Hot News


JN-TAM

Inspirasi


  • Dirgahayu Sat Linmas ke-58
    Dirgahayu Sat Linmas ke-58

    NEGARA Republik Indonesia lahir melalui perjuangan bangsa dan pahlawannya yang melepaskan diri dari penjajahan dan sejajar dengan bangsa di dunia.

     Waspada, Teroris Ada di Sekitar Kita
    youtube

    Waspada, Teroris Ada di Sekitar Kita

    • Jumat, 15 Januari 2016 | 19:45:00 WIB
    • 0 Komentar

    TERORIS seolah mustahil dihilangkan di negeri ini. Puluhan kaum teroris telah ditangkap dan dieksekusi, tapi pelaku teror lagi-lagi muncul. Kelompok teroris satu tumpas, muncul lagi kelompok baru. Seperti kehadiran kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang menggantikan eksistensi Al-Qaeda, termasuk juga di Indonesia

    Aksi teror terkahir yang diyakini dilakukan kelompok pendukung ISIS terjadi di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016) siang. Dalam aksi pengeboman dan penembakan yang dilakukan 5 teroris tersebut, 7 orang tewas, termasuk kelima pelaku, serta mengakibatkan 24 orang lainnya luka ringan dan berat, termasuk 6 polisi yang terkena bom dan tembakan.

    Bak patah tumbuh hilang berganti, mereka terus beregenerasi sehingga teror seakan tak lepas menghantui bangsa Indonesia. seperti kasus Bom sarinah yang diduga kuat diotaki oleh Bahrun Naim. Bahrun sendiri bukan nama baru. Buronan kasus terorisme ini sempat tercatat bergabung dengan Jamaah Anshorut Tauhid, sekitar September 2008. Pada Juni 2011, warga Pasar Kliwon, Solo, ini diganjar 2,5 tahun penjara. Juni 2012, dia menghirup udara bebas. Lama tidak terdengar aktivitasnya, aparat kepolisian mendeteksi keberadaan Bahrun Naim di Suriah pada 2014, setelah sebelumnya bergabung dalam kelompok pendukung ISIS di Solo.

    Yang menyedihkan kini, terorisme tidak lagi hanya menyasar orang-orang asing di Indonesia yang dicap sebagai musuh umat Islam. Seperti kasus bom Bali 1 dan 2 yang menelan korban ratusan warga negara asing, atau bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot di Jakarta yang banyak dihuni orang asing, khususnya dari Amerika, atau pengeboman sejumlah kedutaan asing.

    Sejak beberapa tahun lalu, teroris justru menyasar bangsa Indonesia sendiri, khususnya aparat kepolisian yang getol menumpas para pelaku teror. Kita masih ingat dengan bom bunuh diri di Masjic Adz Dzikra di Markas Polres Cirebon Kota pada Jumat, 15 April 2011 silam. Bom yang diledakkan M Syarif saat Salat Jumat ini melukai 21 orang, yang sebagian besar anggota Polri.

    Parahnya, aksi teror yang diperagakan kelompok ISIS ini dilakukan secara terbuka. Tanpa mengenal takut, mereka tampil di kerumunan massa dan menembaki orang-orang di sekitarnya, terutama aparat. Seperti dilakukan pelaku teror di Sarinah, Kamis (14/1/2016) siang. Setelah meledakan 6 bom, para teroris melakukan penembakan kepada polisi dan warga, hingga akhirnya terjadi baku tembak dengan petugas yang berakhir dengan tewasnya mereka.

    Di lain pihak, reaksi aparat keamanan, dalam hal ini Polri dibantu TNI dan elemen masyarakat lainnya, patut diacungi jempol. Tidak kurang dari 4 jam setelah bom meledak, Polri sudah bisa menguasai keadaan sepenuhnya. Bahkan untuk melumpuhkan pelaku teror yang tersisa, Polri hanya butuh tidak lebih dari 30 menit, dan berhasil menembak mati pelaku.

    Selang beberapa belas jam, tim Densus 88 Antiteror pun berhasil menangkap 6 terduga teroris, masing-masing 3 orang di Cirebon dan 3 lainnya di Depok. Kendati belum diketahui benar, apakah mereka terkait Bom Sarinah atau tidak.

