JuaraNews, Bandung – Di balik rimbunnya pepohonan lereng Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, tersimpan sisa-sisa kejayaan teknologi komunikasi dunia.
Stasiun Radio Malabar, yang diresmikan pada 5 Mei 1923, bukan sekadar pemancar biasa. Ia adalah jembatan nirkabel pertama yang menghubungkan Hindia Belanda langsung dengan Belanda tanpa perantara kabel bawah laut.
Inovasi Tanpa Kabel: Sebuah Keajaiban Teknik
Sebelum Radio Malabar berdiri, komunikasi ke Eropa sangat bergantung pada kabel telegraf bawah laut yang rawan disabotase atau rusak.
Baca Juga; Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam Sukses Satukan Santri dari Berbagai Pesantren
Dr. Cornelius Johannes de Groot, sang jenius di balik proyek ini, merancang stasiun radio yang memanfaatkan kondisi geografis unik Gunung Puntang sebagai antena alami.
Beberapa fakta teknis yang mencengangkan pada masanya:
Antena Raksasa: Membentang di antara dua bukit, antena ini memiliki panjang sekitar 2 kilometer dengan ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.
Pemancar Arc Poulsen: Menggunakan teknologi pemancar busur listrik berkekuatan dahsyat (2.400 kilowatt), menjadikannya salah satu pemancar radio terkuat di dunia pada awal abad ke-20.
Sapaan Legendaris: Kalimat pertama yang dikirimkan dari stasiun ini adalah “Hallo Bandoeng, Hier Den Haag!”, sebuah momen ikonik yang kemudian menginspirasi lagu terkenal.
Baca Juga: Pemkot Bandung dan Stakeholder Mulai Benahi Kabel Udara Jalan Buahbatu, Wajah Kota Bakal Lebih Rapi
Kehidupan di Lembah Radio
Stasiun Radio Malabar bukan hanya sekadar fasilitas teknis. Di sekitarnya, Belanda membangun kompleks pemukiman mandiri yang dikenal sebagai Kampung Radio. Fasilitasnya tergolong sangat mewah untuk zamannya:
Perumahan Elit: Untuk para insinyur dan operator Belanda.
Fasilitas Sosial: Lapangan tenis, gedung bioskop, hingga kolam renang buatan (Kolam Cinta) yang airnya berasal langsung dari mata gunung.
Pembangkit Listrik Sendiri: Menggunakan turbin hidroelektrik untuk memasok daya besar yang dibutuhkan pemancar.
Baca Juga: PRSSNI Jabar dan Stikom Bandung Perkuat Kompetensi Penyiar Digital
Kehancuran dan Kondisi Saat Ini

Sayangnya, masa jaya Radio Malabar berakhir tragis. Pada masa Perang Dunia II, tepatnya tahun 1946, para pejuang kemerdekaan membakar stasiun ini dalam peristiwa Bandung Lautan Api agar fasilitas strategis tersebut tidak jatuh ke tangan sekutu.
Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing tembok yang ditumbuhi lumut dan pondasi beton yang kokoh. Namun, justru reruntuhan inilah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Wisata Sejarah: Pengunjung bisa menyusuri tapak-tapak bangunan dan membayangkan kemegahan masa lalu.
Wisata Alam: Udara sejuk dan pemandangan asri Gunung Puntang menjadikannya lokasi favorit untuk berkemah (camping).
Stasiun Radio Malabar adalah bukti bahwa Bandung pernah menjadi pusat komunikasi global. Ia adalah simbol ambisi manusia menembus batas ruang dan waktu menggunakan teknologi.
Bagi kita sekarang, Radio Malabar adalah pengingat akan pentingnya inovasi dan pelestarian sejarah di tengah kemajuan era digital.
Baca Juga: Delman: Jejak Transportasi Tradisional yang Menyisakan Romantisme Masa Lalu
Panduan Singkat Wisata & Camping Gunung Puntang
Gunung Puntang berada di Desa Cimaung, Banjaran, sekitar 1,5–2 jam dari pusat Kota Bandung. Akses bisa menggunakan kendaraan pribadi via Banjaran-Cimaung hingga gerbang PGWI, atau transportasi umum dengan angkot Tegallega-Banjaran, lanjut Banjaran-Cimaung, lalu ojek ke lokasi.
Area camping dikelola Perhutani dengan fasilitas cukup lengkap. Tersedia beberapa camping ground, penyewaan tenda dan perlengkapan, serta udara malam yang dingin (10–15°C) sehingga perlu jaket tebal atau sleeping bag.
Spot utama yang wajib dikunjungi: Gedung Pemancar, Kolam Cinta, Gua Belanda, dan Sungai Cigeureuh.
Estimasi biaya 2026: tiket masuk Rp25–35 ribu, camping Rp35–50 ribu/malam, parkir Rp10–25 ribu.
Bagi Anda yang ingin merasakan suasana lebih tenang dan sunyi, sebaiknya berkunjung pada hari kerja. Nuansanya terasa eksotis, bak “kota mati” yang memikat. Sementara itu, saat akhir pekan, kawasan ini biasanya dipadati komunitas motor dan keluarga yang menikmati waktu bersama. (dsp)







