banner 500x188

5 Deretan Sastrawan Besar Indonesia yang Menorehkan Sejarah

Sastrawan sangat memahami dan menguasai dunia sastra. Sebutan ini melekat pada penulis, pujangga, hingga cendekiawan yang menyalurkan gagasan.
Deretan Sastrawan Besar Indonesia yang Menorehkan Sejarah. (foto: Grid Artikel)

JuaraNews, Bandung – Seorang Sastrawan sangat memahami dan menguasai dunia sastra. Sebutan ini melekat pada penulis, pujangga, hingga cendekiawan yang menyalurkan gagasan melalui bahasa dan diksi.

Sejak dahulu, sastra hadir sebagai bagian penting kebudayaan, terus berkembang mengikuti zaman, dan menjadi warisan yang tetap hidup lintas generasi.

Warisan itu lahir di Indonesia, banyak sastrawan besar dengan karya yang menembus batas negeri yang mengagumkan, mereka adalah:

Baca Juga: Wiji Thukul: Penyair Perlawanan yang Hilang

Chairil Anwar: Si Binatang Jalang

Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Ia wafat pada 28 April 1949 di Jakarta akibat penyakit TBC. Meski hidupnya singkat, Chairil menciptakan karya monumental.

Pada usia 19 tahun ia pindah ke Jakarta bersama ibunya dan meneguhkan tekad menjadi seniman. Puisinya berjudul Aku membuat HB Jassin menjulukinya “Si Binatang Jalang.”

Chairil memimpin Angkatan ’45 bersama dua sastrawan lain. Puisinya menyoroti pemberontakan, kematian, individualisme, hingga eksistensialisme.

Baca Juga: Tips Blokir Nomor Tak Dikenal di Android dan iPhone, Anti Spam & Penipuan

Pramoedya Ananta Toer: Penulis Produktif Dunia

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Ia menulis lebih dari 50 karya yang diterjemahkan ke 42 bahasa asing.

Pram belajar di sekolah kejuruan radio di Surabaya lalu bekerja sebagai juru ketik surat kabar Jepang. Ia menyoroti interaksi antarbudaya, dari Belanda, Jawa, hingga Tionghoa.

Banyak tulisannya bernuansa semi-otobiografi dan merekam pengalaman pribadinya. Meski menghadapi kontroversi, Pram terus berdiri sebagai salah satu sastrawan terbesar Indonesia.

Baca Juga: Pegadaian Media Awards Kembali Hadir, Siap-Siap Rebut Total Hadiah Ratusan Gram Emas!

Taufiq Ismail: Penyair Humanis

Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935. Ia tumbuh di keluarga ulama dan menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

Taufiq sering memicu perbincangan, termasuk saat ia mengkritik lagu Bagimu Negeri karya Kusbini. Ia meraih Anugerah Seni dari pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Australia (1977), serta tampil sebagai penyair tamu di berbagai universitas dunia.

Puisinya antara lain Sejadah Panjang 1945, Aku Jadi Orang Indonesia (1982), dan Mencari Sebuah Mesjid (1984).

Baca Juga: Ini Perbedaan Kopi Robusta dan Arabika

WS Rendra: Burung Merak dari Solo

Willybrodus Surendra Broto Rendra, atau akrab dengan nama panggilan WS Rendra, lahir di Solo, 7 November 1935. Ia berkarya sebagai penyair, dramawan, dan tokoh teater. Rendra menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada dan menerima gelar Doctor Honoris Causa.

Julukan “Burung Merak” melekat karena gaya khasnya. Ia menulis puisi, drama, dan esai. Beberapa karyanya seperti Sajak-sajak Cinta, Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang, dan Mawar Gugur hadir dalam berbagai bahasa asing. Rendra wafat di Depok pada 6 Agustus 2009 di usia 73 tahun.

Baca Juga: Lukisan Foto-realis Guntur Timur dan Mariam Sofrina Dipamerkan di Lawangwangi Creative Space

Sapardi Djoko Damono: Penyair dengan Bahasa Sederhana

Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Sastra UGM dan meraih doktor dari Universitas Indonesia.

Sapardi menulis puisi sederhana yang sarat makna kehidupan. Ia mendirikan Yayasan Lontar untuk melestarikan sastra. Puisinya hadir dalam bahasa asing maupun daerah. Sapardi wafat pada 19 Juli 2020 di usia 80 tahun karena gangguan paru-paru.

Nama-nama Sastrawan tersebut telah meninggalkan warisan besar. Karya mereka terus hidup, dibaca, dan diwariskan lintas generasi. Melalui mereka, sastra Indonesia berdiri sebagai identitas bangsa sekaligus pintu menuju dunia. (dsp)