    Sebelumnya, Densus juga menangkap 3 terduga teroris yang diduga terkait bom Tahun Baru di Bandung. Ketiganya yakni  MS, AA, dan AS yang ditangkap di Jakarta Utara dan Ciwidey Kabupaten Bandung pada 8-9 januari 2016. Bahkan jauh sebelum Tahun Baru, petugas juga menciduk 2 terduga teroris di Tasikmalya bernama Asep Urip (31) dan Zaenal (35) pada 18 Desember 2016. Keduanya diduga bakal menebar aksi teror di malam Tahun Baru.

    Sepanjang 2015 lalu, Polri telah menangkap 74 orang terkait kasus terorisme. Sebanyak 65 orang di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka dan tengah menjalani proses penyelidikan. Adapun 9 orang lainnya, dipulanglan karena tak cukup bukti.

    Sedangkan sejak 2000, total Polri telah berhasil menangkap 1.064 terduga teroris. Dengan rincian 104 tersangka meninggal di TKP, 12 pelaku bom bunuh diri, 3 orang dieksekusi mati, 30 orang dalam proses penyidikan, 299 orang telah divonis, 451 orang telah bebas dari hukuman dan sudah keluar dari penjara, dan 95 orang dikembalikan karena tidak cukup bukti.

    Dalam operasi pemberantasan terorisme ini, tak kurang dari 102 polisi menjadi korban dalam kurun waktu 2004 sampai 2015. Dari jumlah itu, 35 orang meninggal dunia dan 67 orang mengalami luka-luka.

    Apa artinya serangkaian serangan bom dan teror, termasuk Bom Sarinah kali ini? Satu yang pasti adalah, terorisme masih menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Itu artinya bahwa rakyat dan bangsa Indonesia harus senantiasa mewaspadai terjadinya aksi terorisme.

    Teroris yang menyebut diri berjihad dan mengatasnamakan Islam, senantiasa ada di sekitar kita dan siap beraksi di saat kita lengah. Kewaspadaan ini bukan hanya harus dilakukan aparat keamanan, tapi juga seluruh lapisan masyarakat. Karena masyarakatlah yang lebih mengetahui kondisi lingkungannya sendiri. Ketika ada orang-orang tak dikenal yang mencurigakan, pasti masyarakat yang pertama kali bersentuhan dengan mereka.

    Sampai kapan aksi terorisme ini berlangsung di Bumi Pertiwi ini? Tentunya untuk mengakhiri aksi biadab kaum teroris ini perlu kerja keras dari para aparat keamanan, baik itu Polri, BNPT, maupun TNI. Namun selain aparat keamanan, masyarakat pun sangat berperan sentral dalam mencegah dan mengantisipasi terjadinya aksi terorisme, yang masih berpotensi terjadi di tahun 2016 ini.

    Aksi para pemberantas teroris seperti Densus 88, akan terasa sia-sia, jika tanpa upaya antisipasi dari masyarakat sendiri. Karena seperti pepatah, mati satu tumbuh seribu, begitulah adanya para teroris ini. Belasan teroris berhasil ditangkap atau ditembak mati, tapi puluhan bahkan ratusan teroris baru dilahirkan.

    Gerakan penumpasan terorisme harus menjadi gerakan bersama seluruh rakyat Indonesia, dan harus dilakukan secara sistematis yang menyentuh pada akarnya.

    Semua elemen masyarakat mulai dari aparat keamanan, pemerintah, dan masyarakat harus bersatu padu dalam memerangi terorisme ini. Sehingga tidak ada lagi 1 jengkal pun ruang di Tanah Air ini yang membuat leluasa para teroris untuk melancarkan aksinya. Juga tidak akan lagi lahir para teroris baru di negeri ini. Dan ke depan, diharapkan Indonesia tercinta ini terbebas dari terorisme. (*)

    Oleh: deni mulyana sasmita / den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Berdamai atau Hidup Tanpa Corona
    Jadi Pribadi yang Lebih Baik di Tahun Baru 2020
    Teloransi, Kebersamaan dalam Perbedaan
    Teladani Semangat Pahlawan
    Tahun Baru Hijriah, Pererat Silaturahmi Toleransi
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Liverpool 12 34
      2. Leicester City 12 26
      3. Chelsea 12 26
      4. Manchester City 12 25
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Persib Bandung 3 9
      2 Bali United 3 7
      3 PSIS Semarang 3 6