Bank BJB top banner

Hot News


Opini


  • Mewujudkan Rumah Impian bagi Guru
    Mewujudkan Rumah Impian bagi Guru

    MEMILIKI rumah merupakan impian setiap orang terlebih bagi seorang guru karena rumah termasuk kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

    Tahun Baru, Harga Premium Turun Jadi Rp7.150

    • Kamis, 24 Desember 2015 | 00:26:00 WIB
    • 0 Komentar


    Tahun Baru, Harga Premium Turun Jadi Rp7.150

    JuaraNews, Bandung – Merespons anjloknya harga minyak mentah dunia, pemerintah segera menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Premium dan Solar pada Januari 2016 nanti.

    Mulai 5 Januari, harga Premium akan turun Rp150 dari harga sebelumnya Rp7.300 menjadi Rp7.150 per liter. Sedangkan harga Solar turun Rp750 dari Rp6.700 menjadi Rp5.950 per liter.

    "Harga Premium dari Rp7.300 per liter turun jadi Rp6.950 per liter. Ini harga keekonomian, tapi karena ada pungutan dana ketahanan energi Rp200 per liter untuk Premium, maka harga Premium jadi Rp7.150 per liter," kata Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Sudirman Said di Jakarta, Rabu (23/12/2015).

    "Sedangkan untuk harga Solar dari Rp6.700 per liter harga keekonomiannya saat ini Rp5.650 per liter. Itu sudah termasuk subsidi Rp1.000 per liter, kemudian ditambah dana ketahanan energi Rp300 per liter untuk solar. Jadi harganya Rp5.950 per liter. Harga baru itu berlaku pada 5 Januari 2016," tambah Sudirman.

    Harga minyak dunia saat ini berada di kisaran  US$36.31 per barel versi Nasdaq. Sedangkan asumsi harga minyak mentah dunia di APBN 2015 sebesar US$50 per barel. Harga jual Premium sendiri untuk wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) sebesar Rp7.400 per liter. Sementara untuk luar Jamali sebesar Rp7.300 per liter. Adapun harga solar bersubsidi Rp6.700 per liter.

    Selain menurunkan harga, Dirjen Migas Kementerian ESDM Wiratmaja Puja mengungkapkan, pemerintah juga mempersiapkan mekanisme penetapan batas atas dan bawah harga BBM bersubsidi. Nantinya, meski harga minyak dunia lebih jatuh dari saat ini, harga BBM di Indonesia akan bertahan di titik tertentu. Begitu juga saat minyak dunia kembali menguat.  

    Dulu disebutkan, batasan itu diperlukan supaya pemerintah punya dana cadangan energi. Jadi, saat harga minyak dunia terlalu mahal, pemerintah memiliki uang untuk menyubsidi harga BBM. ''Banyak negara yang sudah menerapkan pola itu. Bisa jadi solusi yang baik,'' terang Wiratmaja, Selasa (22/12/2015). (*)

    den

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Ridwan Kamil Ingatkan Pemuda Hati-hati Pilih Karier di Era Industri 4.0
    Catat, Besok Pos Indonesia Bakal Gelar Program Gratis Ongkir di Seluruh Indonesia
    Aplikasi Agree Telkom Permudah Petani Milenial Kelola Lahan Pangan
    Pemprov Jabar Komitmen Lindungi Pekerja Migran
    Pelaku UMKM Jabar Makin Banyak yang Manfaatkan Pasar Digital
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Pos Indonesia kanan
      iklan qposaja

      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads