JuaraNews, Bandung – Kolaborasi karinding dan gamelan menjadi sorotan dalam Konser Gamelan Dangiang Karinding yang digelar di De Majestic, Jalan Braga, Kota Bandung, Kamis, (18/12/2025).
Konser tersebut merupakan bagian dari trilogi program Dangiang Karinding, sebuah inisiatif yang berfokus pada penguatan fungsi karinding sebagai medium pendidikan sekaligus upaya pelestarian Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Setelah sebelumnya bereksperimen dengan format kolaborasi orkestra pada 2024, edisi kali ini memilih gamelan sebagai medium dialog musikal yang baru.
Baca Juga: Akademisi Unpad: Penyelesaian Konflik Bandung Zoo Harus Utamakan Kepentingan Masyarakat
Eksplorasi ini melibatkan sejumlah komunitas dan seniman, di antaranya Kelas Karinding, Mawang, Rere Macadamiya, Mang Ayi Basajan, Kunstmachy, serta Raya Production.
Kolaborasi lintas generasi dan disiplin tersebut diharapkan mampu menghadirkan bentuk pertunjukan karinding yang segar, tanpa melepaskan akar tradisi yang melekat kuat.
Proses kurasi konser dilakukan secara kolektif oleh Pangauban Karinding, sementara produksi dikelola oleh Yayasan Atap Naung Karsa bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.
Baca Juga: Kejari dan Polda Jabar Tangani Polemik PT BDS BUMD Kabupaten Bandung
Penyelenggaraan konser ini juga bertepatan dengan peringatan empat tahun penetapan karinding sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, menjadi momen reflektif atas perjalanan pelestarian dan pengembangannya.
Dalam pementasan, Konser Gamelan Dangiang Karinding akan membawakan beragam repertoar, mulai dari kaulinan barudak, pupuh Sunda yang akrab di dunia pendidikan, hingga komposisi baru yang mengangkat narasi sejarah dan filosofi karinding.
Kisah-kisah yang bersumber dari naskah klasik seperti Pendakian Sri Ajnyana, Sanghyang Raga Dewata, Pantun Badak Pamalang, Pantun Bogor, Babad Panjalu, turut diolah menjadi sajian musikal.
Baca Juga: Viral Video Asusila di Teras Cihampelas, Satpol PP Bandung Tingkatkan Sidak
Nilai-nilai tentang teknik bermain karinding, semangat aub atau kebersamaan dalam Pangauban Karinding, serta pesan kecintaan terhadap alam dan lingkungan juga menjadi bagian penting dari pertunjukan.
Secara keseluruhan, sebanyak 15 komposisi akan dipentaskan dalam tiga sesi, yang masing-masing menghadirkan tema dan karakter musikal berbeda.
Sesi 1: Pantun, Kaulinan, Balakbak, Dangdanggula, Jurudemung.
Sesi 2: Ki Ajayana, Ki Badak, Ki Lutung, Ki Panjalu.
Sesi 3: Sasakala, Pirigan, Aub, Nusantara, Milik Kita.
Baca Juga: Kirab Karnaval Budaya HUT ke-80 Jabar Terganggu oleh Insiden Rombongan Sekda
Seluruh komposisi tersebut dirancang sebagai materi ajar karinding yang dapat dimanfaatkan di ruang pendidikan formal maupun nonformal. Dengan demikian, konser ini tidak hanya berfungsi sebagai tontonan seni, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran budaya yang berkelanjutan.
Selain konser, rangkaian kegiatan Dangiang Karinding pada hari yang sama juga mencakup konferensi pers dan pameran, yang seluruhnya berlangsung di De Majestic Bandung. Konferensi pers akan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan komunitas, kreator, hingga perwakilan pemerintah daerah.
Sebagai proyek musikal, Dangiang Karinding digarap oleh Kimung, Annisa Retni Maharani, Dafid Muslim Mulya, Asep Hendra Waliyana, dan Mikky Rizky Adiansyah.
Baca Juga: Erwin Ajak Warga Bandung Bangun Budaya Siaga Bencana Sejak Dini
Program ini berakar dari kampanye Pangauban Karinding untuk memperkenalkan karinding kepada anak-anak, remaja, hingga dewasa melalui berbagai medium kreatif.
Dalam jangka panjang, inisiatif ini diarahkan untuk mendorong karinding sebagai instrumen pendidikan nasional, khususnya sebagai muatan lokal di Jawa Barat.
Baca Juga: Libur Nataru 2026, Sopir Angkot di Puncak Dapat Kompensasi
Upaya tersebut diperkuat melalui Kelas Karinding, program pembelajaran lintas usia yang telah berjalan sejak 2008 dan mengintegrasikan nilai budaya, filosofi, kreativitas, serta kepedulian lingkungan.
Melalui Konser Gamelan Dangiang Karinding, komunitas karinding kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan tradisi, sekaligus membuka ruang dialog antara warisan budaya dan konteks kekinian. (dsp)







