR diketahui praktik jual beli ginjal sudah dilakukan sejak 2008. Saat itu, HR awalnya hanya membantu seseorang untuk transplantasi ginjal.

"HR ini awalnya bantu yang pertama kali. Dia bantu cari korban atau pendonor tapi tidak dapat imbalan sama sekali. Akhirnya dia buat jaringan sehingga korban kedua dan seterusnya sudah ada pembayaran," beber Umar.

Umar mengatakan, korban pendonor ginjal ditawari uang Rp70 juta sampai Rp90 juta. Sedang HR, sebagai jembatan antara perekrut dan rumah sakit di Jakarta menjual ginjal ke pembeli seharga Rp225 juta sampai Rp300 juta. Harga ini di luar biaya operasi kurang lebih Rp100 juta yang ditanggung pembeli.

Penyidik sendiri masih menyeldiki keterlibatan sejumlah rumah sakit dalam kasus ini. Pasalnya, sebelum dilakukan pencakokan, korban atau pendonor dibawa ke rumah sakit, yakni di Garut dan Bandung, untuk pengecekan. Setelah itu, korban dibawa lagi ke rumah sakit di Jakarta untuk cek darah, USG, cityscan kemudian dibawa ke rumah sakit utama untuk operasi.

Dalam proses itu, dokter dan rumah sakit seharusnya melakukan wawancara, namun proses itu dihilangkan. Dalam wawancara sebelum pencakokan, seharusnya diketahui jika korban adalah pekerja kasar dan tidak sedarah. Salah satu pantangan ketika cangkok ginjal dilakukan.

"Mekanisme pengambilan organ sudah dilanggar karena sebelum proses, harusnya wawancara. Terutama soal kerjanya, pekerja kasar harusnya enggak boleh, kecuali untuk keluarganya sendiri. Kemudian prioritas keluarga sedarah, karena tidak ada penolakan dari penerima ginjal, kan sejarah yang akan diketahui. Itu rules yang dilanggar," beber Umar.

Umar menduga sudah ada kerja sama antara pelaku HR sebagai jembatan rumah sakit di Jakarta dengan pihak rumah sakit. Hal ini lantaran diketahui ada komunikasi intens keduanya.

"Yang terjadi sekarang, permintaan ini, indikasinya, muncul dari rumah sakit. RS call HR kemudian HR kontak DD dan AG untuk rekrut," tambah Umar.

Hingga kasus ini terbongkar, polisi sudah menemukan 15 korban. Mereka tersebar di wilayah Garut Selatan, Bandung Selatan, dan Soreang, Kabupaten Bandung.

Ke-15 korban, kata Umar, berusia 20-30 tahun dengan pekerjaan petani, sopir, dan tukang ojek. "Kita menduga masih ada lagi korban, sedang kita dalami," beber Umar.

Ketiga pelaku dijerat dengan Pasal 2 ayat (2) UU No 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. (*)

den

0 Komentar

Tinggalkan Komentar


Cancel reply

0 Komentar


Tidak ada komentar

Berita Lainnya


Gubernur Jabar Fasilitasi 73 Tenaga Medis Perawat Pasien Covid19 di Hotel Prama Grand Preanger
Pemkot Bandung Siapkan Rp298,2 Miliar Tanganani Covid19
Pemkot Bandung Jadikan TPU Cikadut Lokasi Pemakaman Jenazah Covid19
Surat Edaran Direvisi,Toko Modern di Kota Bandung Tutup Pukul 20.00
Jabar Bergerak Salurkan Seribu Sembako untuk Warga Terdampak COVID-19

Editorial


    Info Kota